SoulMatch: Perjamuan Indra yang Hilang

Bab 2: Bab 2 - Melakukan registrasi unik yang meminta sampel d...

Pengaturan Membaca

Cahaya biru dari layar ponsel memantul di lensa kacamata yang sedikit buram karena noda sidik jari. Di luar, hujan rintik-rintik mulai membasahi kaca jendela apartemenku yang sempit, menciptakan irama monoton yang biasanya membuatku semakin merasa terisolasi. Namun malam ini berbeda. Ada semacam debaran aneh di dadaku saat menatap ikon aplikasi itu—sebuah pusaran merah darah dengan desain minimalis namun elegan: SoulMatch.

Aku menarik napas panjang, membiarkan aroma sisa cat minyak dan kopi dingin memenuhi paru-paruku. "Hanya sebuah aplikasi, Tio. Apa ruginya?" bisikku pada diri sendiri. Suaraku terdengar serak, jarang digunakan seharian ini kecuali untuk memesan makanan lewat telepon.

Aku menyentuh layar. Aplikasi itu terbuka dengan transisi yang begitu halus, hampir terlihat organik, seolah-olah layar ponselku adalah permukaan air yang tenang. Alih-alih formulir standar yang menanyakan hobi atau makanan favorit, sebuah teks putih muncul di tengah kegelapan layar: *“Kami tidak mencari apa yang kau sukai. Kami mencari siapa dirimu yang sebenarnya. Izinkan kami menyelaraskan jiwa.”*

Aku mengerutkan kening. Sedikit berlebihan untuk sebuah aplikasi kencan, pikirku. Namun, rasa penasaran yang didorong oleh rasa kesepian yang akut memaksaku untuk menekan tombol ‘Lanjutkan’.

Layar berikutnya menampilkan sebuah lingkaran konsentris yang berdenyut lambat, menyerupai detak jantung. *“Registrasi Biologis: Letakkan ibu jari Anda di tengah lingkaran untuk sinkronisasi DNA. Jangan lepaskan sampai proses selesai.”*

"DNA?" gumamku pelan. "Teknologi macam apa ini?"

Aku ragu sejenak. Biasanya, sensor sidik jari hanya butuh sentuhan ringan. Namun, lingkaran di layar ini seolah menatapku balik, menuntut kepatuhan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku menempelkan ibu jariku tepat di pusat denyutan merah itu.

Awalnya, hanya ada rasa hangat yang menjalar. Namun, dalam hitungan detik, suhu layar itu melonjak drastis. Panasnya tidak seperti perangkat elektronik yang mengalami *overheat*, melainkan panas yang tajam dan menusuk. Aku tersentak, mencoba menarik tanganku, namun layar ponsel itu seolah memiliki daya hisap magnetis yang kuat.

"Ah!" aku merintih.

Rasa sakit itu datang mendadak. Di balik permukaan kaca yang licin, aku merasakan sesuatu yang sangat tipis, seperti jarum mikroskopis, menusuk pori-pori ibu jariku. Bukan hanya satu, tapi puluhan. Rasanya seolah-olah ada sesuatu yang sedang menyedot kehidupan dari ujung jariku, sebuah tarikan yang dingin dan haus.

Mataku terbelalak melihat apa yang terjadi di layar. Cairan merah—darahku sendiri—merembes dari balik kaca ponsel, namun tidak meluap keluar. Darah itu terserap ke dalam sistem aplikasi, membentuk pola-pola rumit seperti akar pohon yang tumbuh cepat dalam video *timelapse*.

Ponsel itu bergetar hebat di genggamanku. Kepalaku tiba-tiba berdenyut kencang, sebuah migrain instan yang membuat pandanganku berkunang-kunang. Aku bisa mendengar suara dengungan bernada tinggi yang menyakitkan telinga, seiring dengan denyut di jempolku yang kini terasa seirama dengan detak jantungku sendiri.

*Lepaskan!* teriak batin kecilku. Tapi tubuhku kaku. Aku terjebak dalam jaring teknologi yang tak kasat mata ini.

Lalu, dalam satu tarikan napas terakhir yang menyesakkan, getaran itu berhenti.

