Cangkir kopi di atas meja kerja itu masih mengepulkan uap tipis, tetapi bagiku, ia tak lebih dari sekadar pajangan mati. Aku menyesapnya, berharap ada secercah rasa pahit yang membakar lidah atau aroma kuat yang menusuk hidung. Nihil. Cairan itu terasa seperti air tawar hangat yang hambar. Penciumanku sudah hilang minggu lalu, dan pagi ini, indra pengecapku menyusul ma**k ke dalam lubang hitam yang sama.
Aku menatap layar ponsel yang menyala, menampilkan logo 'SoulMatch' yang berdenyut pelan, seperti detak jantung yang terperangkap dalam kaca dan sirkuit. Setiap kali aku merasa begitu dekat dengan Sela, setiap kali jantungku berdegup kencang karena kasih sayangnya, duniaku justru menjadi lebih sunyi dan datar.
Suara kunci pintu berputar menghentikan lamunanku. Sela melangkah ma**k, membawa kantong belanjaan kecil. Dia mengenakan gaun berwarna gading yang membuat kulitnya tampak hampir transparan di bawah sinar matahari pagi. Dia tersenyum, sebuah lengkungan bibir yang biasanya mampu menghapus seluruh kegelisahanku dalam sekejap.
"Aku membawakan croissant dari toko di ujung jalan, Tio. Baunya sangat menggoda," suaranya lembut, seperti gesekan sutra.
Aku hanya menatapnya, merasa ada batu besar yang menyumbat tenggorokanku. "Sela, kita perlu bicara."
Langkahnya terhenti. Dia meletakkan kantong itu di meja, lalu mendekatiku dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang tampak begitu tulus. "Ada apa, Sayang? Kau terlihat pucat."
Aku menarik napas panjang, mencoba mencari kekuatan di tengah kehampaan sensorikku. "Indra pengecapku hilang. Tadi pagi. Dan penciumanku... kau tahu itu sudah hilang sejak makan malam romantis kita terakhir kali. Sela, ini tidak wajar. Semua ini dimulai sejak aku mengunduh aplikasi itu, sejak kita... sejak kita sinkron."
Sela tidak langsung menjawab. Dia berlutut di depanku, meletakkan tangannya yang dingin di atas lututku. Matanya yang jernih menatap langsung ke dalam mataku, mencari sesuatu di sana. "Tio, apa maksudmu? Kau menuduh hubungan kita sebagai penyebabnya?"
"Aku tidak tahu harus berpikir apa lagi!" suaraku meninggi, sedikit gemetar karena rasa takut yang selama ini kusimpan. "Setiap kali aku merasa benar-benar bahagia bersamamu, setiap kali aku merasa kita menyatu, ada bagian dari diriku yang terenggut. Aku ilustrator, Sela! Jika penglihatanku hilang, aku tidak punya apa-apa lagi. Aku takut."
Tiba-tiba, mata Sela mulai berkaca-kaca. Bibirnya gemetar hebat, seolah-olah kata-kataku baru saja menyayat jantungnya. Dia menarik tangannya dariku, seolah-olah aku baru saja membakarnya.
"Jadi... selama ini kau memandangku seperti itu?" suaranya pecah, nyaris berbisik. "Aku datang ke hidupmu saat kau berada di titik terendah. Aku memberikan seluruh perhatianku, cintaku yang belum pernah kuberikan pada siapa pun... dan sekarang kau menganggapku sebagai kutukan?"
Satu tetes air mata jatuh melewati pipinya yang porselen. Aku merasa dadaku sesak, bukan karena kehilangan indra, tapi karena rasa bersalah yang tiba-tiba menghantamku seperti godam.
"Bukan begitu, Sela, aku hanyaβ"
"Aku tidak tahu tentang teknologi itu, Tio! Aku hanya wanita yang mencari cinta melalui aplikasi bodoh itu, sama sepertimu!" Dia berdiri, membuang muka sambil terisak pelan. Bahunya berguncang. "Mungkin kau memang benar. Mungkin aku tidak pantas dicint**. Mungkin kesepianmu itu memang takdirmu, dan aku hanyalah gangguan yang kau jadikan kambing hitam atas masalah kesehatanmu."
