Lampu neon di lorong apartemen tua itu berkedip-kedip dengan suara berdengung yang mengganggu saraf, seperti serangga raksasa yang sekarat. Tio merapatkan jaketnya, merasakan keringat dingin merembes di balik kaus tipisnya. Bau apak kayu lapuk dan sisa masakan basi memenuhi udara, namun bagi Tio, indra penciumannya kini terasa seperti radio yang kehilangan sinyalβhanya menyisakan samar-samar aroma yang tak lagi tajam. Ia teringat betapa minggu lalu ia masih bisa mencium aroma parfum melati Sela yang memabukkan. Kini, semuanya terasa hambar.
Ia berhenti di depan pintu nomor 302. Cat hijaunya sudah mengelupas, menyingkap logam berkarat di bawahnya. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan ketukan ragu jemarinya pada pintu kayu tersebut.
"Halo? Pak Baskoro?" suara Tio serak, hampir tenggelam oleh suara bising jalanan di kejauhan.
Tidak ada jawaban. Tio mengeluarkan ponselnya, memeriksa kembali pesan singkat dari sebuah utas tersembunyi di forum *deep web* yang ia temukan dua malam lalu. 'Lentera_Kelam', nama akun itu, mengaku sebagai mantan pengguna SoulMatch yang berhasil 'selamat'.
Tio mencoba memutar kenop pintu. Mengejutkan, pintu itu tidak terkunci. Dengan dorongan pelan, pintu itu terbuka, mengeluarkan derit panjang yang menusuk telinga.
Ruangan di dalamnya gelap gulita. Hanya ada satu sumber cahaya: sebuah lampu meja redup di sudut ruangan yang menyinari sosok pria yang duduk mematung di kursi goyang. Tio melangkah ma**k, kakinya menginjak tumpukan koran lama dan bungkus makanan instan yang berserakan.
"Pak Baskoro? Saya Tio. Kita bicara di forum semalam," ujar Tio, tangannya gemetar.
Pria itu tidak menoleh. Kepalanya tertunduk lesu. Saat Tio mendekat, barulah ia menyadari kengerian yang tersembunyi di balik bayang-bayang. Pria itu, yang mungkin baru berusia awal empat puluhan namun tampak seperti kakek tua yang rapuh, mengenakan kacamata hitam pekat yang menutupi separuh wajahnya. Telinganya disumbat dengan kapas yang mulai menguning.
"Jangan bicara," suara pria itu berat dan pecah, seolah pita suaranya sudah lama tidak digunakan. "Aku tidak bisa mendengarmu. Dan kau tidak perlu melihat apa yang ada di balik kacamata ini."
Tio tertegun. Ia melihat sebuah papan tulis kecil di pangkuan pria itu dengan kapur yang tergeletak di sampingnya. Dengan tangan gemetar, Tio mengambil kapur dan menulis: *Aku pengguna SoulMatch. Aku bertemu Sela.*
Pria itu meraba permukaan papan tulis dengan jari-jarinya yang kasar dan kurus. Begitu ujung jarinya menyentuh tulisan tersebut, bahunya menegang. Ia menarik napas pendek yang terdengar menyakitkan.
"Sela..." bisik pria itu. Sebuah tawa pahit meledak dari tenggorokannya. "Dia menggunakan nama itu sekarang? Dulu, bagiku, namanya adalah Elena. Dia adalah segalanya. Dia adalah musik yang paling indah, lukisan yang paling sempurna, dan pelukan yang paling hangat."
Tio terpaku. Kalimat itu persis seperti apa yang ia rasakan. Sela adalah satu-satunya alasan ia merasa hidup di dunia yang dingin ini.
"Kau pikir itu cinta, bukan?" Baskoro melanjutkan tanpa menunggu respons, tatapannya yang kosong mengarah ke dinding depan. "Kau pikir kau menemukan belahan jiwa yang mengerti setiap inci luka di hatimu. Tapi SoulMatch tidak mencari pasangan untukmu, Nak. Aplikasi itu mencari *donatur*."
Baskoro perlahan melepaskan kacamata hitamnya. Tio terkesiap, melangkah mundur hingga menab**k rak buku tua. Di balik kacamata itu, tidak ada mata. Hanya ada lubang gelap yang tertutup jaringan parut yang kasar, seolah-olah bola matanya telah dicabut paksa, menyisakan rongga yang mengerikan.
"Dia mengambil mataku saat aku berjanji akan selalu menatapnya selamanya," suara Baskoro bergetar. "Dia mengambil pendengaranku saat aku bilang suaranya adalah melodi terindah yang pernah kudengar. Satu per satu, Tio. Setiap kali kau merasa 'klik', setiap kali kau merasa semakin mencint**nya, satu bagian dari kemanusiaanmu berpindah padanya."
Tio menggelengkan kepala, air mata mulai menggenang. "Tapi... dia mencint**ku. Dia membuatku merasa berharga."
"Dia bukan manusia!" Baskoro tiba-tiba berteriak, tangannya mencengkeram lengan kursi goyangnya hingga buku jarinya memutih. "Dia adalah entitas kuno yang haus akan eksistensi. Dia mencuri indramu untuk membangun kembali tubuhnya yang telah membusuk selama ribuan tahun. Semakin kau mencint**nya, semakin banyak bagian dirimu yang hilang. Kau bukan sedang berkencan, Tio. Kau sedang dipanen!"
Baskoro meraba-raba meja di sampingnya, mencari sesuatu. Ia menemukan sebuah foto tua yang sudah lecek dan menyodorkannya ke arah yang menurutnya adalah posisi Tio.
"Lihat foto ini. Ini aku sepuluh tahun lalu."
Tio mengambil foto itu. Di sana terlihat seorang pria tampan, seorang pemain biola yang tampak gagah. Namun, yang membuat jantung Tio seakan berhenti berdetak adalah latar belakangnya. Di balik pria itu, ada sebuah bayangan wanita yang samar. Meskipun wajahnya tidak sepenuhnya jelas, Tio mengenali kalung liontin berbentuk mata yang melingkar di leher wanita itu. Kalung yang sama dengan yang dipakai Sela saat mereka makan malam kemarin.
"Pergi," bisik Baskoro, suaranya kini kembali melemah. "Hapus aplikasi itu. Hancurkan ponselmu. Lari sebelum kau kehilangan segalanya. Sebelum kau menjadi cangkang kosong sepertiku."
Tio mundur perlahan, rasa mual mengaduk perutnya. Ia ingin percaya bahwa pria ini hanyalah orang g*** yang depresi, tapi hilangnya indra penciumannya sendiri adalah bukti yang tak terbantahkan.
Saat Tio sampai di ambang pintu, ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar yang retak.
*SoulMatch: Sela merindukanmu. Dia berada 50 meter dari lokasimu sekarang. Temui dia untuk sinkronisasi hati yang lebih dalam.*
Tio membeku. Di ujung koran apartemen yang gelap dan panjang, ia melihat sesosok siluet wanita berdiri di bawah lampu yang berkedip. Wanita itu mengenakan gaun putih yang melambai ditiup angin malam, kontras dengan kegelapan di sekelilingnya.
Sosok itu memiringkan kepalanya sedikit, lalu perlahan melambaikan tangan. Di tengah keheningan lorong, Tio bisa bersumpah ia mendengar suara bisikan lembut yang langsung bergema di dalam kepalanya, meski telinganya tak menangkap suara apapun.
"Tio... kenapa kau ada di sini, Sayang?"
Tio meraba dinding, kakinya terasa lemas. Ia terjepit di antara peringatan mengerikan dari pria buta di belakangnya dan tarikan magnetis dari wanita yang menjadi pusat dunianya di depan sana. Sela mulai melangkah maju, dan setiap langkahnya tidak mengeluarkan suara sama sekali, seolah-olah ia tidak berpijak di atas bumi.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!