Hening di ruang kerja pribadiku biasanya terasa seperti kemenangan. Namun malam ini, kesunyian itu justru terasa mencekik, seperti kabel tipis yang perlahan melilit leherku. Aku menyesap wiski terakhir di dalam gelas, membiarkan rasa pahit dan panasnya membakar tenggorokan, tetapi itu tetap tidak bisa membakar bayangan Maya yang terus berputar di kepalaku.
Wajahnya saat ia menatapku tadi soreβcampuran antara ketakutan dan luka yang mendalamβadalah sesuatu yang tidak ma**k dalam kalkulasiku.
Aku meletakkan gelas kristal itu dengan denting pelan di atas meja m***ni. Di depanku tergeletak map biru kusam yang ditinggalkan Maya di meja asistennya sebelum dia pulang dengan terburu-buru. Awalnya aku mengira itu hanya laporan riset pasar mingguan yang biasa ia siapkan dengan ketelitian yang nyaris obsesif. Namun, sudut kertas yang menyembul keluar, berwarna kekuningan dan sedikit koyak, memicu naluri defensifku.
Aku menarik map itu. Jariku gemetar tipis, sebuah reaksi fisik yang sangat jarang terjadi pada Arlan Adiguna. Saat aku membukanya, jantungku seolah berhenti berdetak sesaat.
Itu bukan laporan pasar. Itu adalah catatan pribadiβbuku harian kerja yang sangat kukenal jenis kertasnya. Ini milik Hendra Pradana. Ayah Maya. Orang yang selama sepuluh tahun ini berada di urutan teratas daftar hitamku. Pria yang kutandai sebagai arsitek utama kehancuran ayahku, pengkhianat yang menjual rahasia perusahaan demi tumpukan uang dari kompetitor.
"Apa yang ingin kau buktikan, Maya?" gumamku pada ruang yang kosong. Suaraku terdengar parau.
Aku mulai membalik lembaran demi lembaran. Tulisan tangan Hendra sangat rapi, sangat mirip dengan gaya penulisan Maya yang teratur. Di sana, tertulis det**l transaksi sepuluh tahun lalu. Aku mencari bukti pengkhianatan itu. Aku ingin menemukannya agar aku bisa membenarkan kebencianku, agar aku bisa menatap mata Maya besok dan mengatakan bahwa ayahnya memang sampah.
Namun, semakin jauh aku membaca, semakin dingin darahku terasa.
Pada tanggal 14 Mei, dua minggu sebelum kebangkrutan perusahaan ayahku, Hendra menulis: *'Ada anomali dalam aliran dana di divisi operasional. Seseorang membuka pintu belakang bagi investor asing tanpa persetujuan Direksi. Aku mencoba melacaknya melalui rekening bayangan, tapi aksesku selalu diblokir dari dalam. Aku takut mereka akan menjebakku.'*
Aku mengerutkan kening. Jemariku mencengkeram pinggiran kertas hingga sedikit merobeknya. Ini tidak cocok dengan data yang kumpulkan selama bertahun-tahun. Data pribadiku menunjukkan bahwa Hendra adalah orang yang memberikan kunci akses tersebut.
Aku terus membaca, lebih cepat sekarang, paru-paruku mulai terasa sesak. Di lembaran berikutnya, terlampir sebuah salinan slip transfer bank yang sudah memudar. Nilainya fantastis. Namun, tujuannya bukan ke rekening pribadi Hendra Pradana seperti yang tertera dalam dokumen audit yang kubeli dari detektif swasta bertahun-tahun lalu. Dana itu dikirim kembali ke rekening induk perusahaan ayahku, namun dengan label 'Pengembalian Aset Tersembunyi'.
"Tidak... ini tidak mungkin," bisikku.
Aku berdiri, mondar-mandir di ruang kerja yang luas ini. Selama satu dekade, aku membangun TechGenix di atas fondasi dendam. Setiap kesuksesan yang kuraih, setiap pesaing yang kuhancurkan, adalah persembahan untuk luka masa laluku. Kebencianku pada Hendra Pradana adalah bahan bakar utamaku. Jika Hendra bukan pelakunya, maka seluruh narasi hidupku selama sepuluh tahun ini adalah sebuah kesalahan besar.
