Pensil di tanganku terasa seberat batangan timah. Aku mencoba menarik satu garis lengkung untuk membentuk garis rahang Sela pada kertas sketsa, tetapi tanganku bergetar begitu hebat hingga garis itu berakhir menjadi coretan zigzag yang kacau. Aku mengutuk dalam hati, melempar pensil itu ke meja kayu yang kini permukaannya terasa asing di jemariku—seperti menyentuh ampelas kasar, tumpul dan mati rasa.
"Tio? Kamu baik-baik saja?" Suara Sela mengalun, lembut seperti beludru, namun entah mengapa kini terdengar jauh lebih beresonansi, lebih *berisi*.
Aku menengadah. Sela duduk di tepi tempat tidur, hanya beberapa langkah dariku. Sinar matahari sore menyelinap melalui celah gorden, memba**h kulitnya dengan warna keemasan yang hampir tidak ma**k akal. Aku mengerjapkan mata, berusaha memfokuskan penglihatanku yang mulai sering kabur di tepiannya. Ada sesuatu yang berbeda darinya. Sesuatu yang mengerikan sekaligus mempesona.
Pori-pori di lengannya kini terlihat jelas. Tekstur kulitnya bukan lagi porselen dingin yang kulihat di awal pertemuan kami melalui layar SoulMatch. Sekarang, ada semu merah muda yang sehat di pipinya. Ia tampak... sangat hidup.
"Aku hanya sedikit lelah," bisikku. Suaraku sendiri terdengar seperti gesekan kertas kering di telingaku.
Sela bangkit dan melangkah mendekat. Setiap gerakannya kini memiliki bobot. Jika dulu ia seolah melayang tanpa suara, kini aku bisa mendengar derit halus lant** kayu di bawah kakinya. Ia berlutut di hadapanku, meletakkan tangannya di atas lututku. Rasa hangat merembas melalui celana jinsku. Panas yang nyata. Panas yang menyengat.
"Kamu memberikan terlalu banyak untuk karya-karyamu, Sayang," katanya lembut. Jemarinya merambat naik, menyentuh pipiku.
Aku tersentak. Bukan karena takut, tapi karena sensasi itu begitu kontras dengan apa yang kurasakan pada tubuhku sendiri. Saat tangannya menyentuh kulitku, aku merasa seperti sepotong kayu lapuk yang disentuh oleh api yang membara. Aku tidak bisa lagi merasakan tekstur kain bajuku sendiri, tapi aku bisa merasakan setiap det**l sidik jari Sela yang menekan kulit wajahku.
"Sela..." Aku meraih pergelangan tangannya, bermaksud menjauhkannya, tapi gerakanku terhenti.
Di bawah ibu jariku, tepat di nadi pergelangan tangannya, aku merasakannya. *Dug-dug. Dug-dug.*
Denyut jantung. Kuat, ritmis, dan penuh kehidupan.
Mataku melebar. Aku menatap matanya yang berwarna cokelat gelap, yang kini tampak memiliki kedalaman yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Kamu... detak jantungmu..."
Sela tersenyum, sebuah senyuman yang tidak lagi terasa artifisial. "Apakah kamu merasakannya, Tio? Ini adalah bukti betapa kuatnya koneksi kita. Aku menjadi lebih utuh karena kamu."
Aku menarik napas dalam-dalam, dan tiba-tiba, sebuah aroma menghantamku. Itu bukan aroma parfum kimia atau bau ruangan yang apek. Itu adalah aroma melati yang bercampur dengan bau tanah setelah hujan—aroma yang sangat organik, sangat manusiawi. Baunya begitu kuat hingga membuat kepalaku pusing. Anehnya, aku menyadari bahwa aku tidak lagi bisa mencium bau kopi yang tumpah di atas meja atau bau cat minyak yang biasanya memenuhi kamarku. Penciumanku hanya berfungsi untuknya. Seolah-olah seluruh indra penciumanku telah bermigrasi, meninggalkan hidungku dan berpindah ke keberadaannya.
"Kamu harum sekali," gumamku, hampir seperti meracau. Namun di balik pujian itu, ada rasa ngeri yang merayap di tengkukku.
Aku bangkit berdiri, limbung. Aku berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan, mengabaikan tatapan Sela yang terus mengikutiku dengan kehangatan yang predatoris.
