Lampu gantung kristal di restoran ini berpendar lembut, memantulkan cahaya keemasan pada permukaan gelas anggur yang berkilau. Di depanku, Sela duduk dengan anggun, mengenakan gaun sutra berwarna merah marun yang tampak menyatu dengan suasana remang-remang ruangan. Ia tersenyum, sebuah lengkungan bibir yang selalu berhasil membuat dadaku berdegup kencang sekaligus meredam suara-suara kecemasan di kepalaku.
Sudah dua hari aku dihantui keganjilan. Sejak pertemuan terakhir kami, hidungku seolah mogok bekerja. Bau cat minyak di studio, aroma kopi pagi yang tajam, bahkan bau apek di apartemenkuβsemuanya lenyap. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa itu hanyalah efek samping stres atau flu yang terlambat datang. Malam ini, aku ingin melupakan segalanya. Aku ingin tenggelam dalam pesona Sela dan membuktikan bahwa dunia masih baik-baik saja.
"Kau melamun lagi, Tio," suara Sela lembut, seperti gesekan biola yang merdu. Ia mengulurkan tangan, menyentuh punggung tanganku di atas meja. Kulitnya dingin, namun sentuhan itu mengirimkan aliran listrik yang membuat bulu kudukku berdiri. "Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
Aku menggeleng cepat, mencoba memberikan senyum terbaikku meski otot wajahku terasa kaku. "Hanya... sedikit lelah dengan tenggat waktu ilustrasi. Tapi melihatmu sekarang, rasanya semua itu tidak penting lagi."
Sela terkekeh pelalu. Matanya yang gelap seolah mampu membaca setiap ketakutan yang kusembunyikan di balik pupil mataku. "Malam ini tentang kita, Tio. SoulMatch bilang kita adalah pasangan yang sempurna secara biologis. Kau merasakannya, kan? Getaran itu?"
"Ya," bisikku jujur. Aku memang merasakannya. Setiap kali di dekatnya, aku merasa utuh, seolah lubang besar dalam jiwaku perlahan tertutup. "Aku merasa... kau adalah potongan puzzle yang selama ini kucari."
Pelayan datang membawa dua piring hidangan utama. Aroma kepulan uap dari *Beef Wellington* saus *truffle* dan *risotto* jamur seharusnya memenuhi rongga dadaku dengan gairah lapar yang liar. Aku melihat Sela menghirup napas dalam-dalam, ekspresinya tampak begitu puas.
"Baunya luar biasa, bukan?" tanya Sela sambil memegang pisau peraknya.
Aku hanya mengangguk pelan, berusaha mengabaikan fakta bahwa hidungku masih tumpul. *Tidak apa-apa,* batinku. *Setidaknya lidahku masih bisa berpesta.*
Aku memotong seiris kecil daging sapi yang berwarna merah muda sempurna di bagian tengahnya. Teksturnya terlihat begitu *juicy*, dengan lapisan *pastry* yang renyah dan mengkilap. Aku menyuapkannya ke dalam mulut dengan ekspektasi tinggi, siap untuk merasakan ledakan rasa gurih, umami, dan aroma tanah dari *truffle* yang legendaris itu.
Aku mengunyah.
Sekali. Dua kali.
Keningku berkerut. Aku mengunyah lebih lama, membiarkan potongan daging itu menyentuh setiap jengkal lidahku. Namun, ada yang salah. Rasanya seperti aku sedang mengunyah sepotong spons basah atau karet yang tidak memiliki identitas. Tidak ada rasa asin yang menggigit, tidak ada rasa manis dari lemak daging, bahkan tidak ada sensasi rempah yang seharusnya meledak.
Aku menelan paksa, kerongkonganku terasa serat.
"Bagaimana? Enak?" Sela menatapku dengan mata yang berbinar penuh antisipasi. Ia baru saja menyuap sesendok *risotto* ke mulutnya, dan wajahnya memancarkan kenikmatan yang begitu tulus.
"Ya... enak sekali," bohongku. Suaraku terdengar sedikit serak di telingaku sendiri.
Aku mencoba sesendok saus *truffle* yang kental. Nihil. Saus itu hanya terasa seperti cairan kental yang hangat dan berminyak di lidahku. Tidak ada rasa. Benar-benar hambar, seolah lidahku baru saja disuntik anestesi total. Aku mulai panik. Dengan tangan sedikit gemetar, aku meraih gelas anggur merah yang harganya setara dengan hasil kerjaku selama seminggu. Aku meneguknya, berharap rasa tajam alkohol dan asam dari buah anggur bisa memicu sensor perasaku.