Dia berjalan menuju pintu dengan langkah tergesa, seolah-olah dia benar-benar terluka dan ingin melarikan diri dari tuduhan kejamku. Melihatnya seperti itu, seluruh logika yang sudah kususun rapi runtuh seketika. Ketakutan terbesarkuβditinggalkan sendirian lagi, kembali ke dalam kamar apartemen yang sepi tanpa suara selain detak jam dindingβmengambil alih kendali.
"Sela, tunggu! Maafkan aku!" aku melompat dari kursi dan mengejarnya, meraih lengannya sebelum dia mencapai pintu.
Sela berhenti, tapi dia tidak berbalik. Isakannya semakin menjadi-jadi. "Kau meragukanku, Tio. Di saat aku merasa kita sudah menjadi satu jiwa, kau justru membangun tembok dan menunjukku sebagai musuh."
"Aku takut, Sela. Aku hanya takut," kataku, memutar tubuhnya agar menghadapku. Wajahnya basah oleh air mata, hidungnya memerah, dan matanya menunjukkan kerapuhan yang begitu dalam sehingga aku merasa seperti monster paling jahat di dunia. "Aku tidak bermaksud menuduhmu. Aku hanya tidak mengerti apa yang terjadi padaku."
Sela menatapku lama, sisa-sisa air mata masih menggenang di kelopak matanya yang indah. Dia perlahan mengulurkan tangan, membelai pipiku dengan jemari yang terasa semakin dinginβatau mungkin kulitku yang mulai mati rasa.
"Aku hanya ingin kau bahagia, Tio. Hanya itu," bisiknya, suaranya terdengar sangat tulus hingga menyakitkan. "Jika kehadiranku membuatmu menderita, aku akan pergi. Meskipun itu akan menghancurkanku, aku akan pergi demi kebaikanmu."
"Jangan," kataku cepat, hampir putus asa. Aku memeluknya erat, menenggelamkan wajahku di bahunya. "Jangan pergi. Aku minta maaf. Aku hanya sedang stres karena pekerjaanku. Tolong, jangan tinggalkan aku."
Dalam pelukan itu, aku tidak bisa mencium aroma parfumnya yang biasanya manis. Aku tidak bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang seharusnya menjalar. Namun, rasa ketergantungan ini lebih kuat dari akal sehat mana pun.
Sela membalas pelukanku, tangannya mendekap kepalaku dengan lembut. Aku tidak bisa melihat wajahnya saat itu, tapi aku merasakan dia membisikkan sesuatu di dekat telingaku.
"Kita akan baik-baik saja, Tio. Selama kau percaya padaku, semuanya akan sempurna. Aku akan menjagamu... hingga kau tidak perlu lagi melihat dunia yang kejam ini."
Tiba-tiba, sebuah dengingan nyaring menusuk gendang telingaku. Suara isakan Sela, suara detak jam, bahkan suara napasku sendiri mendadak meredup, seolah-olah seseorang sedang memutar tombol volume dunia menuju angka nol. Aku tersentak, mencoba melepaskan pelukan untuk menanyakan suara apa itu, tetapi tangan Sela mencengkeram kepalaku dengan kekuatan yang tidak ma**k akal bagi wanita seukurannya.
"Sela?" suaraku terdengar sangat jauh, seperti bergema di dalam gua yang dalam.
Dunia di sekitarku mulai kehilangan suaranya. Kesunyian yang pekat mulai merayap, menelan setiap bunyi yang tersisa. Dan di tengah keheningan yang mencekam itu, aku menyadari satu hal yang membuat bulu kudukku berdiri: Sela tidak lagi menangis. Dia justru sedang tertawa, sebuah tawa tanpa suara yang bisa kulihat dari getaran bahunya yang kini terasa sekeras batu.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!