Cahaya biru dari layar monitor adalah satu-satunya sumber penerangan di ruang kerja Maya yang remang. Jam dinding digital di sudut meja menunjukkan pukul 02.14 pagi, namun kantuk seolah enggan menyapa. Di depannya, puluhan tab peramban terbuka, menampilkan arsip berita ekonomi sepuluh tahun lalu, laporan tahunan perusahaan yang sudah dilikuidasi, hingga data manifest penerbangan yang ia dapatkan dari forum peretas berbayar.
Jari-jari Maya gemetar saat ia menyandingkan dua dokumen di layar. Di sebelah kiri, foto berkas dari b**nkas Arlan yang menyatakan ayahnya, Prayoga Pradana, melakukan transfer gelap sebesar lima miliar rupiah ke rekening pribadinya tepat seminggu sebelum kebangkrutan Adiguna Group. Di sebelah kanan, sebuah catatan log internal bank yang baru saja Maya temukan setelah menelusuri jejak digital firma audit yang dulu menangani ka**s tersebut.
"Ada yang tidak beres," bisik Maya pada kesunyian kamar. Suaranya serak, tenggorokannya terasa kering.
Matanya menyipit, meneliti deretan angka yang nyaris identik. Namun, ada satu det**l kecil yang luput dari daftar hitam milik Arlan. Kode referensi transaksi. Dalam dokumen Arlan, kode itu berakhiran '09', kode untuk otorisasi manual oleh direktur keuanganβayahnya. Namun, dalam log bank yang asli, kode itu berakhiran '11'.
Otorisasi pihak ketiga.
Darah Maya berdesir hebat. Ia merasa seperti baru saja menemukan retakan kecil pada bendungan raksasa. Ia mulai mengetikkan nama-nama jajaran direksi Adiguna Group saat itu, mencari siapa yang memiliki akses '11'. Pencariannya berhenti pada satu nama yang selama ini seolah terhapus dari narasi kehancuran keluarga Arlan: Hendra Wijaya.
Hendra bukan hanya tangan kanan ayah Arlan, tapi juga sosok yang memberikan testimoni kunci di pengadilan yang akhirnya memenjarakan ayah Maya hingga akhir hayatnya. Anehnya, setelah kebangkrutan itu, Hendra menghilang dari radar bisnis I****esia, seolah ditelan bumi.
Maya menyandarkan punggungnya ke kursi, napasnya memburu. Jika Hendra yang melakukan otorisasi itu dengan memalsukan tanda tangan ayahnya, berarti Arlan telah menghabiskan sepuluh tahun hidupnya untuk membenci orang yang salah. Dan lebih buruk lagi, ayahnya meninggal dalam kehinaan atas dosa yang tidak pernah ia lakukan.
"Kenapa namamu tidak ada di daftar hitam Arlan, Hendra?" gumam Maya. Rasa sesak menghimpit dadanya. Kebenaran ini terasa seperti pedang bermata dua. Ia ingin berteriak memberi tahu Arlan bahwa ayahnya bukan pengkhianat, namun ia terbentur dinding realita yang keras.
Bagaimana cara ia menjelaskannya tanpa mengakui bahwa ia telah membongkar b**nkas pribadi Arlan? Bagaimana ia bisa membuktikan ini tanpa membuat Arlan merasa dikhianati lagi oleh asisten yang mulai ia percayai?
Keesokan harinya di kantor TechGenix, suasana hati Maya berantakan. Setiap kali Arlan memanggilnya untuk menyerahkan berkas atau sekadar meminta kopi, Maya merasa seolah ada beban berton-ton di pundaknya.
Arlan berdiri di dekat jendela besar kantornya, menatap hiruk-pikuk Jakarta dengan tangan terbenam di saku celana kainnya yang mahal. Jasnya tersampir di kursi, menyisakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga sikuβtampilan yang biasanya membuat Maya terpesona, namun kini hanya membuatnya merasa pilu.
"Maya, kamu melamun?" suara berat Arlan memecah keheningan.
Maya tersentak, nyaris menjatuhkan tablet di tangannya. "Maaf, Pak. Saya hanya... kurang tidur."