Aku kembali ke meja, menyalakan laptop dengan kasar. Aku membuka berkas rahasia yang tersimpan di b**nkas digitalβdaftar hitam yang kutulis sendiri. Nama Hendra Pradana terpampang di sana, tebal dan dingin. Aku membandingkan tanggal di buku harian itu dengan bukti-bukti yang kumiliki.
Ada sebuah celah. Sebuah lubang kecil yang selama ini tertutup oleh emosiku yang meluap.
Bukti yang kumiliki menunjukkan transfer dana keluar dari akun Hendra pada jam 10 pagi. Namun, di buku harian ini, Hendra mencatat bahwa dia sedang berada di rumah sakit bersama istrinya yang saat itu sedang sakit keras pada jam yang sama, dan dia tidak memiliki akses ke internet publik. Maya pernah bercerita sekilas tentang ibunya yang meninggal saat dia masih kecil karena komplikasi. Tanggalnya cocok.
Lalu, siapa yang menggunakan akun Hendra?
Pikiranku berputar hebat. Jika Hendra mencoba mengembalikan uang itu, berarti dia menyadari ada pengkhianatan yang terjadi dari dalam. Seseorang yang lebih berkuasa, seseorang yang bisa memanipulasi audit, dan seseorang yang c**up licik untuk memastikan Hendra-lah yang menanggung semua dosanya.
Bayangan wajah Maya kembali muncul. Matanya yang selalu menyimpan kesedihan yang sama dengan mataku. Sekarang aku mengerti kenapa dia tampak begitu hancur saat pertama kali ma**k ke kantorku. Dia bukan sedang menyusup untuk menghancurkanku. Dia sedang mencoba mencari kebenaran yang sama.
Aku menjatuhkan diri kembali ke kursi kerja, memijat pelipis yang berdenyut kencang. Jika Hendra Pradana bukan musuhku, berarti selama ini aku telah menjadikan putri dari orang yang mencoba menyelamatkan ayahku sebagai target balas dendamku. Aku telah memperlakukan Maya dengan dingin, menuntutnya bekerja melampaui batas, dan hampir menghancurkan reputasinya hanya untuk memuaskan egoku.
Ego. Itulah hambatan terbesarku sekarang. Mengakui bahwa aku salah berarti meruntuhkan seluruh identitas yang kubangun sebagai Sang CEO yang tak pernah salah.
Tiba-tiba, mataku tertuju pada sebuah catatan kecil yang terselip di halaman paling belakang map biru itu. Sebuah memo tempel berwarna kuning dengan tulisan tangan Maya yang lembut namun tegas.
*Pak Arlan, kebenaran tidak selalu berada di permukaan yang mengkilap. Terkadang, ia terkubur di bawah lumpur yang sengaja dilemparkan orang lain. Tolong, baca ini dengan hati yang jernih, bukan dengan mata yang penuh dendam.*
Aku meremas memo itu dalam kepalan tanganku. Perasaan bersalah mulai merayap, menghantam dinding pertahananku yang selama ini kukira tak tertembus. Namun, di balik rasa bersalah itu, muncul ketakutan baru yang lebih mengerikan.
Jika Hendra bukan orangnya, maka musuh yang sebenarnya masih ada di luar sana. Seseorang yang mungkin saat ini sedang tertawa melihatku mengejar bayangan yang salah. Seseorang yang mungkin sekarang sedang mengincar Maya karena dia memiliki dokumen-dokumen ini.
Telepon genggamku bergetar di atas meja. Sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal.
*Aku melihatmu sudah membuka map itu, Arlan. Hati-hati, ada rahasia yang sebaiknya tetap terkubur jika kau tidak ingin TechGenix berakhir sama seperti perusahaan ayahmu.*
Napas duniaku seolah berhenti. Aku menatap layar ponsel, lalu beralih ke pintu ruang kerjaku yang tertutup rapat. Aku tidak sendirian dalam permainan ini. Seseorang sedang mengawasiku, dan target mereka berikutnya bukan hanya aku, tapi juga wanita yang baru saja kusadari telah kucint** di tengah rencana penghancuranku.
Aku harus menemukan Maya. Sekarang juga. Sebelum tangan-tangan yang menghancurkan ayahku menemukannya lebih dulu.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!