Ruangan kantor di lant** teratas gedung TechGenix biasanya terasa seperti tempat perlindungan bagiku. Di balik kaca antipeluru dan dinding kedap suara ini, aku memegang kendali penuh atas dunia. Namun, sore ini, keheningan itu terasa menyesakkan. Mataku tetap terpaku pada layar monitor, berpura-pura memeriksa laporan keuangan kuartal ketiga, namun fokusku sepenuhnya tertuju pada sosok wanita yang duduk di meja asisten, hanya beberapa meter dari pintuku yang terbuka sedikit.
Maya Pradana.
Dua minggu terakhir, ada sesuatu yang bergeser dalam gerak-geriknya. Ketelitiannya yang biasanya tanpa cela kini mulai retak. Pagi tadi, dia memberiku kopi tanpa gulaβkesalahan amatir yang tak pernah dia lakukan sebelumnya. Dan yang lebih menggangguku adalah matanya. Setiap kali tatapan kami bertemu, dia adalah orang pertama yang memutuskan kontak, seolah-olah ada beban berat yang disembunyikannya di balik kelopak matanya yang mulai tampak lelah.
Aku menutup laptop dengan suara dentum pelan. Kecurigaan adalah insting yang menyelamatkanku selama sepuluh tahun terakhir. Di dunia bisnis, terutama bagi seseorang yang memiliki daftar musuh sepanjang lenganku, kepercayaan adalah kemewahan yang tidak bisa kubeli.
"Maya," panggilku, suaraku datar dan berwibawa.
Dia tersentak. Bahunya sedikit melonjak sebelum dia berdiri dan merapikan rok pensilnya yang sebenarnya sudah rapi. "Iya, Pak Arlan?"
"Ma**klah. Ada berkas yang perlu kita tinjau kembali."
Dia berjalan mendekat. Langkah kakinya di atas karpet tebal terdengar ragu. Saat dia berdiri di depan mejaku, aku bisa mencium aroma lembut parfum vanilanya yang biasanya menenangkan, namun kali ini aroma itu justru memicu alarm di kepalaku. Dia tampak pucat. Jemarinya terus memainkan ujung pulpen peraknya.
"Duduk," perintahku.
Aku sengaja meletakkan sebuah map kulit berwarna hitam tepat di tengah mejaβtepat di hadapannya. Map itu tidak berisi dokumen asli. Di dalamnya hanya ada salinan kasar mengenai skema pengambilalihan aset-aset lama yang berkaitan dengan kebangkrutan Adiguna Group sepuluh tahun lalu. Dan yang paling krusial, aku menyelipkan sebuah catatan kecil bertuliskan 'Target Utama: Pembersihan Nama Pradana'.
Aku ingin melihat reaksinya. Jika dia memang jujur, nama itu hanya akan dianggap sebagai bagian dari riset masa lalu perusahaan. Namun jika dia menyembunyikan sesuatu...
"Saya sudah menyiapkan jadwal untuk pertemuan dengan investor besok pagi, Pak," ucapnya, suaranya sedikit bergetar. Matanya sempat melirik ke arah map hitam itu sebelum kembali menunduk.
"Tunda dulu soal investor," kataku sambil menyandarkan punggung ke kursi kulit. Aku menatapnya tajam, mencoba membedah setiap ekspresi yang melintas di wajahnya. "Aku menemukan beberapa inkonsistensi dalam audit internal sepuluh tahun lalu. Ada beberapa nama yang sepertinya perlu kita 'tangani' lebih serius."
Aku sengaja menekankan kata 'tangani'. Aku melihat buku jari Maya memutih saat dia meremas pulpennya.
"Maksud Bapak... tangani seperti apa?" tanyanya dengan suara yang hampir menyerupai bisikan.
"Penghancuran reputasi secara total," jawabku tanpa emosi. "Aku ingin memastikan siapapun yang terlibat dalam jatuhnya ayahku tidak akan pernah bisa mengangkat kepala mereka lagi di industri ini. Bahkan jika mereka sudah meninggal, keturunannya harus menanggung beban itu."
Keheningan yang terjadi setelahnya terasa begitu tajam. Aku bisa melihat jakun Maya bergerak saat dia menelan ludah. Ada kilatan ketakutan yang murni di matanyaβketakutan yang melampaui rasa takut seorang karyawan kepada bosnya. Itu adalah ketakutan seseorang yang merasa terpojok.
