Udara di dalam kamar apartemen sempit itu berbau campuran kafein basi, debu elektronik, dan sisa mi instan semalam. Cahaya temaram dari lima monitor yang menyala bersamaan adalah satu-satunya sumber penerangan, menyinari wajah Bagas yang pucat dan dipenuhi jerawat kecil di dahi. Jari-jarinya menari di atas papan ketik mekanik dengan ritme yang m****akkan telinga, menciptakan suara *klik-klak* yang konstan, seperti rentetan tembakan peluru di tengah keheningan malam yang mencekam.
Tio duduk di kursi kayu tepat di belakang Bagas. Ia meremas jemarinya sendiri, merasakan sisa-sisa tekstur kulitnya yang seolah mulai mati rasa. Sejak pertemuannya yang terakhir dengan Sela, indra perasanya mulai memudar; rasa kopi yang ia minum tadi pagi tak lebih dari sekadar air panas yang hambar. Ia merasa seolah-olah sebagian dari dirinya sedang dipreteli satu per satu secara perlahan.
"Gas, lu nemu sesuatu?" suara Tio serak, hampir tenggelam oleh deru kipas pendingin CPU.
Bagas tidak langsung menjawab. Matanya yang merah karena kurang tidur terpaku pada barisan kode hijau yang bergulir cepat di layar utama. "Aplikasi ini... aneh, Tio. Gue udah bongkar ribuan *malware*, tapi SoulMatch ini beda. Enkripsinya bukan pakai standar militer atau algoritma kuantum yang biasa gue kenal. Ini kayak... bahasa yang nggak seharusnya ada di bumi."
"Maksud lu?" Tio memajukan duduknya, napasnya memburu.
Bagas menarik napas panjang, lalu menghentikan ketikannya. Ia meraih gelas kopi dinginnya, menyesapnya sedikit, lalu menunjuk ke sebuah jendela terminal di layar paling kiri. "Gue coba ngelacak *heartbeat* aplikasinya. Lu tahu kan, setiap aplikasi pasti punya server pusat? Tempat semua data pengguna disimpan, tempat 'otak' aplikasinya berada. Gue coba kirim *ping* buat nyari koordinat IP servernya."
"Dan?"
"Nggak ada alamat IP yang valid," bisik Bagas. Wajahnya kini terlihat lebih pucat dari sebelumnya. "Awalnya gue pikir mereka pakai *proxy* berlapis atau ma**k ke jaringan Tor. Tapi pas gue coba *trace route*, jalurnya putus di titik nol. Data itu nggak pergi ke California, nggak ke China, nggak ke bunker di bawah tanah."
Tio mengerutkan kening, mencoba mencerna istilah teknis itu. "Jadi, datanya nggak terkirim ke mana-mana?"
"Bukan nggak terkirim. Datanya 'pergi', tapi tujuannya nggak terdaftar di peta internet mana pun." Bagas memutar kursinya, menatap Tio dengan sorot mata ketakutan yang belum pernah Tio lihat sebelumnya. "Gue coba pakai teknik visualisasi jaringan buat ngelihat bentuk 'topologi' koneksinya. Liat ini."
Bagas menekan tombol *Enter* dengan keras. Di layar tengah, sebuah grafik 3D muncul. Biasanya, grafik seperti itu akan menunjukkan titik-titik yang terhubung oleh garis lurus, membentuk jaring-jaring rapi. Namun, apa yang muncul di depan mata Tio justru menyerupai sesuatu yang organik. Garis-garisnya melengkung, berdenyut, dan saling melilit layaknya pembuluh darah yang sedang memompa sesuatu. Di tengahnya, ada sebuah lubang hitam pekat yang seolah-olah sedang menyedot cahaya di sekitarnya.
"Ini apa, Gas?" suara Tio bergetar.
