Cahaya biru dari monitor kembar di hadapanku terasa seperti ribuan jarum yang menusuk retina. Mataku perih, memerah karena kurang tidur dan paparan radiasi layar selama berjam-jam, tetapi aku tidak bisa berhenti. Jemariku gemetar di atas papan ketik, menari di antara baris-baris kode *SoulMatch* yang berhasil kudekonstruksi secara ilegal. Sebagai seorang ilustrator, aku biasanya lebih akrab dengan kanvas digital dan kuas virtual, namun rasa takut yang akut telah memaksaku mempelajari bahasa yang asing ini: bahasa pemprograman yang menyembunyikan i****.
Aku mengendus udara di ruangan itu secara refleks, namun hanya kehampaan yang kutemukan. Penciumanku sudah hilang sejak kencan ketiga kami di taman kota. Aku tidak bisa lagi membaui aroma kopi yang mendingin di samping meja, atau bau apek dari tumpukan baju kotor di sudut kamar. Semuanya hambar. Dunia bagiku kini hanyalah visual yang sunyi dan tekstur yang mulai memudar.
"Harus ada di sini," bisikku, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri—serak dan penuh keputusasaan.
Layar terminal berkedip. Aku berhasil menembus enkripsi pada direktori tersembunyi yang dinamai dengan deretan angka heksadesimal yang tidak ma**k akal. Di sana, di balik lapisan algoritma kecocokan yang selama ini kupuja, aku menemukan sebuah sub-rutin yang disebut *'The_Final_Supper'*.
Perjamuan Terakhir.
Tanganku semakin gemetar saat aku membuka file biner tersebut. Aku bukan seorang peretas ahli, tetapi struktur data di depanku ini tidak terlihat seperti kode aplikasi kencan biasa. Ini lebih menyerupai sebuah instruksi ritual yang diterjemahkan ke dalam logika mesin. Baris-baris kodenya tidak merujuk pada preferensi hobi atau lokasi GPS, melainkan pada *'Surgical_Extraction'* dan *'Metaphysical_Integration'*.
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering dan sakit. Di tengah layar, sebuah diagram muncul—sebuah skema tubuh manusia yang dibagi menjadi fragmen-fragmen kecil. Beberapa bagian sudah berwarna abu-abu: lidah, hidung, dan sebagian dari sistem saraf pendengaranku. Aku melihat namaku, 'Tio', tertera di bagian atas sebagai *'Donor_09'*.
"Donor?" gumamku. Jantungku berdegup kencang, menghantam rusuk seolah-olah ingin melarikan diri dari kenyataan ini.
Aku menggulirkan tetikus lebih jauh ke bawah. Di sana, tertulis instruksi untuk tahap akhir. Sebuah jadwal pertemuan yang otomatis terbuat untuk malam ini di restoran *Le Souterrain*—tempat favorit Sela. Di bawah kolom 'Output', terdapat satu kata yang membuat seluruh darahku terasa membeku: *'Ocular_Sync'*.
Penglihatan.
Aku menyentuh kelopak mataku dengan jari yang dingin. Jika aku pergi menemui Sela malam ini, jika aku membiarkan percikan cinta itu membakar hatiku sekali lagi saat melihat senyumnya yang mematikan, maka dunia ini akan menjadi gelap selamanya. Aku akan kehilangan kemampuanku untuk menggambar, kemampuanku untuk melihat warna-warna senja, dan yang paling mengerikan, kemampuanku untuk melihat wajahnya yang selama ini menjadi satu-satunya alasanku untuk bertahan hidup.
Namun, bagian paling mengerikan belum berakhir. Aku menemukan sebuah catatan kaki dalam metadata file tersebut. *'Post-Extraction: Host Depletion'*. Pengurasan Inang. Penjelasan teknis di bawahnya dengan dingin menyatakan bahwa setelah lima panca indra diambil sepenuhnya, integritas biologis inang tidak lagi diperlukan. Tubuh inang akan runtuh secara seluler karena 'identitas diri' telah berpindah sepenuhnya ke entitas utama.
Aku akan mati. Bukan sekadar mati, aku akan dihapus. Sela tidak hanya mencuri indraku; dia membangun kembali dirinya yang hancur dengan potongan-potongan kemanusiaanku. Cinta yang kurasakan selama ini bukanlah sebuah anugerah, melainkan proses penyembelihan yang sangat lambat dan halus.
Tiba-tiba, ponselku yang tergeletak di samping papan ketik bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi dari *SoulMatch*. Ada pesan baru.
Aku ragu sejenak, takut untuk menyentuhnya. Namun, dorongan obsesif yang telah tertanam di dalam kepalaku memaksa jemariku untuk membuka pesan itu.
*Sela: "Tio, sayang... Aku sudah memesan meja favorit kita untuk malam ini. Ada sesuatu yang sangat spesial yang ingin kubagikan padamu. Ini akan menjadi malam yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu. Sampai jumpa jam delapan?"*
Di layar ponsel, foto profil Sela seolah-olah menatap langsung ke mataku. Matanya yang indah, yang selalu kupuja dalam setiap sketsaku, kini terlihat seperti lubang hitam yang siap menelan jiwaku. Aku teringat bagaimana sentuhannya membuatku merasa begitu berharga, begitu dicint**—perasaan yang tidak pernah kudapatkan dari dunia nyata.
Ketakutan dan kerinduan berperang di dalam dadaku. Sisi logisku berteriak agar aku melarikan diri, menghancurkan ponsel ini, dan mengunci diri di kegelapan. Namun, bagian lain dari diriku—bagian yang haus akan kasih sayang dan merasa tidak berharga tanpa kehadiran Sela—berbisik bahwa mungkin, menjadi bagian dari dirinya adalah tujuan akhir hidupku yang menyedihkan ini.
Aku melihat ke arah cermin retak di atas meja kerjaku. Wajahku tampak pucat, hampa, seperti sketsa yang belum selesai. Jika aku kehilangan mataku malam ini, aku tidak akan pernah bisa melihat betapa hancurnya aku.
Tanganku perlahan bergerak menuju papan ketik. Aku tahu ini adalah jebakan. Aku tahu malam ini adalah titik akhir. Namun, saat aku mulai mengetik balasan, aku menyadari satu hal yang lebih menakutkan daripada kematian: aku lebih takut kehilangan Sela daripada kehilangan nyawaku sendiri.
Aku mengetik, *"Aku akan datang, Sela. Aku tidak sabar untuk melihatmu."*
Sesaat setelah pesan itu terkirim, layar monitor komputerku tiba-tiba berkedip merah. Seluruh kode yang sedang kupelajari menghilang, digantikan oleh satu baris kalimat yang berulang-ulang memenuhi layar hingga ke pinggirannya:
*SIAPKAN INDRAMU. PERJAMUAN DIMULAI.*
Lampu di kamarku tiba-tiba meredup, menyisakan kesunyian yang mencekam. Di tengah kegelapan itu, aku merasa seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengawasiku dari sudut ruangan—sesuatu yang besar, purba, dan sangat lapar. Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa aplikasi itu tidak pernah benar-benar tertutup di ponselku. Kamera depannya menyala, lampu hijaunya berkedip kecil, menangkap setiap tetes air mata yang jatuh dari mataku yang mungkin hanya akan melihat dunia untuk beberapa jam lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!