Hujan di luar apartemen Sela tidak terdengar seperti badai; ia terdengar seperti bisikan ribuan penonton yang menanti pertunjukan dimulai. Aku berdiri di depan pintu m***ni gelap itu, merapikan kemeja linenku yang terasa sedikit kaku. Ini adalah kencan ketiga kami. Tiga kencan yang terasa seperti seumur hidup, atau mungkin, seperti awal dari keabadian yang selalu aku dambakan.
Sela membuka pintu sebelum aku sempat mengetuk. Ia mengenakan gaun sutra berwarna sampanye yang jatuh sempurna di lekuk tubuhnya. Cahaya lampu gantung di belakangnya menciptakan aura keemasan di sekitar rambut hitamnya yang tergerai.
"Kau tepat waktu, Tio," suaranya lembut, seperti sapuan kuas di atas kanvas basah.
"Aku tidak ingin melewatkan sedetik pun," jawabku, mencoba menutupi kegugupanku dengan senyum kecil.
Apartemen Sela adalah perpanjangan dari kepribadiannya: elegan, sedikit misterius, dan penuh dengan benda-benda seni yang tampak kuno namun terawat. Ada aroma melati dan kayu cendana yang menggantung di udaraβsisa-sisa indra penciumanku yang syukurnya masih berfungsi dengan tajam setelah aku kehilangan indra pengecapku pada kencan sebelumnya. Aku masih ingat bagaimana rasa kopi yang kuminum kemarin terasa seperti air tawar yang dingin, hampa dari pahit maupun manis. Tapi melihat Sela, semua kehilangan itu terasa seperti tumbal yang kecil.
"Aku membuatkan teh herbal," katanya, menuntunku ke sofa beludru merah di tengah ruangan.
Aku duduk, memandangi jemarinya yang ramping saat ia menuangkan cairan kuning keemasan ke dalam cangkir porselen. Sela duduk di sampingku, sangat dekat hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya merambat ke lenganku. Kehangatan itu adalah sesuatu yang sangat aku butuhkanβpengakuan bahwa aku nyata, bahwa aku ada, dan bahwa seseorang sepertinya menginginkanku.
"Kau tampak termenung malam ini," Sela menyentuh daguku, memutar wajahku agar menatap matanya yang gelap dan dalam. "Apa kau memikirkan lukisanmu?"
"Aku memikirkanmu," bisikku jujur. "Tentang betapa sempurnanya semua ini. Kadang aku merasa... ini terlalu indah untuk menjadi nyata."
Sela tersenyum, sebuah lengkungan bibir yang tampak penuh rahasia. "Keindahan selalu menuntut harga, Tio. Tapi bukankah itu yang membuatnya berharga?"
Ia mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tanganku. Kulitnya terasa seperti satin yang paling halus. Aku merasakan letupan emosi yang meluap di dadakuβsebuah campuran antara rasa syukur yang amat sangat dan cinta yang nyaris obsesif. Aku mencint**nya. Aku benar-benar mencint** wanita ini. SoulMatch benar; dia adalah belahan jiwaku yang hilang.
Tepat saat pikiran itu mengkristal di benakku, sebuah sensasi aneh menjalar dari ujung jari-jariku.
Awalnya, itu terasa seperti kesemutan ringan, seolah-olah tanganku baru saja bangun dari tidur yang lama. Namun, rasa kesemutan itu dengan cepat berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan: ketiadaan.
Aku melihat tangan Sela masih berada di atas tanganku. Aku bisa melihat tekanan jemarinya yang halus menekan kulitku. Namun, aku tidak merasakannya. Aku tidak merasakan kehangatan kulitnya, tidak merasakan tekstur tangannya, bahkan tidak merasakan berat dari sentuhannya.
Aku tersentak, menarik tanganku dengan panik. Aku mencoba menyentuh kain beludru sofa di bawahku. Mataku melihat jemariku bergerak di atas serat-serat kain yang kasar, tapi di otakku, sensasinya kosong. Seolah-olah aku sedang menyentuh udara.
"Tio? Ada apa?" Sela bertanya, suaranya tetap tenang, bahkan cenderung datar.
Aku tidak menjawab. Napasku mulai memburu. Aku meraih cangkir teh yang masih mengepulkan uap. Aku memegangnya dengan kedua tangan. Aku melihat uapnya, aku melihat permukaannya yang putih meng***p, tapi telapak tanganku tidak merasakan panas. Tidak ada rasa sakit, tidak ada kehangatan. Cangkir itu terasa seperti hantu di genggamanku.
