Kopi pagi itu tidak lebih dari sekadar cairan panas yang mengalir melewati kerongkonganku. Tak ada aroma biji arabika yang biasanya memenuhi dapur, tak ada semburat rasa asam atau pahit yang tertinggal di lidah. Hanya hambar. Kehilangan indra penciuman dan perasa beberapa hari lalu bukan lagi sekadar gangguan medis bagiku; itu adalah sebuah peringatan yang berdenyut di balik tempurung kepalaku.
Aku duduk di depan monitor yang masih menyala, jemariku yang gemetar menari di atas kibor. Cahaya biru dari layar memantul di kacamataku, memperlihatkan kantung mata yang kian menghitam. Sejak pertemuan terakhir dengan Sela di taman—saat dia menyentuh pipiku dan duniaku seolah meledak dalam warna yang tak pernah kulihat sebelumnya—sesuatu dalam diriku terasa tercerabut.
Aku mencint** Sela. Rasa itu nyata, mencekik, dan candu. Namun, setiap kali kerinduan itu memuncak, ada bagian dari kemanusiaanku yang dipaksa tanggal.
"Siapa kau sebenarnya, SoulMatch?" bisikku pada keheningan apartemen yang menyesakkan.
Aku mulai membedah aplikasi itu. Sebagai seorang ilustrator, aku bukan ahli kode, tapi aku tahu cara mencari jejak digital. Aku menggulir bagian 'Syarat dan Ketentuan' yang biasanya diabaikan semua orang. Di baris paling bawah, tertulis nama perusahaan pengembang: *Aethelgard Biometrics*. Alamatnya tertera di pinggiran Jakarta, sebuah kawasan industri tua di daerah Pulogadung.
Aku mencoba mencari nama perusahaan itu di mesin pencari. Hasilnya? Nol. Tidak ada profil LinkedIn, tidak ada berita peresmian, bahkan tidak ada di daftar resmi Kementerian Hukum dan HAM. Seolah-olah perusahaan ini ditenun dari kabut.
Rasa penasaran yang bercampur dengan ketakutan mendorongku untuk mengambil kunci motor. Aku harus tahu. Jika Sela adalah manifestasi dari aplikasi ini, maka aku harus tahu siapa yang memprogram "impian" yang perlahan-lahan membunuhku ini.
Perjalanan menuju alamat itu memakan waktu dua jam menembus kemacetan yang bising. Klakson bersahutan, tapi bagiku, suara-suara itu terasa jauh dan terdistorsi, seolah aku sedang berada di bawah air. Indera pendengaranku mulai terasa tidak beres.
Saat aku tiba di titik GPS, aku mengerem mendadak. Ban motorku mencicit di atas aspal yang retak.
"Ini tidak mungkin," gumamku.
Di depanku berdiri sebuah gedung perkantoran delapan lant** yang tampak seperti bangkai raksasa. Jendela-jendelanya pecah, menyisakan lubang-lubang hitam yang menyerupai rongga mata tengkorak. Tanaman merambat merayap liar di dinding beton yang mengelupas, menutupi papan nama yang sudah berkarat dan tak terbaca lagi.
Aku turun dari motor, langkahku terasa berat saat melewati gerbang besi yang sudah miring dari engselnya. Suasana di sini sangat kontras dengan kemewahan antarmuka aplikasi SoulMatch yang minimalis dan elegan. Di sini hanya ada bau debu dan lembap—setidaknya, itulah yang dibayangkan otakku, karena hidungku tetap tidak menangkap apa pun.
"Cari siapa, Mas?"
Sebuah suara serak mengejutkanku. Aku berbalik dan menemukan seorang pria tua dengan seragam satpam yang sudah pudar warnanya, duduk di sebuah kursi plastik di bawah pohon kamboja. Matanya keruh, memandangku dengan tatapan kosong.
"Saya mencari kantor Aethelgard Biometrics. Di alamat ini," kataku sambil menunjukkan layar ponselku.
Pria itu terkekeh, suara tawanya terdengar seperti gesekan amplas. "Aethel... apa tadi? Mas, gedung ini sudah kosong sejak krisis tahun sembilan delapan. Dulu ini pabrik garmen, terus terbakar. Tidak pernah ada kantor teknologi di sini."
Jantungku berdegup kencang. "Tapi aplikasinya... SoulMatch. Kantor pusatnya terdaftar di sini."
Si satpam menggeleng perlahan. "Mungkin Mas salah alamat. Di sini cuma ada hantu dan kenangan. Tidak ada orang yang ma**k ke gedung itu selama sepuluh tahun terakhir."
Aku tidak percaya begitu saja. Aku melangkah melewati si satpam, mengabaikan peringatannya yang diteriakkan dengan suara lemah. Aku mendorong pintu lobi yang berat. Bunyi derit engselnya yang panjang membuat bulu kudukku berdiri.
Di dalam, lobi gedung itu tertutup debu setebal satu sentimeter. Tidak ada meja resepsionis, tidak ada lift yang berfungsi. Yang ada hanyalah tumpukan dokumen tua yang membusuk dan kursi-kursi patah. Aku menyalakan senter dari ponselku, menyapu cahaya ke penjuru ruangan.
Di tengah ruangan, di atas lant** marmer yang retak, aku melihat sesuatu yang janggal. Ada pola lingkaran yang digambar dengan substansi berwarna hitam pekat yang tampak segar—kontras dengan debu di sekitarnya. Di tengah lingkaran itu, terletak sebuah ponsel pintar dengan layar yang menyala terang.
Aku mendekat dengan kaki yang gemetar. Saat cahaya senterku mengenai ponsel itu, layarnya menunjukkan profil SoulMatch milikku. Foto profilku ada di sana, tapi wajahku tampak aneh. Mataku dalam foto itu tidak memiliki pupil, hanya dua lubang hitam yang dalam.
Tiba-tiba, ponsel di lant** itu bergetar. Sebuah notifikasi muncul.
*Sela ingin melakukan sinkronisasi tingkat lanjut. Apakah Anda bersedia memberikan penglihatan Anda untuk cinta abadi?*
Suara langkah kaki lembut terdengar dari arah tangga yang gelap di belakangku. Aku membeku. Aroma parfum melati yang sangat kuat mendadak menusuk hidungku—indra penciumanku kembali secara paksa, begitu tajam hingga membuat kepalaku pening. Aroma itu hanya milik satu orang.
"Tio... kau sudah sampai di rumah," bisik sebuah suara yang sangat kukenal, menggema di ruang kosong itu.
Aku memutar tubuhku perlahan. Di anak tangga pertama, Sela berdiri. Dia tampak sempurna seperti biasa, gaun putihnya bersinar di tengah kegelapan gedung tua itu. Namun, saat dia tersenyum, aku menyadari bahwa dia tidak menapak di atas debu. Kakinya melayang beberapa senti di atas lant** yang kotor, dan di belakangnya, bayangannya tidak menyerupai bentuk manusia, melainkan sesuatu yang besar, berkaki banyak, dan terus menggeliat.
"Kenapa kau datang ke sini, Sayang?" tanyanya lembut, melangkah mendekat tanpa suara. "Bukankah seharusnya kau c**up mencint**ku saja tanpa perlu bertanya?"
Aku mundur selangkah, namun pintu lobi yang tadinya terbuka kini telah tertutup rapat, dan tidak ada lagi gagang pintu di sana. Hanya tembok beton yang dingin dan bisu.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!