Cairan itu mengalir melewati tenggorokanku. Rasanya seperti meminum air tawar suam-suam kuku yang sedikit berlendir.
Jantungku mulai berdegup kencang, menghantam dinding dadaku dengan liar. Aku meletakkan gelas dengan sedikit terlalu keras hingga bunyinya berdenting tajam di tengah sunyinya restoran.
"Tio? Kau pucat sekali," Sela memiringkan kepalanya, ekspresi cemas menghiasi wajah cantiknya, namun entah mengapa, ada kilatan aneh di kedalaman matanyaβsesuatu yang tampak seperti pemuasan rasa lapar yang dalam.
"Aku... aku hanya butuh ke kamar mandi sebentar," ujarku terbata-bata. Aku berdiri dengan terhuyung, hampir menab**k kursi di belakangku.
Aku bergegas menuju toilet pria, mengunci diri di salah satu bilik. Napas mencekat di tenggorokan. Aku merogoh saku, mengeluarkan permen mentol yang selalu kubawa. Aku mema**kkan dua butir sekaligus ke dalam mulutku. Aku menunggu sensasi dingin yang menusuk, rasa pedas yang seharusnya membuat mataku berair.
Tidak ada.
Hanya ada benda keras yang menggelinding di atas lidahku. Benda itu mencair, hancur, namun tidak memberikan rangsangan apa pun. Aku mencoba menjilat punggung tanganku, mencoba merasakan rasa asin alami dari kulitku sendiri. Kosong. Semuanya mati.
Aku berdiri di depan cermin wastafel, menatap pantulan wajahku yang tampak seperti mayat hidup. Aku membuka mulut lebar-lebar, memperhatikan lidahku. Warnanya masih merah muda normal, tidak ada tanda-tanda kerusakan fisik. Namun, bagian dari diriku telah dicuri.
Pertama, indra penciumanku. Sekarang, indra perasaku.
Aku teringat algoritma SoulMatch. *Sinkronisasi biologis.* Apakah ini harganya? Apakah setiap kali aku merasa semakin jatuh cinta, setiap kali jiwaku merasa "cocok" dengannya, ada bagian dari kemanusiaanku yang harus dibayarkan?
Saat aku keluar dari toilet dengan kaki yang terasa seperti kapas, aku melihat Sela dari kejauhan. Ia sedang duduk dengan tenang, menatap lilin yang menyala di tengah meja. Dalam remang cahaya, bayangannya di dinding tampak jauh lebih besar, lebih tua, dan lebih mengerikan daripada bentuk fisiknya yang mungil. Bayangan itu seolah memiliki banyak tangan yang menjulur, meraba udara seolah mencari sesuatu untuk diraih.
Aku kembali ke meja dengan sisa-sisa keberanianku yang hancur. Sela menatapku saat aku duduk, senyumnya kini tampak begitu lebar, lebih lebar dari biasanya.
"Kau merasa lebih baik sekarang?" tanyanya. Suaranya terdengar begitu dekat, seolah berbisik langsung di dalam otakku.
Aku hanya bisa mengangguk lemah. Saat ia kembali meraih tanganku dan menggenggamnya erat, aku menyadari satu hal yang lebih mengerikan dari kehilangan rasa pada lidahku. Genggamannya terasa begitu memuaskan. Begitu melengkapi. Aku begitu takut kehilangan dia, hingga rasa ngeri ini terkalahkan oleh keinginan untuk terus bersamanyaβbahkan jika aku harus menghabiskan sisa hidupku mengunyah debu yang terasa seperti abu mayat.
"Habiskan makanannya, Tio," bisiknya lembut, matanya kini tampak berkilau dengan pantulan cahaya lilin yang mirip dengan pupil mata predator. "Bukankah kau ingin menjadi bagian dariku seutuhnya?"
Aku mengambil pisau dan garpu dengan tangan lemas, menatap piring di depanku yang kini tak lebih dari onggokan materi tanpa nyawa. Di saat yang sama, aku merasakan sebuah sensasi dingin yang merayap di telingaku, membuat suara riuh rendah di restoran itu perlahan-lahan mulai memudar menjadi sunyi yang hampa.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!