Debu menari-nari dalam sorot senter ponselku, menciptakan tirai tipis yang menyesakkan napas. Aku terbatuk pelan, segera membekap mulut dengan punggung tangan, takut suara sekecil apa pun akan mengundang perhatian penjaga malam di depan kompleks pergudangan tua ini.
Gudang arsip lama milik keluarga Adiguna ini terletak di pinggiran kota yang terbengkalai, sebuah bangunan beton yang tampak merana dengan cat yang mengelupas seperti kulit kering. Di sinilah, menurut catatan digital yang sempat kupindai dari laptop Arlan, dokumen-dokumen fisik sebelum era digitalisasi TechGenix disimpan. Dokumen yang mungkin berisi kunci untuk membersihkan nama ayahku.
"Ayah bukan pengkhianat," bisikku pada kegelapan, lebih untuk menguatkan hatiku yang berdenyut kencang.
Lant** semen yang dingin mengirimkan sensasi menggigil ke ujung kakiku. Aku berjalan menyusuri barisan rak besi yang menjulang tinggi, masing-masing dipenuhi kotak-kotak kardus cokelat yang berbau apek dan kertas tua. Jariku meraba label-label tahun yang mulai menguning. 2018... 2016... 2015...
Langkahku terhenti di depan sebuah rak di sudut paling belakang, nyaris tertutup oleh tumpukan kursi kayu yang patah. Labelnya tertulis: *Laporan Audit Internal - 2014.*
Jantungku berdegup seirama dengan detak jarum jam tangan yang terasa m****akkan telinga. Dengan tangan gemetar, aku menarik salah satu kotak yang terasa lebih berat dari yang lain. Isinya adalah tumpukan map biru tua. Aku membukanya satu per satu, membolak-balik lembaran yang berisi angka-angka rumit dan grafik kerugian perusahaan.
Mataku menyipit saat menemukan nama ayahku, Hendrawan Pradana, di lembar disposisi dana darurat. Namun, ada yang aneh. Aku mengeluarkan kaca pembesar kecil dari tasβsebuah kebiasaan lama yang kubawa dari masa kuliah riset. Di bawah cahaya senter, aku melihat bekas tekanan pena yang berbeda pada tanda tangan ayah. Di sudut kertas, ada goresan kecil yang tampak seperti koreksi yang dipaksakan.
"Ini bukan tanda tangan Ayah," gumamku. Tanda tangan ayahku selalu memiliki tarikan garis kecil di akhir huruf 'n', sebuah det**l yang hanya diketahui oleh keluarga. Di sini, garis itu terlalu kaku, seolah-olah seseorang mencoba menirunya dengan penuh keraguan.
Tiba-tiba, telingaku menangkap suara lain. Bukan suara tikus yang mencicit atau derit bangunan tua. Itu adalah suara langkah kaki. Berat, berirama, dan semakin mendekat.
Aku tersentak, refleks mematikan senter ponselku. Kegelapan total menyergap. Aku meringkuk di balik rak, menahan napas hingga dadaku terasa perih. Suara sepatu pantofel yang beradu dengan lant** semen itu berhenti tepat di lorong tempatku berada.
*Klik.*
Lampu neon di langit-langit gudang yang tadinya mati, tiba-tiba berkedip-kedip sebelum menyala dengan cahaya pucat yang menyakitkan mata. Aku memejamkan mata sejenak, dan saat membukanya, sesosok bayangan panjang telah memayungi tempat persembunyianku.
"Mencari sesuatu, Nona Pradana?"
Suara itu bukan milik Arlan. Suara itu berat, serak, dan memiliki nada mengancam yang belum pernah kudengar sebelumnya. Aku mendongak dan menemukan seorang pria paruh baya berdiri di sana. Ia mengenakan setelan jas abu-abu yang rapi, kontras dengan suasana gudang yang kotor. Wajahnya terlihat ramah, namun matanya sedingin es. Dia adalah Pak Baskoro, salah satu dewan komisaris senior yang sering kulihat berbicara akrab dengan Arlan.
"Pak Baskoro?" aku berdiri perlahan, mencoba menyembunyikan map di belakang punggungku, namun ia lebih cepat.
"Berikan dokumen itu, Maya," pintanya, suaranya tenang namun mengandung perintah yang tak bisa dibantah. "Kamu anak yang cerdas, terlalu cerdas untuk kebaikanmu sendiri. Arlan mungkin buta karena dedikasinya pada dendam, tapi aku tidak."
"Apa maksud Bapak?" suaraku bergetar. "Dokumen ini membuktikan bahwa ayah saya dijebak. Tanda tangan ini palsu!"
Baskoro tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan amplas. Ia melangkah maju, memaksaku mundur hingga punggungku menab**k rak besi yang bergetar. "Dunia bisnis tidak peduli pada kebenaran, Nak. Mereka hanya peduli pada siapa yang menjadi tumbal agar roda tetap berputar. Ayahmu adalah tumbal yang sempurna sepuluh tahun lalu, dan dia harus tetap seperti itu."
Ia mengeluarkan sebuah korek api perak dari saku jasnya, memainkannya dengan gerakan ritmis. *Crak. Crak.* Percikan apinya terlihat haus di antara tumpukan kertas kering ini.
"Beberapa rahasia memang lebih baik tetap terkubur bersama debu-debu ini," lanjutnya, matanya menatapku dengan tajam. "Jika kamu menyerahkan map itu sekarang dan pergi dari TechGenix, aku mungkin bisa memastikan karirmu di tempat lain tidak hancur. Tapi jika kamu bersikeras menjadi pahlawan untuk orang mati..."
Ia menggantung kalimatnya, lalu melirik ke sekeliling gudang yang dipenuhi bahan mudah terbakar. "Gudang tua ini memiliki sistem pemadam kebakaran yang sudah rusak. Kebakaran karena arus pendek listrik adalah berita yang sangat ma**k akal, bukan?"
Keringat dingin mengalir di pelipisku. Aku mengeratkan pelukan pada map itu, merasakan kertasnya merenyuk di bawah jemariku. Di satu sisi, ada pintu keluar yang dijaga oleh pria ini. Di sisi lain, ada kebenaran tentang Ayah yang selama ini kucari.
"Arlan harus tahu," kataku dengan sisa keberanian yang ada. "Dia menghabiskan sepuluh tahun membenci orang yang salah. Dia menghancurkan hidupku karena kebohongan yang Bapak buat!"
Baskoro tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat bulu kudukku berdiri. "Arlan? Dia terlalu sibuk mencint**mu untuk menyadari bahwa musuh yang sebenarnya selalu duduk di meja makan bersamanya. Dan sayangnya, Maya, cinta kalian berdua hanyalah variabel pengganggu yang harus segera kuhapus."
Ia melangkah maju satu langkah lagi, tangannya terulur untuk merebut map itu, sementara tangan lainnya meraih sesuatu dari balik jasnya yang tampak seperti alat kejut listrik. Aku terpojok, tak ada jalan lari, dan napas pria itu kini terasa di wajahku, berbau tembakau dan kematian.
Tepat saat ia hendak menerjang, ponsel di saku celanaku bergetar hebat. Sebuah pangg***n ma**k. Di layar yang menyala redup, nama yang muncul membuat jantungku mencelos: *Arlan Adiguna.*
Baskoro melirik layar ponselku, lalu kembali menatapku dengan seringai kemenangan. "Angkatlah. Biar dia mendengar jeritan terakhirmu sebelum semuanya menjadi abu."
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!