Bau kopi yang biasanya memenuhi sudut apartemen kecil ini kini tak lebih dari sekadar uap panas yang menggelitik kulit wajahku. Aku menyesap cairan hitam itu, tetapi lidahku hanya merasakan tekstur cair yang hambar, seolah aku sedang meminum air keran yang dipanaskan. Hilangnya indra perasa dan penciuman adalah harga yang kubayar untuk dua kencan terakhir bersama Sela. Dunia kini terasa lebih sunyi, lebih steril, dan jauh lebih menakutkan.
Di atas meja gambar yang biasanya penuh dengan sketsa anatomi manusia, kini berserakan kabel-kabel melilit, sebuah perangkat *interface* modifikasi, dan tablet grafis yang layarnya masih menyala terang. Jari-jariku gemetar saat aku menyolder sebuah sirkuit kecil yang kuhubungkan ke ponselku. Di layar ponsel itu, ikon aplikasi 'SoulMatch' berkedip-kedip merah, seolah-olah ia adalah jantung mekanis yang sedang sekarat.
Aku tahu apa yang kulakukan ini adalah pengkhianatan. Namun, bukankah Sela yang lebih dulu mengkhianatiku? Dia mencuri bagian dari diriku, satu demi satu, setiap kali aku membiarkan hatiku terbuka sedikit lebih lebar untuknya.
"Maafkan aku, Sela," bisikku, meskipun aku tahu suaraku terdengar aneh di telingaku sendiri—datar dan tanpa resonansi.
Aku menatap sketsa wajah Sela yang kutempel di dinding. Aku menggambarnya dari ingatan, setiap lekuk rahangnya, binar matanya yang seolah mengandung galaksi, dan senyum tipis yang selalu berhasil meruntuhkan pertahananku. Dia begitu indah, begitu sempurna, hingga rasanya mustahil jika dia hanyalah sebuah entitas purba yang haus akan kemanusiaan.
Tanganku berhenti bergerak. Bayangan kencan ketiga di taman kota melintas. Saat itu, dia menggenggam tanganku, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa benar-benar 'terlihat'. Rasa hangat menjalar dari jemarinya, membungkus kesepianku yang membeku. Namun, begitu aku membatin bahwa aku mencint**nya, duniamu tiba-tiba menjadi sunyi. Suara tawa anak-anak dan desis angin hilang seketika. Aku kehilangan pendengaranku saat itu juga.
Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir nostalgia yang meracuni tekadku. Aku tidak boleh tertipu lagi. Kencan kelima akan segera tiba. Jika pola ini berlanjut, malam ini aku mungkin akan kehilangan penglihatanku—indra yang menjadi nyawaku sebagai seorang ilustrator. Tanpa itu, aku hanyalah cangkang kosong yang menunggu untuk dihancurkan sepenuhnya.
Aku mema**kkan baris kode terakhir ke dalam aplikasi modifikasi yang kubuat dengan bantuan seorang teman lama di forum *dark web*. Ini bukan sekadar perangkat lunak; ini adalah perangkap frekuensi. Jika 'SoulMatch' mencoba menarik energi biologisku malam ini untuk disinkronkan dengan Sela, perangkat ini akan membalikkan arusnya. Ia akan mengunci Sela dalam lingkaran umpan balik digital, memaksanya untuk tetap dalam wujud fisiknya tanpa bisa menyerap apa pun dariku.
Sebuah notifikasi muncul di layar ponsel. Jantungku mencelos.
*Sela: "Tio, aku sudah di depan. Boleh aku naik? Aku membawa sesuatu yang spesial untuk merayakan kencan kelima kita."*
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering dan kaku. Aku melirik ke arah pintu apartemen, lalu kembali ke perangkat di atas meja. Aku menyembunyikan kotak sirkuit itu di bawah tumpukan kertas gambar, membiarkan kabel sensornya mengintip sedikit agar bisa aktif saat Sela berada dalam jarak dua meter.
Aku berjalan menuju pintu dengan langkah berat. Setiap langkah terasa seperti pengkhianatan terhadap satu-satunya orang yang pernah membuatku merasa hidup. Tapi apakah dia 'orang'? Ataukah dia hanyalah parasit yang mengenakan topeng kecantikan?
Saat aku memutar kunci, tanganku ragu. Aku merindukan suaranya. Aku merindukan bagaimana dia memanggil namaku, meski aku tak bisa lagi mendengarnya. Aku hanya bisa membayangkan getaran pita suaranya di udara.
Pintu terbuka.
Sela berdiri di sana. Dia mengenakan gaun putih sederhana yang kontras dengan rambut hitamnya yang tergerai. Dia tersenyum, dan entah bagaimana, aku bisa merasakan kehangatan yang memancar darinya, sebuah gravitasi yang menarikku untuk menyerah saja. Dia memegang sebuah kotak kecil yang diikat pita merah.
Dia menggerakkan bibirnya. Aku membacanya dengan saksama: *"Kamu tampak pucat, Tio. Apa kamu tidak senang melihatku?"*
Aku memaksakan sebuah senyum, senyum paling palsu yang pernah kubuat seumur hidupku. "Tentu saja aku senang, Sela. Silakan ma**k."
Dia melangkah melewati ambang pintu. Saat dia berjalan menuju meja gambar—tempat perangkat itu tersembunyi—aku merasakan denyut aneh di belakang mataku. Pandanganku sedikit kabur, lalu kembali fokus. Itu adalah tanda. Proses sinkronisasi itu sudah dimulai secara otomatis oleh aplikasi di saku celanaku.
Sela berhenti tepat di depan meja. Dia menoleh ke arah tumpukan kertas gambar, matanya menyipit seolah merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Kertas-kertas ini..." Sela berbalik menatapku, tatapannya yang biasanya lembut kini terasa tajam dan menusuk, seolah dia bisa melihat langsung ke dalam lubang gelap di dadaku. *"Tio, apa yang kamu sembunyikan di bawah sini?"*
Tangannya bergerak perlahan menuju tumpukan kertas yang menutupi perangkapku. Jantungku berpacu begitu kencang hingga dadaku terasa sakit. Jika dia menyentuhnya sekarang, sebelum aku mengaktifkan pemicunya, semuanya akan berakhir. Aku akan kehilangan segalanya, dan dia akan tahu bahwa aku mencoba menjebaknya.
"Sela, tunggu!" seruku, suaranya parau dan bergetar.
Dia berhenti, jemarinya hanya berjarak beberapa sentimeter dari kabel sensor. Dia menatapku, menunggu penjelasan, sementara di balik sakuku, ponselku mulai bergetar hebat—sebuah peringatan bahwa sinkronisasi biologis telah mencapai titik kritis delapan puluh persen. Cahaya di ruangan itu mulai meredup di mataku, perlahan-lahan berubah menjadi abu-abu yang mencekam.
Aku harus memilih sekarang: membiarkannya mengambil mataku, atau menarik pelatuk yang mungkin akan melenyapkannya selamanya dari hidupku.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!