"Pak, bukankah... bukankah itu terlalu jauh? Maksud saya, jika itu sudah sepuluh tahun yang lalu..."
"Kau mengajariku soal moralitas, Maya?" potongku, nada suaraku mendingin. "Aku tidak menggajimu untuk menjadi kompas moral pribadiku. Aku menggajimu untuk loyalitas. Apakah kau masih memiliki itu?"
Maya terdiam. Dia tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada map hitam itu, dan untuk sesaat, aku melihat tangannya bergerak sedikit, seolah ingin meraih map tersebut dan melemparkannya ke luar jendela. Ada badai yang mengamuk di dalam dirinya, dan aku bisa merasakannya.
"Saya... saya hanya berpikir tentang efisiensi perusahaan, Pak," jawabnya akhirnya, meski matanya menghindari tatapanku.
Aku bangkit dari kursi, berjalan perlahan mengitari meja hingga berdiri tepat di sampingnya. Aku membungkuk sedikit, membuat jarak di antara kami menghilang. "Kau tahu, Maya, aku sangat menghargai kejujuran. Lebih dari apapun. Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, atau jika kau merasa ada sesuatu yang perlu kau katakan padaku..." aku menjeda, membiarkan kalimat itu menggantung di udara, "...lebih baik kau mengatakannya sekarang."
Aku bisa mendengar napasnya yang memburu. Wangi vanilanya kini bercampur dengan aroma ketegangan yang pekat. Aku melihat sebutir keringat dingin jatuh dari pelipisnya. Dia begitu rapuh saat ini, tampak seperti mangsa yang terjebak dalam jaring laba-laba. Dan anehnya, ada bagian dari diriku yang merasa sakit melihatnya seperti ini. Aku ingin dia menyangkal semuanya. Aku ingin dia tertawa dan mengatakan bahwa aku hanya paranoid.
Namun, Maya tetap diam. Dia hanya menundukkan kepala lebih dalam.
"Saya permisi ke pantry sebentar, Pak. Kepala saya agak pening," ucapnya tiba-tiba. Tanpa menunggu izinku, dia berdiri dan bergegas keluar dari ruangan.
Aku berdiri mematung, menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu kaca. Begitu dia pergi, aku segera meraih map hitam itu. Aku membukanya. Di sudut kanan bawah lembaran pertama, ada noda kecilβbekas sidik jari lembap dari ujung jarinya yang gemetar.
Bukan itu yang membuat jantungku berdegup kencang karena amarah.
Aku berjalan menuju meja kerjanya yang berada tepat di luar ruanganku. Saat dia pergi terburu-buru tadi, dia lupa mengunci laci mejanya yang biasanya tertutup rapat. Aku menarik laci itu perlahan. Di bawah tumpukan agenda dan catatan rapat, aku menemukan sebuah amplop cokelat tua yang tidak asing.
Itu adalah dokumen yang seharusnya berada di b**nkas pribadiku. Daftar hitam itu.
Tanganku mengepal hingga sendi-sendiku memutih. Rasa pahit menjalar di kerongkonganku. Ternyata benar. Wanita yang mulai kuberi ruang di dalam hatiku, wanita yang kuanggap berbeda dari semua orang yang pernah mengkhianatiku, hanyalah seorang pencuri yang mencari celah dalam pertahananku.
Atau mungkin, dia adalah bagian dari daftar itu sendiri.
Aku mendengar langkah kaki kembali mendekat. Aku menutup laci itu dengan perlahan, namun tidak menguncinya. Aku kembali ke ruanganku, duduk di kegelapan yang mulai merayap ma**k saat matahari tenggelam, dan menunggu.
Permainan ini baru saja dimulai, Maya. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan perasaan bodoh ini menghalangi keadilan yang sudah kutunggu selama satu dekade. Aku harus tahu sejauh mana dia akan berbohong sebelum aku benar-benar menghancurkannya.
Pintu terbuka. Cahaya dari lorong membentuk siluet tubuhnya yang gemetar.
"Pak Arlan? Bapak masih di dalam?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dari balik kegelapan, menyadari bahwa mulai detik ini, setiap kata manis dan perhatian yang dia berikan padaku hanyalah racun yang terbungkus gula. Dan yang paling menyakitkan adalah, aku masih ingin percaya bahwa aku salah.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!