Langit di atas area proyek pengembangan pusat data baru TechGenix di pinggiran Bogor itu tak lagi sekadar mendung. Awan hitam bergulung-gulung seolah hendak menelan gedung beton setengah jadi yang berdiri angkuh di hadapan kami. Suara guntur menggelegar, menggetarkan permukaan tanah yang becek, dan tak lama kemudian, hujan tumpah dengan intensitas yang membutakan pandangan.
"Ma**k ke sana, Maya! Cepat!" suara bariton Arlan membelah deru angin.
Ia menarik lenganku, menuntunku setengah berlari menuju sebuah kont**ner kantor sementara yang terletak di sudut lokasi proyek. Sepatu hak tinggiku terbenam di lumpur, membuatku nyaris terjatuh jika lengan kokoh Arlan tidak sigap menangkap pinggangku. Begitu kami berhasil ma**k dan menutup pintu besi kont**ner, suara hujan di luar berubah menjadi tabuhan drum yang m****akkan telinga di atas atap seng.
Hening sejenak. Napas kami sama-sama memburu.
Aku melepaskan diri dari pegangannya, berusaha mengatur detak jantung yang bukan hanya dipicu oleh lari singkat tadi. Ruangan itu sempit, hanya ada sebuah meja kerja kayu, beberapa kursi lipat, dan tumpukan cetak biru. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip sebelum akhirnya padam total, meninggalkan kami dalam kegelapan yang hanya sesekali diterangi oleh kilatan petir dari jendela kecil.
"Sial," umpat Arlan rendah. Aku bisa melihat siluetnya bergerak. "Listrik di area ini memang belum stabil."
Aku memeluk diriku sendiri. Kemeja putihku yang tipis sedikit basah, menempel di kulit dan mengantarkan rasa dingin yang menusuk tulang. Aku menggigil, bukan hanya karena suhu yang turun drastis, tapi karena kesadaran bahwa aku hanya berdua dengannya di tengah kepungan badai.
"Kamu kedinginan?"
Sebelum aku sempat menjawab, aku merasakan sesuatu yang hangat dan berat tersampir di bahuku. Arlan menyampirkan jas wolnya. Aroma parfumnyaβcampuran antara kayu cendana dan sesuatu yang dingin seperti esβlangsung menyerbu indra penciumanku. Itu adalah aroma yang biasanya membuatku merasa terintimidasi di kantor, tapi di sini, di ruang gelap ini, aroma itu terasa seperti perlindungan.
"Terima kasih, Pak Arlan," bisikku.
"Panggil Arlan saja kalau kita sedang tidak di depan dewan direksi, Maya. Sudah kubilang berkali-kali," katanya. Ia duduk di tepi meja, c**up dekat sehingga aku bisa merasakan panas tubuhnya.
Dalam keremangan, aku memperhatikannya. Arlan Adiguna yang perfeksionis, yang selalu tampak seperti predator di ruang rapat, kini terlihat berbeda. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini berantakan dan basah. Ada kelelahan yang nyata di garis matanya.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanyanya tiba-tiba.
Aku tersentak, merasa tertangkap basah. "Saya hanya... tidak menyangka Anda mau turun langsung ke lokasi di cuaca seperti ini. Anda punya manajer proyek untuk ini."
Arlan terkekeh, suara yang jarang sekali kudengar. "Bangunan ini bukan sekadar investasi, Maya. Ini adalah bagian dari rencana besar. Aku tidak bisa membiarkan satu det**l pun meleset. Terlalu banyak yang sudah dikorbankan untuk sampai di titik ini."
Kata 'pengorbanan' itu menghantamku seperti godam. Bayangan berkas hitam di dalam b**nkasnya kembali muncul di benakku. Nama ayahku, Pradana, tertulis dengan tinta merah di urutan teratas. Target utama.
Rasa bersalah yang selama ini kusimpan di sudut hati yang paling gelap mulai merayap naik. Aku ingin membencinya. Aku seharusnya membencinya karena ia merencanakan kehancuran bagi nama baik ayahku yang sudah tiada. Namun, melihatnya di sini, dalam kerapuhan yang jarang ia tunjukkan, hatiku berkhianat.