Arlan berbalik, matanya yang tajam menatap Maya dengan intensitas yang sulit dibaca. Ada kilatan kekhawatiran yang jarang ia tunjukkan. "Kerja lembur untuk riset kompetitor itu bagus, tapi jangan sampai merusak konsentrasimu. Aku butuh ketelitianmu untuk pertemuan dengan dewan komisaris besok."
"Pak Arlan," panggil Maya sebelum pria itu kembali ke mejanya.
Arlan berhenti. "Ya?"
"Tentang... masa lalu perusahaan keluarga Bapak," Maya menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti disumbat kerikil. "Apakah Bapak pernah berpikir bahwa ada orang lain yang mungkin mengambil keuntungan dari konflik antara ayah Bapak dan Pak Prayoga?"
Suasana di ruangan itu mendadak mendingin. Rahang Arlan mengeras, dan tatapannya berubah menjadi setajam silet. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa mengancam sekaligus mengintimidasi.
"Kenapa tiba-tiba kamu membahas itu?" tanya Arlan dingin. "Aku sudah memiliki bukti yang c**up. Prayoga Pradana adalah alasan ibuku depresi dan ayahku kehilangan segalanya. Nama itu adalah garis merah yang tidak boleh kamu langgar, Maya."
Maya mengepalkan tangannya di balik punggung, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga perih. "Bagaimana jika ada bukti baru? Sesuatu yang luput dari detektif Bapak?"
Arlan tertawa sinis, sebuah tawa kering tanpa humor. Ia berdiri tepat di depan Maya, begitu dekat hingga Maya bisa mencium aroma kayu cendana dan kopi hitam dari tubuh pria itu. "Daftar di b**nkasku itu disusun selama bertahun-tahun dengan darah dan air mata. Tidak ada yang luput. Dan aku menyarankanmu untuk tetap berada di posisimu sebagai asisten, bukan sebagai pengacara orang mati."
Arlan berbalik pergi, namun sebelum ia mencapai pintu, ia berhenti sebentar tanpa menoleh. "Jangan biarkan rasa penasaranmu menghancurkan karier yang baru saja kamu mulai, Maya. Aku tidak suka orang yang terlalu banyak mencampuri urusan pribadiku."
Pintu tertutup dengan dentuman pelan namun tegas. Maya berdiri mematung di tengah ruangan yang luas itu, merasa sangat kecil. Ia tahu ia sedang meniti seutas tali tipis di atas jurang. Di satu sisi, ada Arlan yang mulai membuka hati padanya namun buta oleh dendam. Di sisi lain, ada kehormatan ayahnya yang kini bergantung pada keberaniannya.
Maya kembali ke mejanya dengan langkah gont**. Saat ia membuka laci untuk mengambil ponselnya, sebuah amplop cokelat tanpa nama terselip di antara buku catatannya. Dengan jantung berdebar, ia membukanya.
Di dalamnya terdapat sebuah foto lama yang sudah agak pudar. Foto itu memperlihatkan Hendra Wijaya sedang bersulang dengan seorang pria yang wajahnya sengaja dicoret dengan spidol hitam. Namun, yang membuat jantung Maya seolah berhenti berdetak adalah latar belakang foto tersebut: sebuah vila mewah di Bali yang ia tahu persis milik siapa.
Vila itu milik keluarga Adiguna.
Tangan Maya gemetar hebat. Jika Hendra bekerja sama dengan seseorang di dalam keluarga Adiguna sendiri untuk menjatuhkan ayahnya, maka daftar hitam Arlan bukan sekadar rencana balas dendam. Itu adalah sebuah jebakan besar yang dirancang untuk menutupi kebenaran yang jauh lebih busuk.
Sebuah pesan singkat ma**k ke ponsel Maya dari nomor yang tidak dikenal.
*βBerhenti menggali, atau kamu akan berakhir seperti ayahmu.β*
Maya menoleh ke sekeliling kantor yang terbuka, merasa ribuan mata sedang mengawasinya dari balik bilik-bilik kerja yang sunyi. Ia menyadari satu hal: ia tidak hanya sedang melawan dendam Arlan, tapi ia sedang berhadapan dengan sosok yang jauh lebih berbahaya yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang sang CEO.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!