Udara di lant** teratas gedung TechGenix terasa seolah dipompa keluar, menyisakan ruang hampa yang menyesakkan paru-paruku. Aku berdiri mematung di ambang pintu ruang kerja Arlan, menatap setumpuk berkas di atas meja m***gani yang berkilau di bawah lampu temaram. Di sana, tertulis dengan jelas dalam huruf kapital yang tajam: **PROYEK PENGAMBILALIHAN DAN LIKUIDASI YAYASAN LENTERA HARAPAN.**
Jantungku berdegup liar, seperti burung yang terperangkap dalam sangkar besi. Yayasan itu bukan sekadar bangunan tua di pinggiran kota. Itu adalah satu-satunya jejak kebaikan yang ditinggalkan ayahku sebelum semuanya hancur sepuluh tahun lalu. Itu adalah bukti bahwa ayahku bukan hanya sekadar angka dalam daftar hitam Arlan.
"Kenapa kamu masih di sini, Maya? Ini sudah lewat jam sepuluh malam." Suara Arlan yang bariton dan dingin memecah keheningan.
Dia berdiri di dekat jendela kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu Jakarta. Jasnya sudah ditanggalkan, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, menonjolkan urat-urat di lengannya yang kuat. Ia tampak seperti predator yang sedang beristirahat setelah perburuan yang melelahkan.
"Pak Arlan... saya baru saja melihat berkas itu," suaraku bergetar, lebih dari yang kuinginkan. Aku melangkah maju, tanganku terkepal kuat di sisi tubuh. "Anda berniat membubarkan Yayasan Lentera Harapan? Kenapa? Itu adalah lembaga nirlaba. Mereka membantu ratusan anak panti a**han."
Arlan berbalik perlahan. Matanya yang tajam menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kelelahan dan tekad yang membatu. "Itu bukan sekadar yayasan, Maya. Itu adalah mesin pencuci uang yang dibangun oleh Budi Pradana dengan hasil menipu keluarga saya. Setiap bata di gedung itu berlumuran darah perusahaan ayah saya."
"Itu tidak benar!" teriakku, refleks. Aku segera menutup mulut, menyadari kelancanganku, tapi api di dadaku sudah terlanjur tersulut. "Maksud saya... mungkin ada kesalahpahaman. Saya sudah meriset yayasan itu. Mereka benar-benar bekerja untuk kemanusiaan. Jika Anda menghancurkannya, anak-anak itu tidak akan punya tempat tinggal."
Arlan melangkah mendekat. Setiap derap langkah pantofelnya di atas lant** parket terdengar seperti vonis mati. Ia berhenti tepat di depanku, aromanya yang khas—campuran *sandalwood* dan sisa kopi pahit—mengepung indra penciumanku.
"Kamu terlalu naif, Maya. Itulah kelemahanmu," bisiknya, suaranya kini serak. "Kamu melihat permukaan yang indah, sementara aku melihat nanah di bawahnya. Budi Pradana menggunakan yayasan itu untuk menyembunyikan aset yang ia curi. Menghancurkan yayasan itu adalah cara terakhirku untuk memastikan namanya benar-benar terhapus dari sejarah industri ini tanpa sisa."
"Dia sudah meninggal, Arlan!" suaraku meninggi, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. "Dia sudah membayar semuanya dengan nyawanya! Kenapa Anda harus menghancurkan peninggalannya yang satu-satunya berguna bagi orang lain?"
Arlan menyipitkan mata, rahangnya mengeras hingga aku bisa melihat otot-ototnya menegang. "Kenapa kamu begitu gigih membela orang itu? Kamu hanyalah asistenku, Maya. Tugasmu adalah menyiapkan dokumen, bukan menginterogasi motif pribadiku."
"Karena ini salah!" aku terisak, satu tetes air mata jatuh membasahi pipiku. Aku tidak bisa menahannya lagi. Rasa sesak karena memendam rahasia ini selama berbulan-bulan seolah meledak di dadaku. "Anda bicara tentang keadilan, tapi yang Anda lakukan hanyalah balas dendam buta! Anda ingin menghukum orang mati dengan menyakiti anak-anak yatim!"
