Hujan gerimis memba**h kaca jendela taksi yang membawaku ke pinggiran kota, area industri tua yang tampak seperti kumpulan raksasa beton yang sedang sekarat. Jantungku berdegup kencang, ritmenya tidak beraturan seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Di genggamanku, sebuah carik kertas berisi alamat Pak Baskoro, mantan akuntan senior di perusahaan keluarga Arlan, sudah agak lecek karena keringat dingin dari telapak tanganku.
Dia adalah satu-satunya nama dalam "Daftar Hitam" Arlan yang statusnya masih diberi tanda tanya besar. Jika Arlan ingin menghancurkannya, aku harus menemukannya lebih dulu. Aku harus tahu apakah benar ayahku yang menjebak mereka semua, atau ada kepingan puzzle yang sengaja dihilangkan.
"Sudah sampai, Mbak. Ini Blok C-12," suara sopir taksi memecah lamunanku.
Aku turun dan langsung disambut oleh aroma karat dan air hujan yang menggenang di aspal berlubang. Bangunan di depanku adalah sebuah rumah toko tua dengan cat yang sudah mengelupas parah. Sunyi. Terlalu sunyi untuk sebuah pemukiman, meski ini daerah gudang. Aku melangkah ragu, tumit sepatuku berbunyi *tuk-tuk-tuk* di atas beton, menggema seolah memberitahu seluruh dunia akan keberadaanku.
Pintu besi ruko itu sedikit terbuka. Aku mengetuknya perlahan. "Permisi? Pak Baskoro?"
Tidak ada jawaban. Bau apek sisa kelembapan menyeruak saat aku memberanikan diri mendorong pintu lebih lebar. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi cahaya abu-abu dari langit mendung di luar. Tumpukan kardus tua berserakan di sudut-sudut ruangan.
"Siapa di sana?" Sebuah suara parau terdengar dari balik sekat kayu di ujung ruangan.
Aku melangkah maju, tanganku meremas tali tas bahuku dengan kuat. "Nama saya Maya Pradana. Saya... putri dari almarhum Hendra Pradana."
Hening sesaat. Kemudian, seorang pria tua dengan rambut memutih seluruhnya muncul. Wajahnya pucat pasi, matanya yang cekung menatapku dengan binar ketakutan yang murni. "Anak Hendra? Pergi! Kau tidak boleh di sini! Mereka akan melihatmu!"
"Siapa, Pak? Siapa yang Bapak maksud?" aku mendekat, suaraku bergetar karena desakan rasa ingin tahu. "Tolong, Pak. Arlan Adiguna mencari Bapak. Dia punya daftar itu. Dia pikir Ayah saya yang merencanakan kebangkrutan itu. Benarkah demikian?"
Baskoro menggelengkan kepala dengan cepat, tangannya yang kurus gemetar hebat saat dia mencoba mengunci pintu belakang yang juga terbuka sedikit. "Ayahmu hanya kambing hitam, Maya! Dia dikorbankan agar orang-orang besar itu bisa mencuci uang mereka. Arlan... Arlan tidak tahu apa-apa! Dia hanya melihat apa yang mereka ingin dia lihat!"
"Siapa mereka, Pak? Sebutkan namanya!" seruku, air mata mulai menggenang.
Baru saja Baskoro membuka mulut untuk menjawab, suara derit rem mobil yang tajam terdengar dari depan ruko. Mata Baskoro membelalak. "Mereka di sini," bisiknya hampir tak terdengar.
"Lari, Maya! Lewat belakang!"
Namun terlambat. Pintu depan ditendang hingga menghantam dinding dengan dentuman yang m****akkan telinga. Dua orang pria bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam ma**k. Wajah mereka dingin, tanpa ekspresi, seperti robot yang hanya diprogram untuk memburu.
Aku mencoba berlari ke arah pintu belakang, namun salah satu dari mereka lebih cepat. Sebuah tangan kasar mencengkeram lenganku, memutarnya ke belakang hingga aku m****ik kesakitan. Tas bahuku terjatuh, isinya berhamburan di lant** yang kotor.
"Lepaskan aku! Siapa kalian?!" teriakku sambil meronta.
"Diam atau pak tua ini tidak akan melihat matahari besok," ancam pria yang mencengkeramku. Suaranya rendah dan mengancam, seperti gesekan amplas pada kayu.
Pria yang satunya lagi mendekati Pak Baskoro yang kini tersudut di pojok ruangan. Baskoro memohon-mohon, suaranya parau oleh tangis. Aku melihat pria itu mengeluarkan sebuah jarum suntik dari saku jaketnya.
"Jangan! Apa yang kalian lakukan?!" Aku menendang kaki pria yang memegangiku, mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Namun, sebuah tamparan keras mendarat di pipiku, membuat pandanganku berkunang-kunang dan rasa asin darah mulai memenuhi mulutku.
"Kau seharusnya tetap diam di kantor mewahmu, Nona Asisten," bisik pria itu di telingaku. Nafasnya bau rokok murahan. "Interferensi bukan bagian dari kontrak kerjamu, kan?"
Aku diseret paksa menuju sebuah mobil van hitam yang sudah menunggu di depan. Aku berusaha menoleh, melihat Pak Baskoro yang lunglai setelah disuntikkan sesuatu ke lengannya. Kepalaku terasa berat, rasa takut yang luar biasa mulai melumpuhkan logikaku.
Saat mereka mendorongku ma**k ke dalam van yang gelap, aku melihat ponselku tertinggal di lant** ruko, layarnya menyala terang. Sebuah pangg***n ma**k tertulis di sana: *Arlan Adiguna*.
Pintu van tertutup rapat dengan dentuman keras, memutus segala aksesku pada dunia luar. Di dalam kegelapan yang pengap itu, aku hanya bisa mendengar suara mesin mobil yang menderu dan detak jantungku yang semakin melemah karena keputusasaan. Arlan mencariku, tapi dia mencariku untuk membalas dendam atau untuk menyelamatkanku? Dan yang lebih menakutkan, jika dia menemukanku di sini, apakah dia akan percaya bahwa aku tidak sedang berkhianat di belakangnya?
Mobil itu mulai bergerak cepat, membawaku entah ke mana, sementara kebenaran tentang Ayah kembali tenggelam dalam bayang-bayang yang lebih gelap dari sebelumnya. Bau klorofom mulai memenuhi hidungku saat salah satu dari mereka membekap mulutku dengan kain kasar. Duniamu mulai memudar menjadi hitam, tepat saat suara Arlan di seberang teleponβyang tak bisa kujawabβterbayang di benakku sebagai satu-satunya harapan yang tersisa.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!