Rintik hujan di luar jendela apartemenku terdengar seperti ribuan jemari kecil yang mengetuk kaca, menciptakan irama monoton yang biasanya menenangkan jiwaku yang gelisah. Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu meja temaram, bau cat minyak dan tumpukan kertas sketsa menjadi saksi bisu kehadirannya. Sela duduk di ujung sofa, gaun sutra putihnya jatuh melambai seperti kabut yang membeku. Ia sedang melihat-lihat buku sketsaku, jemarinya yang lentik mengelus garis-garis kasar yang kubuat dengan penuh kekaguman.
"Kau selalu melihat dunia dengan cara yang begitu rapuh, Tio," suaranya lembut, seperti gesekan dawai biola yang dimainkan dengan hati-hati. Setiap suku kata yang keluar dari bibirnya seolah menyuntikkan dopamin langsung ke aliran darahku.
Aku duduk di lant**, bersandar pada kakinya. Rasa rendah diri yang biasanya menghimpit dadaku menguap setiap kali aku berada di dekatnya. Bagiku, Sela bukan sekadar wanita yang kutemukan di SoulMatch; dia adalah kanvas kosong yang akhirnya terisi warna, jawaban dari segala doa kesepianku selama dua puluh tujuh tahun ini.
"Aku hanya menggambar apa yang kutakutkan akan hilang," jawabku parau. Tanganku gemetar saat menyentuh jemarinya. Dingin, namun entah bagaimana, rasa dingin itu justru membuatku merasa hidup.
Sela meletakkan buku sketsa itu dan membungkuk ke arahku. Rambut hitamnya jatuh menjunt**, membingkai wajahnya yang sepucat porselen. Matanya yang gelap seolah menyedot seluruh cahaya di ruangan itu, membuatku merasa dunia luar—suara klakson di kejauhan, dengung kulkas yang berisik, hingga detak jam dinding—menjadi tidak relevan. Hanya ada kami berdua.
"Tio," bisiknya, lebih dekat sekarang. Aku bisa merasakan napasnya yang tidak berbau, seolah dia tidak membutuhkan udara untuk bertahan hidup. "Kau takut sendirian, bukan? Kau takut dunia ini akan melupakanmu jika kau berhenti bersuara?"
Aku mengangguk pelan, tenggorokanku tercekat oleh emosi yang membuncah. Kasih sayang yang kurasakan padanya meluap-luap, sebuah pengabdian yang hampir bersifat religius. Aku ingin memilikinya selamanya. Aku ingin dia menjadi satu-satunya hal yang menetap saat segalanya pergi.
Sela tersenyum, sebuah lengkungan bibir yang tampak begitu sempurna sekaligus ganjil. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga kiriku. Sentuhan ujung hidungnya pada kulitku mengirimkan gelombang listrik yang membuat bulu kudukku berdiri.
"Jangan takut," bisiknya, suaranya kini terasa seperti madu yang mengalir langsung ke pusat sarafku. "Mulai saat ini, kau tidak perlu lagi mendengar kebisingan dunia yang kasar ini. Kau tidak perlu mendengar cemoohan atau kesunyian yang menyakitkan. Aku akan menjagamu. Aku berjanji, satu-satunya suara yang akan kau butuhkan adalah suaraku di dalam hatimu. Kita akan menjadi satu, melampaui getaran udara."
Saat itu juga, percikan cinta yang begitu dalam, begitu murni, sekaligus begitu mengerikan, meledak di dalam dadaku. Aku menutup mata, menyerahkan seluruh keberadaanku pada janji manis itu. Aku mencint**nya. Tuhan, aku sangat mencint**nya melebihi kewarasanku sendiri.
Tiba-tiba, sebuah sensasi aneh menghantamku. Rasanya seperti ada tekanan udara yang sangat besar yang memaksa ma**k ke dalam saluran telingaku. *Pop.*
Bunyi letupan kecil itu terdengar di dalam kepalaku. Dan kemudian, segalanya lenyap.
Awalnya, aku mengira petir baru saja menyambar di dekat sini dan membuatku tuli sesaat. Aku membuka mata dengan panik. Aku melihat bibir Sela masih bergerak, membentuk kata-kata yang tampak indah, tapi tidak ada suara yang keluar. Sama sekali tidak ada.
Aku menoleh ke arah jendela. Aku melihat kilatan petir membelah langit malam, disusul oleh air hujan yang menghantam kaca dengan deras. Namun, tidak ada bunyi gemuruh. Tidak ada bunyi ketukan air. Dunia di luar sana telah menjadi film bisu yang mencekam.
Aku bangkit dengan terengah-engah, menjatuhkan gelas kopi di atas meja samping. Gelas itu jatuh ke lant** kayu, pecah berkeping-keping. Aku melihat serpihannya berhamburan, aku melihat sisa kopi menciprat ke karpet, tapi keheningan yang tercipta begitu absolut sehingga telingaku terasa sakit. Sunyi yang kurasakan bukan sekadar ketiadaan suara; itu adalah sunyi yang padat, yang menekan dari segala arah seperti air laut di kedalaman ribuan meter.
"Sela?" aku mencoba memanggil namanya.
Aku bisa merasakan getaran di tenggorokanku. Aku bisa merasakan otot-otot rahangku bergerak. Namun, telingaku tidak menangkap frekuensi apa pun. Suaraku sendiri hilang dari jangkauanku. Aku seperti terkubur hidup-hidup dalam peti mati yang kedap suara.
Rasa ngeri mulai merayap naik dari ujung kakiku. Aku memukul telingaku dengan telapak tangan, berharap bisa mengembalikan fungsi organ itu. Aku berteriak sekuat tenaga, hingga urat-urat leherku menonjol, namun dunia tetap membisu. Isolasinya begitu instan dan total. Aku merasa seperti terputus dari realitas fisik.
Sela berdiri dengan anggun. Ia tidak tampak terkejut. Sebaliknya, wajahnya memancarkan ketenangan yang mengerikan. Ia melangkah mendekat, tangannya yang dingin menangkup pipiku. Ia menatap mataku dengan tatapan yang penuh kasih sayang—atau mungkin, itu adalah tatapan seorang kolektor yang baru saja mendapatkan bagian langka untuk koleksinya.
Ia kembali menggerakkan bibirnya. Aku mencoba membaca gerak bibirnya dengan sisa-sisa fokus yang kumiliki.
*“Terima kasih, Tio. Pendengaranmu... sangat jernih,”* seolah itulah yang ia katakan.
Aku mundur selangkah, menab**k meja gambar hingga botol-botol tinta tumpah. Cairan hitam itu merembes ke lant**, mirip dengan kegelapan yang kini mulai menguasai pikiranku. Aku kehilangan indra penciumanku minggu lalu saat kami berdansa di bawah lampu kota. Sekarang, pendengaranku.
Sela tidak hanya mencint**ku. Dia sedang mempreteliku.
Aku melihatnya berjalan perlahan menuju jendela, membelakangiku. Gerakannya begitu cair, begitu tidak manusiawi. Aku ingin lari, aku ingin berteriak meminta tolong pada tetangga di sebelah dinding, tapi apa gunanya jika aku bahkan tidak bisa mendengar suaraku sendiri meminta tolong?
Di dalam keheningan total ini, aku menyadari satu hal yang lebih menakutkan daripada kehilangan pendengaran: Sela baru saja memulai. Dan aku, dalam keputusasaan akan cinta, telah memberikan kunci pintu rumahku—dan jiwaku—kepadanya.
Sela menoleh kembali padaku, senyumnya masih di sana, namun kali ini aku melihat sesuatu yang berbeda di matanya. Sesuatu yang sangat tua, sangat lapar, dan sangat asing. Ia memberi isyarat padaku untuk mendekat, dan meskipun setiap sel di tubuhmu meneriakkan bahaya, kakiku tetap melangkah maju karena aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia yang kini sunyi ini selain dia.
Aku terjebak dalam perjamuan di mana aku adalah hidangan utamanya, dan aku baru saja kehilangan kemampuan untuk mendengar jeritanku sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!