Kertas di tanganku terasa lebih berat daripada tumpukan laporan keuangan perusahaan. Sudut-sudut map cokelat itu menusuk telapak tanganku, tapi rasa sakitnya tak sebanding dengan denyut perih yang menghantam dadaku. Aku menatap foto kecil yang terlampir di sana—pas foto seorang pria paruh baya yang sangat kukenal, pria yang wajahnya menghantuiku selama sepuluh tahun terakhir. Di sampingnya, terdapat akta kelahiran yang baru saja ditarik dari arsip lama kependudukan.
Maya Pradana.
Nama itu tercetak jelas. Selama ini, aku hanya mengenalnya sebagai Maya, asisten pribadiku yang efisien, yang tahu bagaimana aku menyukai kopi pahit di pagi hari, dan yang perlahan-lahan mulai meruntuhkan tembok pertahanan yang kubangun dengan susah payah. Namun, dokumen ini adalah sebuah tamparan keras. Dia bukan sekadar asisten. Dia adalah putri dari Pradana—pria yang berada di urutan pertama daftar hitamku. Pria yang merampas segala yang dimiliki keluargaku hingga ayahku memilih untuk mengakhiri hidupnya di gudang tua yang dingin.
Suara ketukan di pintu terdengar. Ringan dan teratur. Irama yang biasanya membuatku merasa sedikit lebih tenang di tengah tekanan pekerjaan, namun kini suara itu terdengar seperti lonceng kematian.
"Ma**k," suaraku keluar lebih rendah dari biasanya, nyaris seperti geraman.
Maya melangkah ma**k dengan senyum tipis yang biasanya kuanggap manis. Dia membawa sebuah map biru dan segelas air putih yang selalu ia siapkan jika aku bekerja hingga larut. "Pak Arlan, ini jadwal untuk pertemuan dengan investor besok pagi. Saya juga sudah merevisi poin-poin kontrak yang—"
Kalimatnya terhenti saat ia melihatku. Aku tidak sedang menatap layar monitor. Aku menatapnya tepat di mata. Aku mencari kebohongan di sana, mencari sisa-sisa pengkhianatan yang mungkin ia sembunyikan di balik bulu mata lentiknya.
"Letakkan di sana," perintahku dingin.
Maya mengerutkan kening, langkahnya melambat. "Bapak baik-baik saja? Wajah Anda pucat."
Aku tertawa. Sebuah tawa kering yang hampa. "Pucat? Aku merasa sangat jernih sekarang, Maya. Lebih jernih dari sebelumnya." Aku berdiri perlahan, membiarkan map cokelat itu terbuka lebar di atas meja jati besarku. "Berapa lama kau berencana menyimpannya?"
Maya mendekat, matanya turun ke arah meja. Begitu ia melihat foto ayahnya berdampingan dengan data pribadinya, aku melihat seluruh warna memudar dari wajahnya. Gelas air yang ia pegang bergetar hebat. *Trak!* Gelas itu menghantam pinggiran meja, airnya tumpah membasahi dokumen penting, tapi dia tidak peduli.
"Arlan... aku bisa jelaskan," bisiknya, suaranya parau dan bergetar.
"Jelaskan apa?" Aku melangkah memutari meja, mempersempit jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma parfum vanilanya yang kini terasa memuakkan. "Jelaskan bahwa kau ma**k ke perusahaanku dengan identitas yang setengah disembunyikan? Jelaskan bahwa kau adalah darah daging dari orang yang membunuh ayahku?"
"Ayahku tidak membunuh siapa pun!" teriaknya tiba-tiba, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dia dijebak, Arlan. Aku di sini untuk—"
"C**up!" bentakku. Suaraku menggelegar di ruangan yang kedap suara itu. "Kau di sini untuk memata-mat**? Untuk melihat apakah aku masih menyimpan dendam? Well, kau sudah melihatnya sekarang."
Aku merogoh laci meja, mengambil sebuah map hitam yang berisi rencana akuisisi paksa terhadap beberapa perusahaan kecil yang berafiliasi dengan nama ayahnya. Aku melemparnya ke hadapannya. Lembaran-lembaran kertas itu berhamburan di lant**, menutupi sepatu hak tingginya.
"Setiap detik yang kau habiskan di ruangan ini, setiap tawa yang kau berikan, setiap perhatian kecil yang kau tunjukkan... apakah itu semua bagian dari rencana untuk melunakkan hatiku?" Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, bisa merasakan napasnya yang tersengal. "Aku hampir memercayaimu, Maya. Aku hampir memberikan hatiku pada orang yang seharusnya kuhancurkan."
"Itu tidak benar," Maya terisak, air mata kini membasahi pipinya. "Perasaanku padamu... itu nyata. Aku tidak tahu bahwa kau adalah—"
"Jangan berbohong lagi!" Aku memotongnya dengan kejam. "Mulai detik ini, kau bukan lagi asistenku. Kau bukan siapa-siapa di perusahaan ini. Aku memecatmu secara tidak hormat. Jangan harap kau bisa mendapatkan pekerjaan di industri ini lagi. Aku akan memastikan namamu sehitam nama ayahmu di mata dunia."
Maya terpaku, tangannya menutup mulut seolah menahan teriakan. "Kau tidak bisa melakukan ini, Arlan. Kau menghancurkan hidupku karena masa lalu yang bahkan belum tentu benar."
Aku kembali ke kursiku, membelakanginya, menatap lampu-lampu kota Jakarta dari balik kaca jendela besar yang dingin. "Security akan mengawalmu keluar dalam lima menit. Jangan bawa apa pun kecuali barang pribadimu. Semua aksesmu ke sistem TechGenix sudah diputus."
"Arlan, tolong..."
"Keluar!"
Aku mendengar langkah kakinya yang goyah menjauh, diikuti suara pintu yang tertutup dengan dentuman keras. Ruangan itu kembali hening, namun dadaku terasa sesak. Aku mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jariku memutih. Rasa sakit dikhianati ini jauh lebih tajam daripada kebencian yang kupupuk selama sepuluh tahun.
Aku meraih telepon di meja, menekan nomor internal kepala departemen hukum dan strategi.
"Ini Arlan," kataku, suaraku sedingin es. "Majukan jadwal 'Operasi Pembersihan'. Aku tidak peduli dengan kerugian jangka pendek. Hancurkan semua aset yang terkait dengan keluarga Pradana. Sekarang juga. Jangan sisakan satu celah pun untuk mereka bernapas."
Aku menutup telepon dan menatap daftar hitam di layar monitor. Nama Maya kini berada di sana, tepat di bawah nama ayahnya. Hatiku yang sempat menghangat karena kehadirannya kini telah membeku sepenuhnya. Permainan ini baru saja dimulai, dan aku tidak akan berhenti sampai mereka merasakan kehampaan yang sama dengan yang kurasakan.
Namun, di sudut hatiku yang paling gelap, sebuah pertanyaan menyiksa muncul: Jika dia benar-benar musuhku, mengapa melihatnya menangis rasanya seperti aku sedang menikam diriku sendiri?
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!