SoulMatch: Perjamuan Indra yang Hilang

Bab 4: Bab 4 - Menyadari bahwa ia kehilangan indra penciuman s...

Pengaturan Membaca

Sisa kehangatan jemari Sela seolah masih tertinggal di punggung tanganku saat aku melangkah ma**k ke dalam apartemen yang remang. Aku tersenyum sendiri, sebuah ekspresi yang jarang menghiasi wajahku selama bertahun-tahun ini. Udara malam ini terasa berbeda—lebih ringan, lebih menjanjikan. Sela adalah segalanya yang pernah aku lukiskan dalam lamunan paling rahasia: cerdas, misterius, dan entah bagaimana, ia tampak memahami setiap luka yang kusembunyikan di balik kanvas-kanvasku.

Aku melepas jaket jeans-ku, lalu secara refleks mendekatkannya ke hidung. Aku ingin menghirup aroma parfum Sela yang tertinggal di sana—aroma melati hutan dan tanah basah yang begitu memabukkan saat kami berpelukan di depan lobi tadi.

Namun, yang kutemukan hanyalah hampa.

Aku mengerutkan kening, menghirup lebih dalam sampai paru-paruku terasa penuh. Tidak ada. Tidak ada bau parfum, tidak ada bau keringat tipis dari sisa aktivitas seharian, bahkan tidak ada bau apek kain yang biasanya tercium dari jaket tua itu. Aku merasa seolah sedang menghirup udara yang telah disaring melalui ribuan lapis beton. Kosong.

"Mungkin karena flu," gumamku pelan, meski aku tahu badanku terasa sangat bugar.

Aku berjalan menuju dapur, menyambar stoples kopi Arabica yang biasanya sanggup memenuhi seluruh ruangan dengan aroma tajamnya begitu tutupnya dibuka. Aku membenamkan hidungku ke dalam stoples itu, menarik napas panjang hingga butiran bubuk hitam itu nyaris terhirup ma**k.

Nol. Tidak ada aroma apa pun. Itu seperti aku sedang mengendus tumpukan pasir yang tidak bernyawa.

Rasa dingin mulai merayap dari ujung kakiku. Aku beralih ke kamar mandi, menyambar botol pembersih lant** yang mengandung pemutih. Cairan kimia keras itu seharusnya membuat hidungku perih dan menyengat. Aku membuka tutupnya dan menghirupnya dengan nekat. Mataku mulai berair karena uap kimianya yang keras mengenai selaput mataku, tapi hidungku? Hidungku tetap membisu. Syaraf-syaraf di sana seolah telah diputus paksa dari otakku.

Ketakutan itu kini tidak lagi merayap, ia menghantamku seperti ombak pasang.

Aku menyambar kunci mobil dan dompetku, berlari keluar menuju klinik 24 jam terdekat. Sepanjang perjalanan, aku terus mencoba mengendus udara di dalam mobil, mengendus tanganku sendiri, bahkan mengendus sabuk pengaman. Hasilnya tetap sama. Dunia telah kehilangan dimensinya yang satu ini. Aku terjebak dalam sebuah film bisu, namun dalam aspek penciuman.

"Semuanya tampak normal, Mas Tio," kata Dokter Gunawan setelah memeriksa rongga hidungku dengan senter kecil dan alat spekulum yang dingin. Ia menggelengkan kepala sambil menatap layar monitor. "Tidak ada inflamasi, tidak ada polip, sinus Anda bersih. Bahkan tidak ada tanda-tanda alergi atau iritasi kimia."

"Tapi saya tidak bisa mencium apa-apa, Dok! Sama sekali nol!" suaraku meninggi, bergetar karena panik yang mulai tak terkendali. "Saya baru saja mencium pemutih pakaian dan hidung saya tidak bereaksi!"

Dokter itu menghela napas, melepaskan sarung tangan latex-nya dengan suara *plak* yang tajam. "Secara fisiologis, alat penciuman Anda sehat. Syaraf penciuman biasanya tidak mati secara mendadak tanpa trauma kepala yang hebat atau infeksi virus yang parah. Apa Mas sedang stres? Tekanan pekerjaan yang berlebihan terkadang bisa memicu gangguan psikosomatik."

