Cahaya biru dari monitor ganda di hadapanku adalah satu-satunya sumber penglihatan yang aku butuhkan malam ini. Di layar sebelah kiri, grafik saham PT Sinar Abadi—anak perusahaan milik keluarga Hartono—merah membara, terjun bebas dalam kurva yang memuaskan. Di layar sebelah kanan, draf akuisisi paksa sudah siap dikirim.
Sepuluh tahun. Sepuluh tahun aku menyimpan amarah ini seperti bara dalam sekam, menanti saat yang tepat untuk meniupnya hingga menjadi api yang melahap habis mereka yang tertawa di atas reruntuhan perusahaan ayahku. Keluarga Hartono hanyalah pion pertama. Mereka adalah kaki tangan setia dari pria yang namanya berada di urutan paling atas daftar hitamku: almarhum Pak Pradana.
Aku menyandarkan punggung ke kursi kulit, merenggangkan jemariku yang kaku. Sedikit lagi. Satu klik, dan aku akan meruntuhkan domino pertama.
"Permisi, Pak Arlan. Ini dokumen audit terakhir yang Anda minta."
Suara itu lembut, namun c**up untuk memecah konsentrasiku. Maya berdiri di ambang pintu dengan setumpuk berkas di pelukannya. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya di bawah pendar lampu koridor yang remang. Ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, tanda bahwa dia juga tidak tidur nyatanya.
"Letakkan saja di meja, Maya," kataku tanpa menoleh.
Ia melangkah ma**k. Suara sepatunya yang beradu dengan lant** marmer terdengar ragu-ragu. Alih-alih meletakkan berkas itu dan pergi, ia justru berdiri diam di samping mejaku. Aku bisa merasakan tatapannya tertuju pada layar monitor yang menunjukkan grafik kehancuran Sinar Abadi.
"Ada apa?" tanyaku dingin, akhirnya memalingkan wajah padanya.
Maya sedikit tersentak. Jemarinya meremas pinggiran map cokelat itu hingga kertasnya sedikit tertekuk. "Saya... saya baru saja meninjau ulang laporan arus kas Sinar Abadi yang baru ma**k sepuluh menit lalu, Pak. Ada kejanggalan di lampiran C."
Aku mengernyit. "Kejanggalan apa? Tim analis sudah memeriksa semuanya tiga kali."
"Itu dia masalahnya, Pak," Maya melangkah lebih dekat, suaranya sedikit bergetar namun penuh keyakinan yang dipaksakan. "Ada tumpang tindih aset yang belum dilaporkan secara publik. Jika kita mengeksekusi akuisisi ini sekarang, TechGenix bisa terseret ke dalam lubang liabilitas pajak yang sangat besar. Saya menemukan indikasi bahwa keluarga Hartono sengaja memasang 'bom waktu' finansial di dalam struktur perusahaan mereka untuk menjerat siapa pun yang mencoba melakukan *hostile takeover*."
Aku terdiam, menatapnya tajam. Maya adalah asisten yang sangat teliti, itu sebabnya aku mempekerjakannya. Namun, sesuatu terasa ganjil. Tim analisku adalah orang-orang terbaik di industri ini, dan mereka tidak menyebutkan soal bom waktu pajak.
"Tunjukkan padaku," perintahku sambil menggeser dudukku.
Maya membungkuk, aroma parfum vanila lembutnya menyeruak ma**k ke indra penciumanku, kontras dengan ketegangan di ruangan ini. Ia membuka map, jemarinya yang lentik menunjuk ke deretan angka-angka kecil di baris terbawah.
"Di sini, Pak. Lihat kode transaksinya. Ini merujuk pada entitas cangkang di Cayman Islands. Jika TechGenix mengambil alih secara penuh malam ini, secara hukum kita juga mengambil alih hutang gelap mereka sebesar dua ratus miliar yang akan jatuh tempo dalam tiga hari."
Aku memperhatikan angka-angka itu. Dahiku berkerut. Secara teknis, apa yang dikatakannya ma**k akal, tapi ada yang terasa... dibuat-buat. Seolah dia sengaja mencari celah terkecil hanya untuk mengulur waktu.
"Kenapa baru sekarang kamu menemukannya?" suaraku merendah, penuh selidik.
Maya menelan ludah. Jakunnya bergerak naik turun, sebuah tanda kegugupan yang tidak bisa ia sembunyikan. "Saya... saya baru mendapat akses ke database sekunder malam ini. Saya tidak ingin Bapak membuat kesalahan fatal yang bisa merusak reputasi TechGenix."
Aku menatap matanya. Di sana, di balik kacamata tipisnya, aku tidak hanya melihat dedikasi profesional. Ada kilatan ketakutan. Ketakutan yang amat sangat. Apakah dia takut padaku, atau dia takut akan sesuatu yang akan kuhancurkan?
