Udara malam di taman kota ini terasa hampa. Aku tahu angin sedang berembus kencang karena dahan-dahan pohon kenari itu bergoyang hebat, tetapi kulitku tidak merasakan apa pun. Saraf-saraf peraba di sekujur tubuhku telah mati, diambil oleh Sela sebagai bayaran atas ciuman terakhir kami di beranda seminggu yang lalu. Aku melangkah dengan canggung, seperti boneka kayu yang digerakkan benang tak kasatmata, menuju bangku taman bercat putih yang terkelupas—tempat pertama kali aku melihatnya secara nyata setelah berminggu-minggu bertukar pesan di SoulMatch.
Pandanganku mulai mengabur di tepiannya, seolah-olah lensa mataku perlahan tertutup kabut tebal. Aku tahu ini pertanda buruk. Penglihatanku adalah aset terakhirku sebagai ilustrator. Jika ini hilang, aku benar-benar akan menjadi raga yang kosong.
"Kau tepat waktu, Tio," suara itu mengalun, merdu namun kini terdengar memiliki gema ganjil, seperti dua suara yang bertumpukan.
Aku menoleh. Sela duduk di sana, di bawah temaram lampu taman yang berkedip. Ia mengenakan gaun putih yang sama seperti saat pertemuan pertama kami. Namun, saat aku melangkah mendekat, distorsi itu mulai terlihat. Wajah Sela tidak lagi simetris. Matanya yang indah sesekali bergeser posisi, dan kulit lehernya tampak bergetar seperti permukaan air yang dilempari batu.
"Sela..." suaraku parau, pecah oleh kecemasan yang menggumpal di tenggorokan. "Apa yang terjadi padamu? Dan apa yang terjadi padaku?"
Sela berdiri. Gerakannya tidak lagi luwes. Ada bunyi gemeretak tulang yang beradu, seperti suara kayu kering yang patah, setiap kali ia menggerakkan sendinya. Ia berjalan mendekat, dan saat itulah cahaya lampu taman menyinari wajahnya dengan jelas. Aku tersentak mundur, hampir terjatuh karena keseimbanganku terganggu.
Wajah yang kupuja itu mulai retak. Di balik lapisan kulit porselennya, aku tidak melihat daging atau darah. Aku melihat kegelapan yang pekat, dipenuhi dengan ribuan urat bercahaya kebiruan yang berdenyut—sama persis dengan antarmuka aplikasi SoulMatch saat sedang melakukan proses *sinkronisasi*. Sebelah matanya kini berubah menjadi rongga hitam yang menghisap cahaya di sekitarnya.
"Jangan takut, Sayang," ucapnya. Kali ini suaranya bukan lagi suara wanita, melainkan kumpulan bisikan ribuan orang yang tumpang tindih. "Kau mencint**ku, bukan? Kau bilang kau tidak ingin aku pergi. Kau bilang kau akan memberikan apa pun agar kita tetap bersama."
"Aku mencint**mu, tapi... kau bukan manusia," bisikku. Tanganku gemetar saat meraba saku jaket, menggenggam ponselku yang terasa panas membara. Di layarnya, aplikasi SoulMatch terbuka, menampilkan grafik jantungku yang berdetak tidak beraturan. Ada satu tombol besar berwarna merah menyala di sana: **PUTUSKAN KONEKSI**.
Sela tertawa, sebuah suara yang menyayat indra pendengaranku yang semakin menipis. Tubuhnya mulai memanjang, meliuk secara tidak wajar. Kulitnya mengelupas sepenuhnya, jatuh ke tanah seperti kelopak bunga layu, menyingkap wujud aslinya: sebuah entitas yang tersusun dari kepingan-kepingan memori dan bagian tubuh yang tampak asing. Aku melihat jari-jari tangan yang halus di pundaknya, telinga manusia di bagian dadanya—semua itu adalah bagian dari panca indra para korban sebelum aku.
"Manusia hanyalah wadah yang rapuh, Tio," Sela—atau makhluk itu—mendesis. Wajahnya kini berada hanya beberapa inci dari wajahku. Bau mawar yang biasa tercium darinya telah berganti menjadi bau tanah kuburan yang basah dan besi berkarat. "Aku telah hancur selama ribuan tahun, tercerai-berai oleh waktu. Melalui kalian, melalui kerinduan kalian akan cinta, aku menyusun diriku kembali. Kau adalah kepingan terakhir. Aku butuh matamu. Aku butuh caramu memandang dunia agar aku bisa melihat kembali."
Ia mengulurkan tangannya yang panjang dan kurus, ujung jarinya yang tajam menyentuh kelopak mataku. Aku tidak bisa merasakan sentuhannya, tapi aku bisa melihat duniamu perlahan-lahan meredup menjadi hitam pekat.
"Jika aku membiarkanmu mengambilnya, apa yang tersisa dariku?" tanyaku, air mata mulai mengalir, membasahi pipiku yang mati rasa.
"Kau akan memilikiku selamanya, Tio. Di dalam diriku. Kita akan menjadi satu kesatuan yang mutlak. Bukankah itu yang kau cari? Kedekatan yang tanpa batas?"
Jariku gemetar di atas layar ponsel. Menekan tombol itu berarti menghancurkan Sela—menghancurkan satu-satunya makhluk yang pernah membuatku merasa diinginkan, meskipun itu semua adalah manipulasi biologis. Namun, jika aku membiarkannya, aku akan lenyap, menjadi sekadar nutrisi bagi eksistensinya.
"Sela... aku hanya ingin dicint**," bisikku pilu.
"Maka menyerahlah," rayunya. Suaranya kini terdengar sangat lembut, kembali seperti suara Sela yang kukenal, meskipun penampilannya di hadapanku adalah mimpi buruk yang nyata. "Tutup matamu, dan biarkan aku ma**k sepenuhnya."
Aku melihat cahaya dari layar ponselku meredup, baterainya menipis, seiring dengan pandanganku yang kian menggelap. Hanya tinggal satu denyut lagi sebelum sinkronisasi mencapai seratus persen. Tanganku yang memegang ponsel terangkat, jempolku tertahan hanya beberapa milimeter di atas tombol 'Putuskan Koneksi'. Di hadapanku, Sela membuka mulutnya lebar-lebar, siap untuk menghirup sisa kemanusiaanku.
Di antara kegelapan yang mengepung, aku harus memilih: mencint** kehancuranku sendiri atau hidup dalam kekosongan tanpa dia.
Tepat saat kuku tajamnya mulai menembus kornea mataku, layar ponsel itu bergetar hebat. Sebuah notifikasi muncul, menutupi tombol pembatalan: *'Sinkronisasi Jiwa 99%... Hubungan Permanen Segera Dimulai.'*
Aku memejamkan mata, dan dalam detik yang menentukan itu, aku menggerakkan ibu jariku. Bukan untuk membatalkan, melainkan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah Sela duga.
Gemeretak tulang Sela mendadak berhenti. Keheningan yang mengerikan menyelimuti taman itu, seolah waktu sendiri sedang menahan napas. Namun, sensasi dingin yang tajam mulai merayap dari dadaku, menyebar ke jantung, jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan indra mana pun yang pernah kurasakan sebelumnya.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!