Udara di dalam kamar mandi asrama yang sempit itu terasa lebih berat dari biasanya, seolah-olah uap panas dari air pancuran tadi pagi masih terperangkap di sana, meskipun sekarang hanya ada keheningan yang menyesakkan. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungku yang mendadak liar. Di hadapanku, Tita duduk di tepi kursi plastik kecil dengan handuk yang hanya menutupi bagian atas tubuhnya, sementara kakinya yang jenjang dan putih bersih sedikit terbuka, menungguku.
"Mira, kamu yakin bisa?" bisik Tita. Suaranya gemetar, jari-jarinya meremas pinggiran handuk dengan erat. Sifat perfeksionisnya terpancar jelas dari caranya memposisikan diri; dia ingin semuanya berjalan tanpa cela, tanpa ada satu pun luka goresan yang merusak kulitnya yang mulus.
Aku memaksakan sebuah senyum kecil, berusaha terlihat jauh lebih tenang daripada yang kurasakan. "Tenang saja, Tita. Tadi kamu sudah melakukannya dengan baik padaku. Sekarang giliranku membalas budi. Aku akan sangat hati-hati."
Aku berlutut di antara kedua kakinya, sebuah posisi yang tiba-tiba terasa jauh lebih intim daripada yang kubayangkan saat kami membuat kesepakatan tadi. Jemariku yang sedikit gemetar meraih botol *shaving foam* beraroma stroberi. Begitu aku menekannya, busa putih yang lembut memenuhi telapak tanganku. Aroma manis itu langsung menyerbu indra penciumanku, bercampur dengan aroma alami tubuh Tita yang lembut dan khas.
Dengan gerakan perlahan, aku mulai mengoleskan busa itu ke area sensitifnya. Kulit Tita terasa begitu hangat di bawah ujung jariku. Aku bisa merasakan otot pahanya menegang saat sentuhan pertamaku mendarat. Mataku terfokus pada tugas ini, pada setiap inci kulit yang perlahan tertutup busa putih, namun pikiranku mulai melayang.
Aku belum pernah memperhatikan Tita sedekat ini. Sebagai sahabat, kami sering bersama, tapi melihatnya dalam keadaan seringkih dan sepasrah ini adalah hal baru bagiku. Cahaya lampu kamar mandi yang kekuningan memantul di permukaan kulitnya yang porselen, menonjolkan lekukan tubuhnya yang selama ini tersembunyi di balik kaus longgar dan celana jin.
"Mira?" panggilnya lirih.
"Ya?" Aku mendongak sebentar, menemukan matanya yang besar dan bulat menatapku dengan campuran rasa malu dan kepercayaan. Ada semburat merah di pipinya yang membuat dia terlihat sangat manis.
"Jangan melamun, nanti tangannya terpeleset," tegurnya dengan senyum canggung, mencoba mencairkan suasana.
Aku terkekeh pelan, berusaha mengusir pikiran-pikiran aneh yang mulai merayap. "Iya, tuan putri yang perfeksionis. Aku fokus, kok."
Aku mengambil alat c**ur, membilasnya dengan air hangat, lalu mulai menarik garis pendek dan lembut di kulitnya. Suara gesekan halus pisau c**ur di atas kulit adalah satu-satunya bunyi yang terdengar di ruangan itu, selain napas kami yang mulai tidak beraturan. Aku bekerja dengan ketelitian tinggi, memastikan setiap gerakan searah dengan pertumbuhan rambut, persis seperti yang dia instruksikan tadi.
Namun, semakin lama aku melakukannya, semakin sulit bagiku untuk menjaga jarak profesionalitas ini. Setiap kali ujung jariku yang bebas menahan kulitnya agar tetap kencang, aku merasakan kelembutan yang luar biasa. Fokusku yang awalnya tertuju pada tugas menc**ur, perlahan mulai terdistraksi oleh tekstur kulitnya.
Setelah area itu bersih dari busa, aku seharusnya mengambil handuk kecil untuk menyekanya. Namun, tanganku seolah memiliki keinginan sendiri. Bukannya meraih handuk, jemariku justru bergerak mengusap sisa-sisa busa yang masih tertinggal dengan gerakan yang sangat lambat. Aku ingin memastikan tidak ada yang terlewat, setidaknya itulah alasan yang kuberikan pada logikaku. Tapi jauh di dalam hati, aku hanya ingin terus menyentuhnya.
"Sudah selesai?" suara Tita terdengar parau, hampir seperti bisikan yang tertelan udara.
Aku tidak menjawab. Mataku terpaku pada kontras antara kulitnya yang kemerahan karena sensitif dan sisa busa putih. Aku membelai pangkal pahanya dengan ibu jari, menelusuri garis pinggir yang kini terasa begitu halusβjauh lebih halus dari apa pun yang pernah kusentuh. Sentuhan itu bukan lagi gerakan seorang teman yang sedang membantu perawatan diri. Itu adalah belaian yang penuh rasa ingin tahu, sebuah eksplorasi yang melampaui batas kesepakatan kami.
Tita menarik napas tajam, tubuhnya sedikit tersentak ke belakang, tapi dia tidak menjauh. Sebaliknya, dia justru sedikit membuka kakinya lebih lebar, sebuah reaksi bawah sadar yang membuat darahku berdesir hebat.
"Mira... itu... sudah bersih, kan?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih tidak stabil.
Aku mendongak, dan untuk pertama kalinya, aku melihat pantulan hasrat yang sama di matanya. Rasa malu itu masih ada, tapi tertutup oleh gelombang sensasi baru yang kami berdua tidak tahu cara mengendalikannya. Tanganku yang satunya kini naik, merayap dari lututnya perlahan menuju ke atas, merasakan detak nadi di paha bagian dalamnya yang berdenyut kencang.
"Ada sedikit yang tertinggal di sini," dustaku pelan. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiriβrendah dan penuh muatan emosi.
Aku tidak lagi menggunakan alat c**ur itu. Benda plastik itu tergeletak begitu saja di lant** ubin yang dingin. Kini, hanya ada tanganku yang bergerak lincah, membelai, dan menelusuri setiap inci kulit sensitifnya dengan penuh pemujaan. Aku bisa merasakan Tita mulai gemetar, napasnya menjadi pendek-pendek dan berat. Keheningan di kamar mandi itu kini pecah oleh suara napas kami yang saling memburu.
Tita menyandarkan kepalanya ke dinding dingin di belakangnya, matanya terpejam rapat sementara tangannya yang tadi meremas handuk kini berpindah meremas bahuku, mencari pegangan. Sentuhannya di bahuku terasa seperti api yang menyambar bensin. Aku tahu aku harus berhenti. Aku tahu ini sudah melewati batas. Tapi melihat bagaimana Tita bereaksi terhadap sentuhanku, melihat bagaimana tubuhnya melengkung lembut menyambut belaianku, membuat egoku meronta.
"Mira... jangan berhenti..." rintihnya pelan, hampir tidak terdengar.
Kata-kata itu adalah sebuah undangan sekaligus peringatan. Aku merasakan dorongan yang begitu kuat untuk melakukan lebih dari sekadar membelai. Batas antara persahabatan yang polos dan sesuatu yang jauh lebih gelap serta menggoda kini benar-benar telah kabur. Di bawah lampu temaram kamar mandi ini, Rahasia Kamar 304 bukan lagi sekadar tentang siapa yang menc**ur siapa, melainkan tentang apa yang akan terjadi jika aku membiarkan jemariku menjelajah lebih jauh ke tempat yang seharusnya tidak kuma**ki.
Aku mencondongkan wajahku, hingga napas hangatku menyapu kulit pahanya, dan aku bisa merasakan Tita menahan napasnya, menunggu gerakan selanjutnya yang mungkin akan mengubah segalanya di antara kami selamanya.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!