"Apa yang sebenarnya Anda cari, Arlan?" tanyaku, suaraku nyaris hilang ditelan bunyi hujan. "Maksud saya, setelah semua kesuksesan ini... apa yang sebenarnya ingin Anda capai?"
Arlan terdiam c**up lama. Kilat menyambar, menerangi wajahnya yang mengeras. "Keadilan," jawabnya singkat. "Sepuluh tahun lalu, orang-orang yang kupercaya menghancurkan keluargaku. Mereka tidak hanya mengambil uang, mereka mengambil martabat ayahku sampai beliau memilih untuk mengakhiri hidupnya. Aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya mereka terima."
Ia menoleh ke arahku, matanya mengunci mataku dengan intensitas yang membuatku sesak napas. "Kamu pikir aku kejam, Maya?"
Aku menelan ludah. "Saya pikir... luka yang tidak sembuh bisa membuat siapa pun melakukan hal-hal yang ekstrem."
Arlan bergerak lebih dekat. Kini, tidak ada jarak di antara kami. Tangannya terangkat, jari-jemarinya yang panjang dan dingin menyentuh pipiku, menyisipkan sehelai rambut yang basah ke belakang telingaku. Sentuhannya membuat seluruh tubuhku bergetar.
"Kamu berbeda," bisiknya, suaranya kini serak. "Sejak kamu ma**k ke kantorku, ada sesuatu tentangmu yang membuatku ingin berhenti sejenak. Kamu adalah satu-satunya det**l dalam hidupku yang tidak bisa kuprediksi."
Wajahnya mendekat. Aku bisa merasakan napasnya di kulitku. Logikaku berteriak untuk menjauh, untuk mengingatkanku bahwa pria ini adalah ancaman bagi keluargaku. Bahwa aku berada di sini sebagai asistennya hanya untuk mencari tahu kebenaran, bukan untuk jatuh ke dalam pelukannya. Namun, emosiku berkata lain. Ada kesepian yang sama di matanya dengan apa yang kurasakan selama ini.
Saat bibirnya nyaris menyentuh bibirku, saat dunia di luar seolah berhenti berputar dan hanya menyisakan detak jantung kami yang bersahutan, ponsel di saku celananya bergetar hebat.
Arlan tersentak, seolah baru saja tersadar dari hipnotis. Ia menarik diri, berdeham pelan, lalu merogoh ponselnya. Cahaya layar ponselnya menyinari wajahnya yang kembali menjadi dingin dan kaku.
"Ya, ma**k," jawabnya pada si penelepon. Suaranya kembali menjadi CEO yang tak tersentuh. "Kirimkan det**lnya sekarang. Saya ingin daftar aset tambahan itu diverifikasi malam ini."
Ia mematikan ponselnya dan berdiri, menatap ke arah pintu kont**ner yang mulai digedor dari luar oleh petugas keamanan yang membawa payung. Arlan tidak melihatku lagi saat ia berkata, "Hujannya sudah agak reda. Kita harus pergi sekarang."
Aku berdiri dengan kaku, mengembalikan jas wolnya yang kini terasa sangat berat. Saat kami berjalan keluar, aku tanpa sengaja melihat layar ponselnya yang masih menyala di atas meja sebelum ia menyambarnya. Sebuah notifikasi pesan singkat muncul di sana.
*βData tambahan soal Pradana sudah siap. Kita bisa mulai penghancuran reputasi tahap pertama besok pagi.β*
Langkahku terhenti. Darahku terasa membeku. Di bawah guyuran sisa hujan yang dingin, aku menyadari satu hal dengan sangat jelas: pria yang baru saja hampir menciumku dengan penuh perasaan adalah pria yang sama yang akan menghancurkan satu-satunya kenangan yang kumiliki tentang ayahku.
Dan besok pagi, perang yang sesungguhnya akan dimulai. Apakah aku punya kekuatan untuk menghentikannya, ataukah aku akan hancur bersamanya?
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!