Di depan cermin, aku tertegun. Sosok yang memantul di sana hampir tidak kukenali. Wajahku pucat pasi, seperti mayat yang baru saja ditarik dari sungai. Mataku cekung, dikelilingi lingkaran hitam yang dalam. Kulitku tampak kusam dan tipis, seolah-olah daging di bawahnya telah menyusut. Aku menyentuh leherku sendiri, mencari denyut nadiku. Kosong. Begitu lemah hingga aku harus menekan sangat dalam hanya untuk merasakan getaran tipis yang putus-asa.
Aku seperti sketsa yang perlahan dihapus oleh penghapus yang kasar, sementara Sela adalah kanvas kosong yang sedang diisi dengan warna-warna paling cerah dariku.
"Lihat kita, Tio," suara Sela terdengar tepat di belakang telingaku. Aku tidak mendengar langkahnya mendekat kali ini. "Kita sedang menyatu. Bukankah ini yang kamu inginkan? Kecocokan mutlak. Sinkronisasi biologis."
Ia memelukku dari belakang. Kepalanya bersandar di bahuku. Di dalam cermin, kontras itu begitu nyata. Sela terlihat sangat nyata, sangat berdarah dan berdaging, sementara aku tampak seperti bayangan yang memudar, sebuah entitas transparan yang siap tertiup angin.
"Aku merasa... hampa, Sela," ucapku, suaraku bergetar. "Aku merasa seperti kehilangan diriku sendiri."
Sela mencium ceruk leherku. Bibirnya terasa lembap dan hangat—terlalu hangat. "Kamu tidak kehilangan diri, Tio. Kamu sedang berpindah. Kamu sedang mengalir ke dalamku. Aku adalah wadah barumu. Di dalamku, kamu akan abadi."
Aku memejamkan mata, mencoba mencari sisa-sisa amarah atau keinginan untuk lari. Namun, yang tersisa hanyalah ketergantungan yang menyakitkan. Aku haus akan kehangatannya karena tubuhku sendiri sudah menjadi sedingin es. Aku butuh aromanya karena duniaku sudah menjadi hambar tanpa bau.
Saat aku membuka mata kembali, aku melihat sesuatu di cermin yang membuat jantungku (yang masih berdetak lemah) seolah berhenti. Di permukaan kulit bahu Sela yang terbuka, muncul sebuah tanda lahir kecil berbentuk bulan sabit. Tanda lahir yang persis sama dengan yang kumiliki di bahu kiriku sejak lahir.
Aku meraba bahuku sendiri dengan panik. Licin. Rata. Tanda lahir itu sudah tidak ada.
Rasa ngeri yang dingin menyergapku. Ia tidak hanya mengambil indraku. Ia mengambil identitas fisikku, inci demi inci.
"Sela, berhenti," bisikku, meskipun tanganku justru membalas pelukannya dengan erat, seolah-olah aku takut jika aku melepaskannya, aku akan menguap menjadi udara kosong.
"Sudah terlambat untuk berhenti, Sayang," bisik Sela, dan kali ini, suaranya bukan lagi sekadar suara wanita. Ada lapisan suara lain di bawahnya—suara kuno yang berat, bergema seperti reruntuhan batu yang bergeser. "Indra keenammu... aku merasakannya mulai bergetar. Instingmu. Intuisi artistikmu. Berikan padaku."
Tiba-tiba, pandanganku menjadi gelap sesaat. Bukan karena lampu mati, tapi karena duniaku mendadak kehilangan dimensi kedalamannya. Aku kehilangan kemampuan untuk memperkirakan jarak. Ruangan itu terasa datar, seperti sebuah lukisan dua dimensi yang gagal. Dan saat itulah aku menyadari, indra perasaku, penciumanku, dan sebagian penglihatanku sudah pergi. Sekarang, aku mulai kehilangan kemampuanku untuk merasa 'ada' di dalam ruang ini.
Sela melepaskan pelukannya dan berdiri di depanku. Ia menarik napas panjang, dadanya naik turun dengan anggun, menikmati oksigen yang seolah-olah kini hanya miliknya seorang.
"Satu lagi, Tio," ucapnya sambil membelai rambutku yang kini terasa kasar seperti jerami kering. "Hanya satu perjamuan lagi, dan aku akan sempurna."
Aku mencoba berteriak, tapi lidahku terasa kaku dan mati rasa, seolah-olah ia telah berubah menjadi sepotong karet yang tidak berguna di dalam mulutku yang dingin. Di saat yang sama, ponselku di atas meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi dari SoulMatch muncul di layar yang cahayanya kini terasa sangat menyilaukan dan menyakitkan bagi mataku yang kian meredup.
*“Sinkronisasi mencapai 90%. Prosedur final akan segera dimulai.”*
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!