Lampu meja yang berpijar kekuningan adalah satu-satunya saksi bisu bagi punggung Tio yang membungkuk di depan tablet grafisnya. Di luar jendela apartemen lant** tujuh itu, Jakarta tampak seperti hamparan sirkuit elektronik yang retak; lampu-lampu kendaraan merayap lambat, beradu dengan gerimis yang membasahi kaca. Tio menghela napas, jemarinya yang panjang dan sedikit gemetar meletakkan *stylus* di atas meja. Di layar, sketsa seorang wanita tanpa wajah menatapnya balik—sebuah proyek ilustrasi yang tak kunjung selesai selama tiga minggu terakhir.
Ia melirik sudut kanan bawah layar monitor. 23:55. Lima menit lagi menuju angka dua puluh tujuh.
Setiap tahun, ulang tahunnya terasa seperti upacara pemakaman bagi harapan-harapan yang mati. Tidak ada pesta, tidak ada pesan singkat yang memberondong ma**k, kecuali notifikasi otomatis dari bank dan provider seluler yang mengucapkan selamat dengan nada robotik. Tio meraih gelas kopinya yang sudah dingin, menyisakan ampas pahit di lidah. Rasa sepi itu bukan lagi tamu asing baginya; itu adalah kabut tebal yang telah menjadi bagian dari fondasi paru-parunya.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping tumpukan buku referensi anatomi. Jemarinya menelusuri layar, berpindah-pindah antar aplikasi media sosial yang hanya membuatnya merasa semakin kerdil. Di sana, orang-orang merayakan kehidupan, memamerkan tautan tangan, dan tawa yang tampak begitu nyata hingga menyakitkan mata.
Sebuah iklan muncul di sela-sela unggahan foto makanan seorang teman lama. Desainnya berbeda dari iklan kencan biasa yang penuh warna merah muda atau jingga yang norak. Iklan ini memiliki estetika minimalis dengan latar belakang hitam pekat dan aksen perak metalik yang elegan.
*“SoulMatch: Karena Jiwa Tak Pernah Berbohong. Temukan Kecocokan Mutlak Melalui Sinkronisasi Biologis.”*
Tio mendengus pelan, senyum sinis tersungging di sudut bibirnya. "Sinkronisasi biologis? Pemasaran zaman sekarang benar-benar g***," gumamnya pelan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri setelah berjam-jam bungkam.
Namun, jarinya tidak bergerak menjauh. Ada sesuatu yang magnetis dari logo aplikasi itu—sebuah lingkaran yang tidak tertutup sempurna, menyerupai rahim atau mungkin sebuah jerat. Rasa skeptisnya berperang dengan rasa putus asa yang mulai mengambil alih akal sehatnya. Di usia dua puluh tujuh, kegagalan demi kegagalan dalam hubungan sosial telah membuat Tio merasa seperti produk c**** di rak gudang yang berdebu.
Ia menekan tombol unduh.
Proses instalasi berlangsung luar biasa cepat, seolah aplikasi itu memang sudah menunggu untuk menyusup ke dalam perangkatnya. Saat ia membukanya, layar ponselnya meredup sejenak sebelum memancarkan cahaya putih yang intens, membuat Tio harus menyipitkan mata.
*“Selamat datang, Tio,”* tulis aplikasi itu. Tio tersentak. Ia belum mema**kkan nama atau data apa pun. "Mungkin dari akun Google-ku," pikirnya mencoba menenangkan debar jantung yang mendadak liar.
Aplikasi itu meminta izin akses yang tidak biasa: Mikrofon, Kamera, Lokasi, dan yang paling aneh—*Akses Data Biometrik dan Sensor Saraf*. Di bawahnya tertulis catatan kecil: *SoulMatch memerlukan sinkronisasi penuh untuk memastikan frekuensi emosional Anda selaras dengan pasangan yang tepat. Kegagalan sinkronisasi akan menghasilkan kecocokan yang tidak akurat.*
Tio ragu sejenak. Jemarinya melayang di atas pilihan 'Izinkan'. Logikanya berteriak bahwa ini adalah pelanggaran privasi yang ekstrem. Namun, tepat saat itu, jam digital di dinding berdetak ke angka 00:00.
Ulang tahunnya telah tiba. Dan dia sendirian di ruangan berukuran empat kali empat ini, dikelilingi oleh karakter-karakter fiksi yang ia ciptakan karena ia tidak bisa memiliki yang nyata. Dengan satu gerakan penuh kepasrahan, Tio menekan 'Setuju untuk Semua'.