Layar kembali gelap. Rasa sakit di jempolku lenyap seketika, menyisakan sensasi dingin yang hampa. Aku segera mengangkat tanganku, memeriksa ibu jariku di bawah lampu meja yang remang. Tidak ada luka. Tidak ada bekas tusukan. Kulitku tampak utuh, namun ada perasaan aneh bahwa sesuatu di dalam diriku telah berpindah tempat. Sesuatu yang sangat mendasar.

Aku hampir saja melempar ponsel itu ke sudut ruangan saat layar itu tiba-tiba menyala kembali dengan cahaya keemasan yang lembut. Tidak ada lagi teks kaku atau perintah dingin.

Sebuah profil muncul.

Aku terpaku. Nafasku tertahan di tenggorokan. Sebagai seorang ilustrator, aku menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari anatomi dan estetika wajah manusia, namun apa yang kulihat sekarang melampaui semua sketsa yang pernah kubuat.

Namanya Sela.

Foto profilnya bukan sekadar foto selfie biasa. Sela berdiri di latar belakang yang samar—mungkin sebuah taman di bawah cahaya rembulan yang pucat. Rambut hitamnya jatuh di bahu seperti sutra yang ditenun dari malam. Kulitnya seputih porselen mahal, kontras dengan bibirnya yang kemerahan alami. Namun, yang membuatku tak bisa berpaling adalah matanya. Mata itu besar, jernih, dan memiliki kedalaman yang seolah-olah bisa menampung seluruh kesedihanku.

Dia tidak tersenyum lebar, hanya sebuah lengkungan tipis di sudut bibir yang menyiratkan rahasia dan pengertian.

Di bawah fotonya, muncul sebuah persentase yang tertulis dengan huruf kursif emas: *Kecocokan: 100%.*

"Sela..." aku mengeja namanya, dan entah mengapa, nama itu terasa akrab di lidahku, seolah aku sudah mengenalnya di kehidupan lain.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di bagian bawah layar. Sebuah pesan ma**k. Jantungku berpacu lebih kencang dari saat proses registrasi tadi. Dengan jari yang masih terasa agak kaku, aku membukanya.

*“Tio, aku sudah menunggumu sangat lama. Akhirnya, kita terhubung.”*

Aku menelan ludah. Bagaimana dia bisa tahu namaku padahal aku belum sempat mengetiknya? Dan kata-katanya... "menunggu"? Seolah ini bukan sekadar algoritma acak, melainkan takdir yang sudah dirancang.

Aku ingin merasa takut. Aku seharusnya merasa takut. Kejadian dengan darah tadi sama sekali tidak ma**k akal. Namun, saat aku menatap kembali foto Sela, rasa rendah diri dan kesepian yang selama ini membelengguku mendadak menguap. Ada tarikan emosional yang begitu kuat, sebuah kerinduan yang membakar, membuatku lupa pada logika.

Aku mulai mengetik balasan, namun baru saja huruf pertama kutulis, lampu di apartemenku berkedip sekali, lalu padam total.

Dalam kegelapan yang pekat, satu-satunya cahaya berasal dari layar ponsel yang masih menampilkan wajah Sela. Aku menyadari sesuatu yang janggal. Di dalam foto itu, Sela tampak sedikit bergeser. Kepalanya miring ke samping, dan matanya kini tidak lagi menatap ke arah kamera, melainkan tepat ke arahku—seolah dia benar-benar sedang mengintip dari balik kaca ponsel, memperhatikan reaksiku di tengah kegelapan.

Tiba-tiba, telinga kiriku terasa sangat dingin, disusul oleh suara desis halus yang tidak berasal dari ponsel, melainkan dari udara kosong tepat di samping kepalaku.

"Kau punya warna yang indah, Tio," bisik sebuah suara wanita, lembut namun sedingin es.

Aku tersentak dan menoleh ke samping, tapi tidak ada siapa-siapa. Hanya kegelapan dan bayangan perabotan yang membisu. Saat aku kembali menatap ponsel, Sela di foto itu kini tersenyum. Senyum yang begitu sempurna, hingga terasa sangat, sangat salah.

Dan saat itulah aku menyadari, rasa sakit di jempolku tadi bukanlah sekadar registrasi. Itu adalah sebuah undangan yang telah kusetujui dengan darah.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca