Lampu-lampu ibu kota yang berpendar di balik dinding kaca kantor TechGenix tampak seperti jutaan kunang-kunang yang terperangkap dalam kotak beton. Aku memandangi pantulan diriku sendiri di kaca—wajah yang tampak lebih pucat dari biasanya, dengan kantung mata yang mulai menghitam. Di belakangku, Arlan masih duduk tegak di kursi kebesarannya, jemarinya menari lincah di atas papan ketik, sementara cahaya monitor membiaskan warna biru pucat di wajahnya yang kaku.
Aku meremas gelas kopi kertas yang sudah mendingin di tanganku. Jantungku berdegup dengan ritme yang tidak beraturan. Setiap kali aku menutup mata, bayangan nama ayahku di urutan pertama daftar hitam di dalam b**nkas itu terus menghantui.
"Kenapa belum pulang, Maya?" Suara Arlan memecah keheningan, berat dan berwibawa tanpa perlu meninggikan nada.
Aku berbalik, mencoba mengatur napas agar tetap tenang. "Hanya ingin memastikan jadwal perjalanan Bapak ke Singapura besok sudah sempurna."
Arlan berhenti mengetik. Dia menyandarkan punggungnya, lalu menatapku dengan mata tajam yang selalu seolah bisa membaca isi kepalaku. "Kau sudah memeriksanya tiga kali pagi tadi. Ada sesuatu yang mengganggumu?"
Inilah saatnya. Aku melangkah mendekat, meletakkan gelas kopi di meja samping, lalu menarik kursi di hadapannya tanpa diminta. Arlan menaikkan sebelah alisnya, sebuah gestur kecil yang menandakan dia menyadari keberanianku yang tidak biasa.
"Pak Arlan," aku memulai, suaraku sedikit bergetar namun aku segera menekannya. "Tadi siang, saat saya melakukan riset untuk pengembangan proyek *fintech* kita, saya tanpa sengaja membaca beberapa artikel lama tentang krisis industri sepuluh tahun lalu. Tentang... Adiguna Group."
Suasana di ruangan itu mendadak mendingin. Aku bisa melihat bagaimana otot rahang Arlan mengeras seketika. Sorot matanya yang semula hanya dingin, kini berubah menjadi setajam sembilu.
"Kenapa kau membuang-buang waktu membaca sampah masa lalu?" tanyanya, suaranya kini pelan namun sarat akan ancaman.
"Saya hanya berpikir," aku melanjutkan, mencoba mengabaikan alarm bahaya di kepalaku. "Kadang, apa yang tertulis di permukaan tidak selalu mencerminkan kebenaran yang sesungguhnya. Dalam riset, seringkali kita menemukan bahwa orang yang paling terlihat bersalah justru adalah orang yang paling sengaja dikorbankan untuk menutupi jejak orang lain. Apakah... Bapak pernah terpikir bahwa mungkin ada konspirasi yang lebih besar di balik kebangkrutan itu? Bahwa orang-orang yang Bapak anggap sebagai musuh, mungkin saja hanyalah pion?"
Arlan bangkit dari kursinya secara perlahan. Kehadirannya terasa begitu mendominasi, seolah-olah oksigen di ruangan ini tersedot habis oleh aura gelap yang dipancarkannya. Dia berjalan mengitari meja, langkah kakinya di atas lant** marmer terdengar seperti dentang lonceng kematian.
Dia berhenti tepat di hadapanku, membungkuk sedikit hingga wajah kami hanya berjarak beberapa senti. Aku bisa mencium aroma maskulin bercampur kopi pahit yang menguar darinya.
"Kau cerdas, Maya. Itulah kenapa aku mempekerjakanmu," bisiknya, nadanya sangat dingin hingga membuat bulu kudukku meremang. "Tapi jangan biarkan kecerdasanmu berubah menjadi kelancangan. Ada hal-hal di dunia ini yang sudah selesai. Sudah diputuskan. Dan sudah dikunci dengan darah."
"Tapi bagaimana jika keputusan itu salah?" desakku, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, namun aku menolak untuk membiarkannya jatuh. "Bagaimana jika ada satu nama di sana... yang sebenarnya tidak pantas berada di sana? Orang yang Bapak benci, mungkin sebenarnya adalah korban yang sama hancurnya dengan keluarga Bapak."
Arlan mencengkeram pinggiran meja di belakangku, mengurungku dalam ruang sempit di antara tubuhnya dan meja kerja. Matanya yang hitam pekat berkilat penuh amarah yang terpendam selama bertahun-tahun.
"C**up, Maya," geramnya. "Kau tidak tahu apa-apa tentang malam saat ayahku gantung diri karena dikhianati oleh orang-orang yang dia percayai. Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat ibuku kehilangan kewarasannya karena harta kami dijarah habis oleh para tikus kantor itu. Terutama dia... orang yang memimpin semua pengkhianatan itu."
Aku tahu dia sedang membicarakan ayahku. Rasa sakit di dadaku begitu menyesakkan hingga aku sulit bernapas. Aku ingin berteriak bahwa ayahku adalah orang baik, bahwa ayahku tidak mungkin melakukan itu, tapi lidahku kelu. Aku tidak punya bukti. Yang aku punya hanyalah daftar hitam itu dan kecurigaan yang rapuh.
"Rencana balas dendam ini bukan sekadar kemarahan, ini adalah keadilan," lanjut Arlan, kini suaranya lebih tenang namun jauh lebih mengerikan. "Aku telah menghabiskan sepuluh tahun untuk menyusun setiap langkah. Aku akan menghancurkan reputasi mereka, mencabut akar kehidupan mereka, dan memastikan dunia mengingat mereka sebagai sampah. Tak terkecuali."
Arlan menjauh dariku, kembali ke sisi profesionalitasnya yang kaku seolah ledakan emosi tadi tidak pernah terjadi. Dia merapikan jasnya yang tak berkerut.
"Pulanglah, Maya. Anggap pembicaraan ini tidak pernah terjadi. Jangan pernah lagi mencampuri urusan pribadiku atau mencoba bertindak seolah kau adalah penasihat moral bagiku. Tugasmu adalah bekerja, bukan menjadi detektif masa lalu."
Aku berdiri dengan kaki gemetar, tas kerjaku terasa berkali-kali lipat lebih berat. Aku berjalan menuju pintu, namun tepat sebelum aku menyentuh gagang pintu, suara Arlan kembali terdengar.
"Satu hal lagi," katanya tanpa menoleh. "Jika kau begitu tertarik dengan sejarah Adiguna Group, mungkin kau harus mulai menyiapkan diri. Karena minggu depan, aku akan mengumumkan akuisisi perusahaan properti milik keluarga Pradana. Dan aku pastikan, aku tidak akan menyisakan satu sen pun untuk mereka."
Langkahku terhenti. Jantungku seakan berhenti berdetak. Pradana. Itu adalah perusahaan paman-pamanku, satu-satunya warisan yang tersisa dari nama keluarga ayahku yang sudah hancur. Arlan tidak hanya mengincar memori ayahku; dia sedang bersiap untuk meratakan sisa-sisa keluargaku dengan tanah.
Aku keluar dari ruangan itu dengan penglihatan yang kabur oleh air mata, menyadari bahwa waktu yang kumiliki untuk membuktikan kebenaran hampir habis, atau aku akan kehilangan segalanya di tangan pria yang mulai kucint** ini.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!