Layar ponselnya mulai berdenyut—sebuah ritme yang anehnya terasa selaras dengan denyut nadi di pergelangan tangannya. *“Mencari Frekuensi Anda...”*
Tiba-tiba, kamera depan ponselnya menyala. Tio melihat wajahnya sendiri di layar; pucat, dengan kantung mata yang menghitam dan rambut yang berantakan. Namun, melalui filter aplikasi itu, wajahnya seolah dipetakan oleh garis-garis cahaya biru yang rumit. Garis-garis itu membedah ekspresinya, membaca kesedihannya, menguliti rasa sepinya.
Lalu, getaran panjang terasa di telapak tangannya. Ponsel itu menjadi panas, hampir membakar kulitnya.
*“Kecocokan 99,9% Ditemukan.”*
Sebuah foto muncul. Tio menahan napas. Wanita di foto itu tidak tampak seperti model katalog yang biasa ia temukan di aplikasi kencan lain. Ia memiliki kecantikan yang... arkais. Rambut hitamnya terurai seperti aliran tinta, kulitnya seputih pualam, dan matanya—sepasang mata gelap yang seolah menatap langsung ke dalam sumsum tulang Tio.
Namanya tertera di bawah foto: Sela.
Di bawah nama itu, ada sebuah tombol bergetar bertuliskan: *Hubungkan Indera*.
Tio merasa tenggorokannya kering. Secara tidak sadar, ia menyentuh layar, tepat pada foto mata wanita itu. Saat kulitnya bersentuhan dengan permukaan kaca, sebuah sensasi aneh menjalar dari ujung jarinya, merambat naik ke lengan, lalu meledak di pangkal tengkoraknya.
Tiba-tiba, aroma bunga melati yang sangat kuat memenuhi ruangan kerjanya. Itu tidak ma**k akal. Apartemennya berbau kopi basi dan pengharum ruangan kimia yang sudah habis sejak seminggu lalu. Namun, wangi melati ini begitu nyata, begitu segar, seolah ada serumpun bunga yang baru saja mekar di atas meja gambarnya.
Bersamaan dengan aroma itu, sebuah bisikan lembut, hampir menyerupai desahan, terdengar tepat di telinga kanannya.
"Tio... kau sudah lama sekali dicari."
Tio terlonjak dari kursinya, membuat gelas kopinya terguling dan isinya tumpah membasahi sketsa di atas meja. Ia menoleh ke belakang dengan cepat, jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan.
Kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya bayangannya yang memanjang di dinding.
Ia kembali menatap ponselnya. Foto Sela kini tampak lebih hidup, seolah wanita itu baru saja berkedip padanya. Di bagian bawah layar, muncul sebuah pesan baru.
*Sela: Aku bisa merasakannya, Tio. Jantungmu berdetak untukku sekarang.*
Tio gemetar. Ia seharusnya takut. Ia seharusnya menghapus aplikasi ini sekarang juga dan melempar ponselnya ke luar jendela. Namun, di tengah teror yang merayap itu, ada sebuah rasa hangat yang tak tertahankan mulai menjalar di dadanya—sebuah rasa diterima yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan.
Ia kembali duduk, mengabaikan tumpahan kopi yang merusak karyanya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mulai mengetik balasan. Namun, sebelum jemarinya menyentuh papan tik virtual, sebuah sensasi tajam menusuk matanya.
Tio memejamkan mata erat-erat, mengerang kesakitan. Selama beberapa detik, dunia di sekitarnya terasa berputar. Dan saat ia perlahan membuka matanya kembali, ia menyadari sesuatu yang mengerikan.
Warna biru pada lampu indikator monitornya tampak memudar. Merah pada tumpahan kopinya tidak lagi membara. Segala sesuatu di ruangan itu perlahan-lahan kehilangan saturasinya, berubah menjadi gradasi abu-abu yang mati, seolah seseorang baru saja menarik tuas warna dari dunia nyata.
Tio menatap tangannya, lalu ke layar ponsel. Di sana, wajah Sela tetap berwarna—begitu kontras, begitu hidup di tengah dunianya yang mendadak pucat.
"Apa yang terjadi..." bisiknya parau.
Ia mencoba melihat ke arah lampu meja, namun cahaya itu pun kini terasa hambar, tanpa spektrum. Di layar ponselnya, sebuah notifikasi baru muncul dari SoulMatch, seolah menjawab kebingungannya.
*“Sinkronisasi Tahap Pertama: Penglihatan Terhubung. Terima kasih telah membagikan keindahan dunia Anda dengan Sela.”*
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!