Cahaya biru dari layar ponsel memantul di kornea mata Tio, menciptakan bayangan tajam yang menari-nari di dinding kamarnya yang temaram. Ia duduk meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk lututnya sendiri. Bau apak dari sisa mi instan yang belum dibuang bercampur dengan aroma keringat dingin yang mengucur dari pelipisnya. Tangannya gemetar hebat saat ia menatap ikon jantung merah marun yang berdenyut pelan di atas layar: *SoulMatch*.
Tio menyentuh telinga kirinya. Sunyi. Total. Sejak kencan terakhirnya dengan Sela di taman kotaβsaat ia merasakan desiran jantung yang begitu hebat hingga dadanya sesakβpendengaran sebelah kirinya lenyap. Rasanya seolah-olah seseorang telah menyumbat lubang telinganya dengan lilin panas yang membeku seketika. Ia ketakutan. Ketakutan itu jauh lebih besar daripada rasa rindunya pada Sela yang biasanya membakar habis akal sehatnya.
"C**up," bisik Tio pada kegelapan. Suaranya terdengar aneh dan tidak seimbang di kepalanya sendiri. "Aku harus mengakhiri ini."
Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan jemarinya yang bergetar. Dengan tekad yang tersisa, ia menekan lama ikon aplikasi itu. Getaran haptik terasa di ujung jarinya, dan menu kecil muncul. *Hapus Aplikasi*.
Jantung Tio berdegup kencang, seirama dengan denyut ikon di layar. Ia menekan pilihan itu.
*Apakah Anda yakin ingin menghapus SoulMatch? Seluruh data kecocokan dan kenangan akan hilang selamanya.*
"Ya," gumamnya tegas. Ia menekan tombol 'Hapus'.
Layar ponselnya berkedip sekali. Putih. Lalu kembali ke menu utama. Namun, ikon jantung merah itu masih di sana. Tetap berdenyut, seolah-olah mengejeknya. Tio mengerutkan kening. Mungkin ia salah tekan. Ia mengulangi prosesnya dengan lebih lambat, lebih teliti. Tekan lama, pilih hapus, konfirmasi.
Ikon itu menghilang selama satu detik, lalu muncul kembali dengan suara *pop* kecil yang terdengar sangat jelas di telinga kanannya yang masih berfungsi.
"Apa-apaan ini?" Tio mulai panik. Ia mencoba ma**k ke pengaturan sistem, mencari daftar aplikasi terinstal, dan mencoba melakukan *force stop*. Namun, setiap kali jarinya menyentuh opsi tersebut, layar ponselnya mendadak licin seperti belut, melompat ke menu lain seolah-olah ponsel itu memiliki kehendak sendiri.
Keringat dingin kini membasahi kausnya. Tio mencoba mematikan ponselnya. Ia menekan tombol daya sekuat tenaga. Layar menjadi gelap. Ia mengembuskan napas lega yang gemetar. Namun, kegelapan itu hanya bertahan sekejap. Tanpa disentuh, layar itu menyala kembali, menampilkan logo *SoulMatch* yang memenuhi seluruh layar. Kali ini, warnanya bukan lagi merah marun, melainkan merah gelap yang kental, menyerupai warna darah yang teroksidasi.
Tiba-tiba, ponsel itu bergetar hebat di genggamannya. Getarannya begitu kuat hingga membuat telapak tangan Tio terasa kesemutan dan perih. Ia refleks melempar ponsel itu ke atas ka**r. Ponsel itu berputar-putar, memancarkan cahaya merah yang berdenyut-denyut seperti lampu darurat di rumah sakit jiwa.
Lalu, sebuah notifikasi muncul di layar. Bukan teks, melainkan sebuah pesan suara yang otomatis terputar.
"Tio..."
Tio membeku. Itu suara Sela. Suara yang biasanya terdengar seperti melodi surgawi yang menenangkan jiwanya yang kesepian, kini terdengar berbeda. Ada lapisan statis di baliknya, suara gesekan logam yang memuakkan, seolah-olah suara itu dipaksakan keluar dari tenggorokan yang sudah lama membusuk.
"Tio, kenapa kau mencoba membuangku?"
Tio mundur hingga punggungnya menab**k lemari kayu. "Siapa kau sebenarnya?" teriaknya, meski ia tahu tidak ada yang akan menjawab selain mesin itu.
"Aku adalah semua yang kau butuhkan," suara itu kembali terdengar, kali ini lebih keras, bergema dari lubang *speaker* ponsel yang seakan-akan tidak mampu menahan volume suara tersebut. "Kau ingat bagaimana rasanya saat aku menyentuh tanganmu? Kau ingat bagaimana rasanya tidak lagi menjadi sampah yang tidak diinginkan di dunia ini?"
"Kau mengambil pendengaranku!" jerit Tio, air mata mulai menggenang. "Pergi! Keluar dari ponselku! Keluar dari hidupku!"
Suara tawa pelan muncul dari ponsel ituβtawa Sela yang biasanya renyah, kini terdengar seperti retakan tulang. "Aku tidak berada di dalam ponselmu, Tio sayang. Aku berada di dalam setiap saraf yang tersisa di tubuhmu. Kita sudah tersinkronisasi. Menghapus aplikasi ini sama saja dengan mencoba mencabut jantungmu sendiri dari dada."
Tiba-tiba, layar ponsel itu menampilkan wajah Sela. Namun, bukan Sela yang cantik dengan senyum menawannya. Gambar itu terdistorsi, wajahnya bergeser-geser seperti sinyal televisi yang rusak. Matanya hitam kelam, tanpa bagian putih sedikit pun, dan mulutnya terbuka sangat lebar, lebih lebar dari yang secara anatomis dimungkinkan oleh manusia.
"Jika kau mencoba menghapusnya lagi," suara Sela berubah menjadi geraman rendah yang membuat bulu kuduk Tio berdiri, "aku akan mengambil lebih dari sekadar fungsi telingamu. Aku akan mengambil matamu, sehingga kau hanya bisa melihatku di dalam kegelapan pikiranmu. Aku akan mengambil lidahmu, sehingga namaku menjadi satu-satunya hal yang ingin kau teriakan tapi tak bisa kau ucapkan."
Ponsel itu mendadak diam. Layarnya kembali normal, menampilkan antarmuka *SoulMatch* yang elegan seolah tidak terjadi apa-apa. Di tengah layar, ada sebuah pesan teks baru dari profil Sela:
*Sampai jumpa di kencan kita besok malam, Tio. Jangan terlambat. Aku sangat lapar akan kehadiranmu.*
Tio menatap ponsel itu dengan horor. Ia merasa mual. Saat ia mencoba bangkit, ia menyadari sesuatu yang lebih mengerikan. Pandangan mata kanannya mulai mengabur, seolah-olah ada kabut tipis yang merayap ma**k ke dalam penglihatannya. Ia mengucek matanya berulang kali, namun kabut itu tidak hilang. Kabut itu justru mulai membentuk siluet seorang wanita yang berdiri tepat di belakang bayangannya di cermin lemari.
Tio tidak berani menoleh. Ia tahu, di dunia nyata, ia sendirian di kamar itu. Namun di dalam indranya yang kian terkikis, Sela sudah berada di sana, menunggunya. Dan ia baru saja menyadari bahwa ponsel itu bukan lagi sebuah alat komunikasi, melainkan sebuah jerat leher yang semakin kencang setiap kali ia mencoba berontak.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!