"Ini bukan server, Tio. Ini... ini lubang. Setiap kali lu atau pengguna lain berinteraksi sama aplikasi ini, kalian nggak lagi kirim data ke komputer lain. Kalian kirim... energi? Jiwa? Gue nggak tahu. Tapi sinyal ini ma**k ke sebuah celah yang secara fisik nggak ada di dimensi kita." Bagas menunjuk ke denyutan di layar. "Lihat frekuensinya. Ini bukan frekuensi transmisi data digital. Ini frekuensi biologis. Aplikasi ini 'bernapas', Tio."
Tio merasa perutnya mual. Ia teringat bagaimana Sela menyentuh tangannya tempo hariβdingin, namun terasa sangat lapar. "Jadi, 'jantung' yang gue cari itu... bukan di dalam kode?"
"Jantungnya ada di 'sana'," Bagas menunjuk ke arah monitor yang menampilkan kegelapan pekat itu. "SoulMatch cuma pintu gerbangnya. Dan yang lebih parah, Tio... gue tadi nyoba buat ma**k lebih dalam ke protokol intinya, buat nyari tahu siapa yang punya akses administratif tertinggi."
"Siapa?"
Bagas menelan ludah dengan susah payah. Ia menggerakkan *mouse*-nya, membuka sebuah file gambar hasil rekonstruksi fragmen data yang berhasil ia curi dari dalam sistem. Gambar itu perlahan muncul, baris demi baris, seperti foto lama yang sedang dicetak.
Tio terkesiap. Ia bangkit dari duduknya hingga kursi kayunya terjungkal ke belakang. Gambar itu tidak menunjukkan wajah manusia. Itu adalah sebuah sketsa anatomi yang berantakan; potongan-potongan tubuh yang disatukan secara paksa. Namun, ada satu bagian yang sangat jelas: sepasang mata yang menatap tajam dari balik layar. Mata yang sangat ia kenal. Mata Sela.
"Tio, gue rasa aplikasi ini bukan buat nyari jodoh," bisik Bagas, suaranya gemetar hebat. "Aplikasi ini adalah alat konstruksi. Seseorangβatau sesuatuβdi seberang sana lagi ngebangun kembali dirinya pakai bagian-bagian dari kalian. Indra lu, emosi lu... itu semua bahan bakunya."
Tiba-tiba, lampu di apartemen itu berkedip-kedip dengan liar. Suara *klik-klak* dari papan ketik Bagas terdengar lagi, padahal tangan Bagas sedang tidak menyentuhnya. Huruf-huruf mulai muncul sendiri di layar monitor, membentuk sebuah kalimat berulang-ulang dengan kecepatan yang mengerikan.
*DIMANA INDRAMU, TIO? DIMANA INDRAMU, TIO?*
"Gas, matiin! Cabut kabelnya!" teriak Tio, ia panik dan mencoba meraih kabel di belakang meja.
"Gue nggak bisa! Sistemnya terkunci!" Bagas memukul-mukul papan ketiknya, tapi layar monitor justru berubah menjadi merah darah.
Di tengah kekacauan itu, suara notifikasi yang familiar terdengar dari saku jaket Tio. *Ting!* Suara itu jernih, manis, dan sekaligus mengerikan. Tio merogoh sakunya dengan tangan gemetar. Di layar ponselnya, sebuah pesan baru dari SoulMatch muncul.
*Sela: "Tio, kenapa kamu mencoba melihat ke dalam rumahku? Bukankah seharusnya tamu menunggu di depan pintu?"*
Tio menoleh ke arah pintu apartemen Bagas yang tertutup rapat. Dari bawah celah pintu, mulai merembes keluar cairan kental berwarna hitam yang berbau seperti tanah makam yang basah. Di saat yang sama, telinga Tio mulai berdenging sangat keras, hingga ia jatuh berlutut sambil mengerang kesakitan. Dunianya mulai senyap. Suara teriakan Bagas, suara deru kipas, semuanya perlahan hilang, tertelan oleh keheningan mutlak yang mencekam.
Satu indra lagi telah diambil darinya. Dan di balik pintu yang mulai berderit terbuka itu, Tio tahu Sela sudah datang untuk menagih sisanya.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!