Psikosomatik. Kata itu terdengar seperti penghinaan bagiku. Aku tahu apa yang kurasakan—atau lebih tepatnya, apa yang tidak kurasakan.

"Mungkin ini hanya sementara. Beristirahatlah. Saya akan resepkan multivitamin untuk saraf," tambahnya dengan nada meremehkan yang dibungkus profesionalisme.

Aku keluar dari klinik dengan langkah gont**. Udara malam yang biasanya berbau asap knalpot dan sate ayam dari pedagang kaki lima di pinggir jalan, kini terasa steril. Seolah-olah aku sedang berjalan di dalam sebuah kubah kaca raksasa yang hampa udara.

Sesampainya di apartemen, aku duduk di tepi tempat tidur, menatap kegelapan. Aku seorang ilustrator. Aku hidup dari det**l. Bagaimana mungkin aku bisa melukis kehangatan pagi jika aku tidak bisa lagi mengingat bau kopi yang baru diseduh? Bagaimana aku bisa melukis hujan jika bau tanah yang basah telah terhapus dari memoriku?

Tiba-tiba, ponselku di atas nakas bergetar. Cahayanya membelah kegelapan kamar, memantul di pupil mataku yang melebar. Sebuah notifikasi muncul dari SoulMatch. Jantungku berdegup kencang saat melihat logo hati berwarna merah darah yang berdenyut di layar.

Aku menyentuh layar itu dengan jari yang gemetar.

Sebuah pesan muncul dengan animasi kembang api digital yang meriah.

*“Selamat, Tio! Sinkronisasi Biologis Tahap Pertama Berhasil!”*

Aku mengerutkan dahi. Sinkronisasi? Di bawah pesan itu, terdapat sebuah grafik kemajuan yang menunjukkan angka 20% dengan keterangan: *Penyatuan Indra: Penciuman – SINKRONISASI SELESAI.*

Di bawah grafik itu, ada pesan tambahan yang membuat bulu kudukku berdiri:

*“Terima kasih telah berbagi. Sela kini bisa mencium aroma mawar yang kau sukai, aroma hujan yang kau damba, dan aroma dirimu sendiri yang kini menjadi miliknya. Pengorbananmu adalah bukti cinta yang sejati.”*

Jariku gemetar hebat saat mencoba menutup aplikasi itu, tapi layarnya membeku. Foto profil Sela muncul di sana. Dia tersenyum, namun entah mengapa, senyumnya kali ini terlihat berbeda. Matanya yang indah tampak lebih berkilau, lebih hidup, seolah-olah dia baru saja menghirup napas kehidupan yang baru.

Lalu, sebuah notifikasi baru muncul. Pesan singkat dari Sela.

*“Tio, terima kasih untuk malam ini. Tiba-tiba saja aku merasa begitu segar. Wangi parfum yang kau pakai tadi... aku bisa merasakannya di dalam paru-paruku sekarang. Sampai jumpa besok, Sayang. Aku tidak sabar untuk ‘melihat’ dunia lebih banyak lagi bersamamu.”*

Ponsel itu jatuh dari genggamanku ke atas lant** kayu. Di tengah keheningan kamar yang tak berbau itu, aku menyadari satu hal yang mengerikan. Aku tidak kehilangan indra penciumanku karena penyakit. Aku telah memberikan indra itu kepadanya.

Dan yang paling menakutkan adalah, sebagian kecil dari diriku merasa rela jika itu membuat Sela bahagia.

Tiba-tiba, mataku terasa perih. Penglihatanku sedikit mengabur, bukan karena air mata, melainkan karena layar ponselku yang mendadak bersinar jauh lebih terang dari biasanya, seolah-olah ia sedang bersiap untuk mengambil sesuatu yang lain dariku.

Aku memejamkan mata rapat-rapat, namun di dalam kegelapan itu, aku mendengar suara bisikan Sela di telingaku, padahal aku sendirian di kamar.

"Hanya tinggal empat lagi, Tio..."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca