Udara di dalam Kamar 304 terasa semakin berat, seolah oksigen telah digantikan oleh aroma sabun melati dan sisa panas dari uap air. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, sebuah perkusi cepat yang bertalu di gendang telingaku, menyaingi dengung rendah kipas angin di sudut ruangan. Di bawah cahaya lampu meja yang temaram, semua tampak lebih tajam sekaligus lebih kabur secara bersamaan.
Mira masih di sana, berlutut di antara kedua kakiku yang terbuka di atas handuk putih yang kini terasa kasar di kulitku yang sensitif. Jemarinya, yang baru saja menyelesaikan tugas "merapikan" area pribadiku, tidak segera ditarik kembali. Alih-alih menjauh, ujung jarinya justru mengusap pinggiran kulit yang baru saja dic**ur dengan gerakan seringan sayap kupu-kupu.
"Tita?" bisiknya. Suaranya rendah, hampir tenggelam dalam kesunyian, namun sanggup menyetrum setiap saraf di tubuhku.
Aku menarik napas gemetar, menggenggam sprei asrama yang dingin hingga buku-buku jariku memutih. Logikaku, bagian dari diriku yang selalu menuntut kesempurnaan dan keteraturan, sedang menjeritkan peringatan. *Ini salah. Ini melintasi garis. Persahabatan tidak melakukan ini,* teriak suara di kepalaku. Aku membayangkan wajah orang tuaku, membayangkan penilaian teman-teman kuliah jika mereka tahu apa yang terjadi di balik pintu yang terkunci ini. Ketakutan akan penolakan sosial itu biasanya c**up untuk membuatku mundur ke dalam cangkangku.
Namun, sensasi hangat yang menjalar dari titik sentuhan Mira jauh lebih nyata daripada bayangan-bayangan itu. Sentuhannya bukan lagi tentang estetika atau bantuan praktis. Ada sesuatu yang lain—sebuah eksplorasi yang penuh rasa ingin tahu, sebuah undangan yang tak terucap.
"Mira, aku..." Kalimatku menggantung. Aku ingin mengatakan "berhenti", tapi lidahku terasa kelu.
"Kau bergetar, Ta," gumam Mira. Dia mendongak, matanya yang gelap mencari mataku. Ada kilatan di sana—campuran antara keraguan dan hasrat yang sama besarnya dengan yang kurasakan. "Apa ini terlalu banyak? Haruskah aku berhenti?"
Aku menatapnya, melihat kejujuran di wajah sahabatku. Jika aku mengangguk sekarang, dia akan berhenti. Kami akan membereskan alat c**ur, memakai pakaian kami kembali, dan berpura-pura seolah malam ini hanyalah sesi perawatan diri yang biasa. Kami akan kembali menjadi Tita dan Mira, dua mahasiswi teladan yang mendiskusikan tugas sosiologi besok pagi.
Tapi tubuhku tidak menginginkan kenormalan itu. Perutku melilit, bukan karena mual, melainkan karena rasa lapar yang belum pernah kukenal sebelumnya. Rasa nikmat itu—yang berdenyut di bawah permukaan kulitku—terasa begitu jujur dibandingkan semua topeng yang kupakai setiap hari.
"Jangan," bisikku, hampir tidak terdengar. Aku memejamkan mata, membiarkan pertahananku runtuh sejenak. "Jangan berhenti. Rasanya... enak."
Pengakuan itu terasa seperti menjatuhkan diri dari tebing. Begitu kata-kata itu keluar, tidak ada jalan untuk kembali. Aku bisa merasakan napas Mira tertahan sejenak sebelum dia bergerak lebih dekat. Tekanan jarinya berubah; tidak lagi hanya sekadar usapan ringan, melainkan tekanan yang lebih berani, lebih bermaksud.
Dia mulai menjelajah, mengikuti kontur tubuhku dengan ketelitian yang biasanya aku cadangkan untuk catatan kuliahku. Setiap inci yang dia sentuh seolah-olah menyalakan api kecil di bawah kulitku. Aku merasakan gelombang panas merambat dari pangkal paha hingga ke dadaku, membuat napas asma-ku terasa pendek-pendek.
"Di sini?" tanya Mira lembut, ibu jarinya menemukan titik yang membuatku tersentak kecil.
"Mmm-hmmm..." Aku mengerang pelan, sebuah suara yang tidak pernah kukira bisa keluar dari tenggorokanku. Aku membuang muka, merasa malu karena reaksi tubuhku yang begitu jujur, tapi Mira segera meraih daguku, memaksaku untuk menatapnya kembali.
"Jangan sembunyi dariku, Tita," katanya, suaranya kini lebih mantap. "Lihat aku. Ini hanya kita. Tidak ada orang lain di sini."
Kata-katanya seperti mantra yang membebaskanku. Benar, di dalam kamar ini, tidak ada profesor yang menuntut nilai sempurna, tidak ada orang tua yang menaruh harapan besar di pundakku. Hanya ada Mira, orang yang paling memahamiku selama beberapa bulan terakhir ini.
Aku membiarkan kepalaku jatuh ke belakang, menatap langit-langit kamar yang putih polos sambil menikmati setiap sensasi yang diberikan Mira. Jari-jarinya kini bergerak dalam ritme yang lebih teratur, seolah dia sedang mempelajari bahasa tubuhku, menerjemahkan setiap desahan dan gerakan kecilku menjadi sebuah instruksi. Keheningan malam asrama pecah oleh suara gesekan kulit dan napas kami yang mulai memburu secara sinkron.
Rasa nikmat itu perlahan-lahan mengikis rasa takutku. Pergulatan moral yang tadinya terasa seperti gunung raksasa kini mulai mencair di bawah panasnya sentuhan Mira. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak peduli apakah ini benar atau salah menurut standar orang lain. Yang aku tahu hanyalah bahwa aku merasa hidup, setiap inci sarafku berteriak meminta lebih.
Tangan Mira berpindah, satu tangannya kini bertumpu di pinggangku, meremas pelan, sementara tangannya yang lain terus melakukan keajaiban yang membuat dunia di sekitarku seolah menghilang. Aku merasakan gelombang intensitas mulai berkumpul di perut bawahku, sebuah ketegangan yang menuntut pelepasan yang belum pernah kualami dengan cara seperti ini.
"Mira... aku tidak tahu..." aku merintih, tanganku kini tanpa sadar meremas bahunya, mencari pegangan di tengah badai sensorik ini.
Mira mendekatkan wajahnya ke wajahku, jarak di antara kami hanya beberapa senti. Aku bisa merasakan kehangatan napasnya di bibirku. "Ikuti saja, Ta. Aku di sini. Aku tidak akan ke mana-mana."
Tepat saat itu, sentuhannya menjadi lebih dalam, lebih menuntut, memicu reaksi berant** yang membuat seluruh tubuhku menegang kaku. Namun, di saat aku merasa hampir mencapai puncak yang tak kukenal itu, terdengar suara langkah kaki yang berat di lorong asrama, diikuti oleh suara tawa keras dari kamar sebelah.
Suara itu seperti siraman air es. Aku tersentak, mataku terbelalak lebar saat menyadari betapa tipisnya dinding kamar asrama ini, dan betapa dekatnya dunia luar dengan rahasia yang sedang kami bangun di sini. Tangan Mira terhenti, dia juga mematung, mendengarkan suara di luar dengan napas tertahan.
Kami terdiam dalam posisi yang sangat intim itu, terjebak di antara sisa-sisa kenikmatan yang membara dan ketakutan akan tertangkap basah, sementara pintu kamar 304 terasa tidak lagi c**up kuat untuk melindungi apa yang baru saja kami mulai. Mira menatapku dengan mata penuh tanya—apakah kami harus berhenti di sini, atau justru mengunci pintu itu lebih rapat lagi?
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!