Arlan menyambar pergelangan tanganku, tidak kasar, tapi c**up kuat untuk membuatku tersentak. Tatapannya membakar. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang kehilangan, Maya. Kamu tidak melihat ayahmu mengakhiri hidupnya karena dikhianati oleh sahabat paling kepercayaannya. Budi Pradana adalah i**** dalam wujud manusia bagi keluarga saya. Dan saya tidak akan berhenti sampai setiap jengkal warisannya rata dengan tanah!"
"Dia bukan i****!" aku berteriak tepat di depan wajahnya, suaraku parau oleh tangis yang pecah.
Aku menyentakkan tanganku dari genggamannya. Seluruh tubuhku gemetar hebat. Ruangan itu terasa berputar. Aku menatap mata Arlan—mata pria yang mulai kucint**, namun juga pria yang paling ingin menghancurkan identitasku.
"Berhenti menghinanya, Arlan. C**up," kataku dengan suara yang rendah namun sarat dengan kepedihan.
Arlan mendengus sinis, ia hendak kembali ke mejanya untuk menandatangani dokumen likuidasi itu. "Keluar, Maya. Aku tidak ingin mendengar pembelaan konyolmu lagi untuk pria ba****** itu."
"Pria ba****** yang Anda maksud itu..." Aku menarik napas panjang, sebuah taruhan terakhir yang akan menghancurkan segalanya di antara kami. "...dia adalah ayahku."
Hening seketika.
Suara rintik hujan yang mulai menghantam kaca jendela terdengar seperti ledakan di tengah kesunyian yang mencekam itu. Arlan mematung. Tangannya yang memegang pena emas membeku di udara. Ia perlahan memutar tubuhnya, menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya—pucat, kaget, dan keraguan yang amat sangat.
"Apa yang kamu katakan?" suaranya hampir tidak terdengar, seperti bisikan hantu.
Aku menghapus air mata dengan kasar, menatapnya lurus ke dalam matanya yang kelam. "Nama lengkapku adalah Maya Pradana. Anak perempuan dari Budi Pradana. Orang yang namanya ada di urutan pertama dalam daftar hitammu."
Arlan melangkah mundur, seolah-olah aku baru saja melayangkan pukulan fisik ke wajahnya. Penanya jatuh ke lant**, menimbulkan bunyi denting logam yang menggema. Ia menatapku seolah-olah aku adalah orang asing yang baru saja ma**k ke ruangannya, bukan asisten yang selama ini ia percayai.
"Jadi selama ini..." Arlan tertawa kecil, tawa yang terdengar hampa dan mengerikan. "Semua perhatian itu, semua ketelitianmu... kamu menyusup ke sini untuk melindunginya? Kamu membohongiku sejak hari pertama?"
"Aku hanya ingin tahu kebenarannya, Arlan! Aku ingin tahu apakah ayahku benar-benar melakukan apa yang Anda tuduhkan!" seruku putus asa, melangkah mendekat namun ia segera menghindar, seolah sentuhanku adalah racun.
"Jangan sebut namaku dengan mulutmu yang penuh dusta itu," desis Arlan. Matanya yang tadi terluka kini berubah menjadi dingin yang mematikan, lebih dingin dari es manapun. Ia menatap berkas likuidasi di mejanya, lalu menatapku dengan kebencian yang murni. "Kamu ingin menyelamatkan yayasan ayahmu?"
Aku mengangguk cepat dengan sisa harapan yang ada.
Arlan mengambil berkas itu, meremasnya sedikit, lalu melemparkannya ke arahku hingga kertas-kertas itu berhamburan di lant**. "Sekarang, aku punya alasan yang lebih kuat untuk menghancurkannya. Dan aku akan memulainya denganmu."
Ia melangkah ke arah telepon di mejanya, namun matanya tetap terkunci pada mataku, memberikan tatapan yang memberitahuku bahwa mulai detik ini, kontrak kerja kami telah berubah menjadi medan perang yang sesungguhnya.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!