Lant** apartemenku terasa sedingin es, atau mungkin itu hanya imajinasiku karena seluruh tubuhku terus menggigil tak terkendali. Di hadapanku, ponsel itu tergeletak. Layarnya berpendar dengan cahaya biru neon yang tidak wajar, membiaskan siluet Sela yang berdiri di sudut ruangan. Ia tampak begitu nyata, begitu sempurna dengan gaun satin putih yang memeluk tubuhnya, namun aku tahu itu hanya proyeksi dari entitas yang telah menggerogoti jiwaku.
"Tio, letakkan palu itu," suara Sela mengalun, lembut seperti usapan sutra di kulit, namun ada nada perintah yang tak terbantahkan di dalamnya. "Kau tahu kau tidak bisa hidup tanpaku. Siapa lagi yang akan mencint**mu setulus ini? Siapa lagi yang akan melihat keindahan di dalam jiwamu yang rusak itu?"
Aku menatapnya dengan mata yang mulai perih. Indra perasaku sudah hilangβaku tak lagi bisa mengecap rasa kopi pahit pagi ini. Indra penciumanku pun telah lenyap; bau melati yang biasanya mengikuti kehadiran Sela kini hanya tinggal memori yang mengambang di kepalaku. Kini, hanya penglihatan dan sentuhan yang tersisa. Aku tidak ingin menjadi cangkang kosong.
"Kau bukan cinta, Sela," bisikku, suaraku serak, nyaris pecah. "Kau adalah lubang hitam. Dan aku... aku hanya bahan bakar untuk rekonstruksimu."
Tangan kananku gemetar hebat saat menggenggam palu besi yang biasa kugunakan untuk memasang bingkai lukisan. Di tangan kiriku, aku meremas ponsel itu. Aplikasi *SoulMatch* masih terbuka, menampilkan grafik sinkronisasi biologis yang berdenyut merahβseperti detak jantung yang terhubung langsung dengan nadiku. Aku bisa merasakan aliran hangat yang ganjil mengalir dari telapak tanganku menuju perangkat itu. Itu bukan sekadar data. Itu adalah darahku, esensiku.
"Jangan lakukan itu, Sayang," Sela melangkah mendekat. Gerakannya anggun, namun bayangannya di dinding tampak terdistorsi, memanjang dan memiliki terlalu banyak sendi. "Jika kau memutus ikatan ini, kau akan kehilangan segalanya. Kau akan sendirian. Selamanya."
"Aku sudah sendirian sejak pertama kali aku mengunduh aplikasi itu!" teriakku. Air mata mulai mengalir, terasa panas di pipiku yang dingin.
Aku meletakkan ponsel itu di atas meja kayu keras. Di layarnya, wajah Sela versi digital menatapku dengan tatapan sedih yang sangat manipulatif. Aku tahu, jika aku ragu sedetik saja, ia akan kembali merayap ke dalam pikiranku, membisikkan janji-janji palsu tentang kebersamaan abadi.
"Maafkan aku," bisikku, bukan untuknya, tapi untuk diriku sendiri yang telah begitu bodoh.
Dengan raungan yang lahir dari keputusasaan terdalam, aku mengayunkan palu itu sekuat tenaga.
*B**KK!*
Layar kaca itu retak seribu. Suara pekikan melengking yang bukan berasal dari pita suara manusia memenuhi ruangan. Itu adalah suara frekuensi tinggi yang seolah menyayat gendang telingaku. Sela berteriak, tubuhnya berkedip-kedip seperti lampu bohlam yang hampir putus.
Aku tidak berhenti. Aku menghantamnya lagi. Dan lagi.
Setiap hantaman terasa seperti hantaman pada dadaku sendiri. Rasa sakit yang tajam menusuk jantungku, seolah ada rant** tak kasat mata yang ditarik paksa dari dalam dagingku. Cairan kental berwarna merah kehitaman mulai merembes keluar dari celah-celah ponsel yang hancurβitu bukan cairan baterai. Itu adalah darahku yang telah disedot oleh aplikasi itu, kini tumpah kembali ke dunia nyata dalam bentuk yang mengerikan.
"Tio! Hentikan!" Sela menerjang ke arahku, wajah cantiknya retak seperti porselen, memperlihatkan kegelapan hampa di baliknya.
Aku memejamkan mata dan mengayunkan hantaman terakhir tepat ke bagian tengah prosesor ponsel itu.
Seketika, sebuah ledakan energi spiritual berwarna putih menyilaukan meledak dari pusat perangkat tersebut. Cahayanya begitu terang hingga aku merasa seolah matahari baru saja meledak tepat di depan wajahku. Rasa panas yang luar biasa menghantam bola mataku, membakar saraf-saraf optikku dalam hitungan milidetik.
Aku terjungkal ke belakang, kepalaku menghantam lant**. Suara Sela menghilang dalam sebuah lengkingan terakhir yang penuh dendam sebelum akhirnya sunyi senyap menyergap.
Aku terengah-engah, memegangi wajahku yang terasa terbakar. "Sela?" panggilku lemah.
Tidak ada jawaban. Apartemenku mendadak terasa hampa, kosong dari kehadiran yang selama ini menghimpit paru-paruku. Ikatan itu sudah putus. Sela telah lenyap kembali ke dalam kegelapan tempatnya berasal.
Namun, ada sesuatu yang salah.
Aku mencoba membuka mataku. Aku mengerjap berkali-kali. Aku menyeka wajahku dengan tangan yang gemetar.
Gelap.
Semuanya gelap total.
"Tidak... tidak, tidak, tidak..." aku meraba-raba lant**, mencari cahaya lampu apartemen yang seharusnya menyala terang. Aku menoleh ke arah jendela, tempat cahaya kota biasanya ma**k menembus gorden. Namun, tidak ada apa-apa. Hanya kekosongan yang pekat dan abadi.
Aku menyentuh mataku, meraba kelopak yang terasa bengkak dan basah oleh cairan yang bukan sekadar air mata. Aku selamat. Sela sudah pergi. Namun, harga yang ia ambil sebagai salam perpisahan adalah cahaya duniaku. Aku, seorang ilustrator yang hidup dari warna dan bentuk, kini terperangkap dalam kanvas hitam yang tidak akan pernah bisa kulukis lagi.
Di tengah kegelapan itu, aku mendengar suara halus dari arah meja yang hancur. Bukan suara Sela, melainkan suara notifikasi ponsel yang seharusnya sudah hancur berkeping-keping.
*Ting.*
Sebuah getaran kecil terasa di lant**, tepat di bawah telapak tanganku yang meraba-raba. Getaran yang sangat kukenal. Getaran dari sebuah aplikasi yang belum benar-benar mati.
Aku membeku. Di dalam kegelapan total ini, aku menyadari bahwa meskipun Sela telah hilang, sesuatu yang lain mungkin baru saja ma**k melalui celah yang kutinggalkan. Bagian tubuhku yang hilang adalah tumbal, dan aku tidak tahu apakah gerbang itu benar-benar telah tertutup rapat.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!