"Aku... aku tidak bisa merasakan apa-apa," suaraku bergetar, nyaris berupa bisikan.
Aku mulai meraba wajahku sendiri. Aku melihat di cermin besar di dinding ruang tamu bahwa tanganku sedang menekan pipi, menarik kelopak mata, mencengkeram rahang. Tapi aku tidak merasakannya. Wajahku terasa seperti topeng karet yang mati. Aku mencoba mencubit lenganku sekeras mungkin hingga kuku-kukuku meninggalkan bekas merah yang dalam, bahkan berdarah.
Nol. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada tekanan.
"Sela, ada yang salah," aku menatapnya dengan mata terbelalak, mencari perlindungan di matanya. "Tanganku... tubuhku... aku tidak bisa merasakan kulitku sendiri."
Sela tidak tampak terkejut. Ia justru mendekat, membelai pipiku dengan gerakan yang sangat lembut. Aku bisa melihat ujung jarinya menekan kulit pipiku yang pucat, tapi bagiku, itu hanyalah sebuah visual tanpa makna fisik. Aku merasa terputus dari cangkangku sendiri.
"Ini adalah bagian dari penyatuan kita, Tio," bisiknya, suaranya kini terdengar lebih berat, lebih kuno. "Kau tidak lagi membutuhkan sentuhan fisik untuk mengetahui bahwa aku di sini. Biarkan dunia luar menghilang. Biarkan hanya ada kita."
Aku mencoba berdiri, tapi kakiku terasa seperti gumpalan kapas yang tidak memiliki dasar. Aku kehilangan keseimbangan karena aku tidak bisa merasakan lant** di bawah telapak kakiku. Aku terjatuh kembali ke sofa, gerakanku kikuk dan tidak terkoordinasi karena saraf-sarafku telah berhenti mengirimkan sinyal ke otak.
Aku adalah seorang ilustrator. Tanganku adalah nyawaku. Dan sekarang, tangan itu hanyalah dua batang daging yang menggantung tanpa rasa.
"Apa yang terjadi padaku?" tangisku pecah, namun aku bahkan tidak bisa merasakan air mata yang mengalir di pipiku. Aku hanya tahu aku menangis karena pandanganku menjadi kabur oleh cairan.
Sela membungkuk, wajahnya hanya beberapa inci dari wajahku. Di matanya yang hitam, aku tidak melihat pantulan diriku. Aku melihat kegelapan yang luas, sebuah lubang tanpa dasar yang siap menelan apa pun.
"Kau sedang memberikan apa yang tidak lagi kau butuhkan, Tio," katanya lembut, sambil meletakkan telapak tangannya di dadaku, tepat di atas jantungku. "Kau mencint**ku, bukan?"
Aku ingin berteriak "tidak", aku ingin lari keluar dari apartemen ini dan menghapus aplikasi SoulMatch itu selamanya. Tapi ketika aku menatap wajahnya yang luar biasa cantik, rasa rendah diriku kembali membisikkan bahwa tanpa dia, aku bukan siapa-siapa. Aku lebih baik menjadi hantu yang mencint** daripada manusia utuh yang kesepian.
"Ya," jawabku parau, meskipun aku tidak bisa merasakan getaran suaraku di tenggorokanku sendiri.
Sela tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi yang terlalu putih, terlalu sempurna. Ia meraih tanganku yang mati rasa, lalu perlahan-lahan mengarahkan jemariku ke bibirnya. Aku melihatnya mencium ujung jariku, namun aku tetap tidak merasakan apa pun.
Lalu, sebuah kengerian baru muncul.
Saat aku menatap tanganku di genggamannya, aku menyadari sesuatu yang mustahil. Warna kulit di ujung jariku mulai memudar, bukan menjadi pucat, melainkan menjadi transparan, seolah-olah materi fisiknya sedang disedot ma**k ke dalam tubuh Sela.
"Sedikit lagi," bisik Sela, matanya berkilat penuh rasa lapar yang purba. "Hanya sedikit lagi, dan kita akan menjadi satu seutuhnya."
Aku mencoba menarik tanganku, tapi aku bahkan tidak tahu apakah otot-ototku sedang bekerja atau tidak. Aku terjebak di dalam tubuh yang menjadi penjara kedap rasa, sementara wanita yang kupuja mulai memanen bagian demi bagian dari keberadaanku. Di tengah kepanikan yang membisu, satu pertanyaan menghantam kepalaku: Jika indra perabaku sudah hilang malam ini, indra apa yang akan dia ambil dariku besok?
Dan yang lebih menakutkan, mengapa aku masih merasa ingin terus memujanya meski aku mulai menghilang?
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!