"Kau tahu, Maya," kataku sambil berdiri perlahan, membuat jarak di antara kami menghilang. "Sinar Abadi adalah perusahaan yang paling dekat hubungannya dengan almarhum Pak Pradana. Menghancurkan mereka adalah langkah strategis untuk memutus jalur logistik lawan-lawan kita."
Nama ayahnya membuat tubuh Maya kaku seketika. Wajahnya yang semula pucat kini menjadi seputih kertas. "Saya tahu, Pak. Tapi... bukankah lebih bijaksana jika kita melakukan riset ulang selama empat puluh delapan jam ke depan? Hanya untuk memastikan tidak ada celah hukum."
"Empat puluh delapan jam adalah waktu yang c**up bagi mereka untuk memindahkan aset atau mencari perlindungan," balasku, mata tidak lepas dari wajahnya. "Setiap detik sangat berharga."
"Tapi resikonya—"
"C**up, Maya." Aku memotong ucapannya. Aku berjalan mengitarinya, mendekati jendela besar yang menghadap kerlip lampu Jakarta. "Kau terlalu protektif terhadap aset yang bukan milikmu. Kenapa?"
"Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai asisten Anda, Pak Arlan," jawabnya cepat, terlalu cepat.
Aku berbalik secara tiba-tiba, menangkap ekspresinya yang tidak siap. Ia sedang menatap layar monitor—bukan pada angkanya, tapi pada nama 'Sinar Abadi' dengan tatapan yang penuh duka, seolah ia sedang melihat seorang kawan lama yang sedang dieksekusi mati.
Kecurigaan yang selama ini terpendam di sudut pikiranku mulai bergejolak. Ketelitian Maya yang luar biasa, caranya selalu muncul di saat-saat kritis, dan sekarang, upayanya yang terang-terangan untuk menghambat langkahku.
"Perg***h, Maya," kataku dingin. "Tinggalkan berkas itu. Aku akan meninjau 'temuanmu' itu sendirian."
"Tapi Pak—"
"Keluar."
Maya menunduk dalam, rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya. Dengan langkah gont**, ia berbalik dan meninggalkan ruangan. Aku menunggu sampai pintu tertutup rapat sebelum kembali ke meja.
Aku tidak langsung mengeksekusi perintah akuisisi itu. Alih-alih, aku membuka folder tersembunyi di komputerku—berkas rahasia tentang latar belakang Maya yang aku minta dari detektif pribadiku minggu lalu. Aku sudah membacanya berkali-kali, tapi ada satu det**l yang terlewat.
Aku men-scroll layar, melewati riwayat pendidikannya yang gemilang, hingga sampai pada bagian latar belakang keluarga. Mataku terpaku pada sebuah foto lama yang baru saja diunggah oleh detektifku beberapa jam yang lalu. Itu adalah foto peresmian gedung Sinar Abadi sepuluh tahun lalu.
Di sana, berdiri ayahku yang sedang tersenyum. Di sampingnya, pemilik Sinar Abadi. Dan di pojok kiri, seorang pria yang sangat kukenal sebagai Pak Pradana, menggandeng seorang gadis kecil yang memiliki mata yang sama persis dengan asisten pribadiku.
Tanganku mengepal di atas meja. Rasa hangat yang sempat muncul di hatiku setiap kali melihat dedikasi Maya seketika menguap, digantikan oleh rasa dikhianati yang dingin dan tajam.
Jadi, dia bukan sekadar asisten yang rajin. Dia adalah putri dari musuh utamaku, dan dia baru saja mencoba menyabotase rencana besarku tepat di depan mataku.
Aku menatap tombol 'Execute' di layar. Tanganku bergetar, bukan karena ragu, tapi karena amarah yang meluap. Maya mengira dia bisa menipuku dengan sandiwara perhatiannya. Dia mengira dia bisa menyelamatkan sekutu ayahnya dengan kebohongan audit.
Aku meraih ponsel, menekan nomor kepala keamanan.
"Siapkan pengawasan penuh untuk Maya Pradana. Jangan biarkan dia keluar dari gedung ini tanpa seizinku," perintahku, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
Aku kembali menatap pintu kantor yang tertutup. Di balik pintu itu, Maya mungkin sedang merasa lega karena berhasil menundaku. Dia tidak tahu bahwa dia baru saja mempercepat kehancurannya sendiri.
Malam ini, aku tidak hanya akan menghancurkan Sinar Abadi. Aku akan memastikan putri sang pengkhianat itu mengerti bahwa di dunia ini, tidak ada tempat bagi orang-orang seperti mereka untuk bersembunyi—bahkan di dalam hatiku sekalipun.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!