Luka di Balik Kontrak: Daftar Hitam Sang CEO

Bab 1: Bab 1 - Mendapatkan pekerjaan sebagai AP Arlan Adiguna ...

Pengaturan Membaca

Ujung sepatu pantofel hitamku yang sedikit lecet tertutup oleh bayangan meja marmer yang dingin. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam detak jantung yang berdentum seperti genderang perang di balik rusuk. Di hadapanku, di balik meja kerja luas yang bersih dari segala jenis debu, duduk seorang pria yang kehadirannya seolah menyedot seluruh oksigen di ruangan itu.

Arlan Adiguna. Nama itu terpampang di berbagai majalah bisnis sebagai jenius di balik TechGenix, namun di sini, dalam jarak dua meter, dia tampak lebih seperti predator yang sedang bosan.

"Dua puluh dua tahun. Lulusan terbaik, tapi tanpa pengalaman kerja yang relevan selain magang di firma riset kecil," suara Arlan memecah keheningan, rendah dan setajam mata pisau. Ia bahkan tidak mendongak dari berkas di tangannya. "Kenapa saya harus membuang waktu untuk mengajari seorang pemula di posisi sepenting Asisten Pribadi?"

Aku mengeratkan genggaman pada map di pangkuanku, merasakan keringat dingin mulai membasahi telapak tangan. "Pengalaman bisa dicari, Pak Arlan. Namun, ketelitian dan dedikasi adalah karakter yang mendarah daging. Saya melakukan riset mendalam tentang pola kerja Anda selama tiga tahun terakhir. Anda membenci keterlambatan, Anda tidak suka penjelasan yang bertele-tele, dan Anda mengganti asisten tiga kali dalam enam bulan karena mereka tidak bisa memprediksi kebutuhan Anda sebelum Anda sendiri menyadarinya."

Arlan akhirnya mendongak. Matanya yang gelap dan tajam mengunci tatapanku. Ada keheningan yang menyesakkan selama beberapa detik. Ia meletakkan pulpennya dengan bunyi *klik* yang kecil namun terasa seperti ledakan di ruangan yang sunyi itu.

"Memprediksi?" Arlan menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang mewah. Ia menyipitkan mata, menilaiku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang meremehkan. "Kamu pikir ini adalah pertunjukan sulap? Ini bisnis bernilai miliaran dolar, Maya Pradana. Saya butuh mesin yang bekerja selaras dengan saya, bukan anak baru yang masih membawa bau buku teks kampus ke kantor ini."

Ia bangkit berdiri, berjalan perlahan menuju jendela besar yang menampilkan cakrawala Jakarta yang berkabut polusi. Sosoknya yang tinggi dan tegap dibalut setelan jas pesanan khusus yang pas di tubuhnya, memancarkan aura otoritas yang nyaris mencekik.

"Lihat jadwal saya di sana," ia menunjuk sebuah tablet yang menyala di ujung meja. "Ada celah lima belas menit antara rapat dewan direksi dan peluncuran fitur baru sore ini. Apa yang akan kamu lakukan untuk memastikan saya tetap waras dalam waktu sesingkat itu?"

Aku berdiri, berusaha menjaga agar kakiku tidak gemetar. Aku mendekati meja, melihat sekilas jadwal padat yang tampak mustahil untuk dijalani manusia biasa. "Saya akan memastikan tidak ada satu pun orang yang bisa ma**k ke ruangan Anda dalam lima belas menit itu. Saya akan menyiapkan teh Earl Grey panas tanpa gulaβ€”karena Anda tidak suka rasa manis yang tertinggal saat sedang fokusβ€”dan saya akan memberikan ringkasan tiga poin paling kritis dari rapat direksi sebelumnya agar Anda tidak perlu membuang energi mengingat det**l yang tidak perlu."

Arlan berbalik. Ekspresinya masih datar, namun ada kilatan tipis di matanya yang tidak bisa kubaca. "Earl Grey?"

"Anda selalu memesannya di setiap wawancara media yang dilakukan di sore hari," jawabku mantap, meski perutku terasa melilit karena gugup. "Det**l kecil adalah keahlian saya, Pak."

Arlan berjalan mendekat. Langkah kakinya yang berat di atas karpet tebal terasa mengancam. Ia berhenti tepat di depanku, begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma kayu cendana dan aroma *mint* yang samar dari tubuhnya. Dia jauh lebih tinggi dariku, membuatku harus mendongak untuk menatap matanya.

"Ketelitianmu bisa menjadi aset, atau justru beban yang menghambat," bisiknya, suaranya kini terdengar lebih berbahaya. "Di perusahaan ini, kesalahan sekecil apa pun akan mendapatkan konsekuensi yang besar. Saya tidak memberikan kesempatan kedua. Jika kamu mengacau, saya tidak hanya akan memecatmu, saya akan memastikan namamu tercatat hitam di seluruh industri ini."

Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. "Saya mengerti."

Arlan kembali ke mejanya, mengambil sebuah map biru tua dan menyodorkannya kepadaku tanpa melihat. "Tanda tangani kontrak itu. Masa percobaan tiga bulan. Gaji tiga kali lipat dari standar industri, tapi jangan harap kamu punya waktu untuk bernapas."

Tanganku sedikit bergetar saat menerima map itu. Ini dia. Pekerjaan impian yang akan mengubah nasib finansial keluargaku. Setelah kematian ayah yang meninggalkan tumpukan utang dan nama baik yang hancur, inilah tiketku untuk bangkit.

"Terima kasih, Pak Arlan. Saya tidak akan mengecewakan Anda."

"Jangan berjanji," potongnya dingin sambil kembali menekuni layar komputernya, seolah kehadiranku sudah tidak lagi ada. "Keluar sekarang. Temui sekretaris di depan untuk pengaturan ID karyawan. Kamu mulai besok jam enam pagi. Terlambat satu menit, jangan pernah muncul lagi."

Aku mengangguk, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu keluar dengan langkah yang diusahakan tetap tenang. Namun, begitu pintu kaca besar itu tertutup di belakangku, aku menyandarkan punggung ke dinding koridor, membuang napas panjang yang sedari tadi kutahan.

Tanganku masih memegang map kontrak itu. Rasanya berat, seolah aku baru saja menandatangani kesepakatan dengan i****. Aku membuka map itu sekilas untuk memastikan semuanya nyata. Di balik lembaran kontrak yang kaku, mataku menangkap sebuah selipan kertas kecil yang tampaknya tertinggal secara tidak sengaja oleh Arlan.

Kertas itu berisi daftar nama yang diketik rapi. Ada coretan tinta merah di beberapa nama. Di baris paling atas, dengan tanda silang besar yang melintang di atasnya, tertulis satu nama yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak.

*Pradana Dirgantara.*

Ayahku.

Darah di wajahku rasanya surut seketika. Nama ayahku bukan sekadar ada di sana; itu adalah nama pertama dalam sebuah daftar yang berjudul: *Target Pemulihan Aset & Penghancuran Reputasi.*

Aku mencengkeram pinggiran map hingga kertasnya sedikit koyak. Arlan Adiguna tidak hanya menerimaku bekerja. Aku baru saja ma**k ke dalam kandang singa yang telah lama mengincar keluargaku. Dan yang paling menakutkan adalah, pria dingin di dalam ruangan itu mungkin sudah tahu persis siapa aku sejak awal.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca