Lant** empat puluh dua gedung TechGenix adalah sebuah ekosistem yang terbuat dari kaca, baja, dan ambisi yang dingin. Pukul enam lewat lima belas menit pagi, dan aku sudah berdiri di depan meja kerjaku yang ergonomis, menatap pantulan wajahku yang tampak sedikit pucat di layar monitor yang masih gelap. Di kantorku sebelumnyaβsebuah agensi kecil tempatku magangβjam segini biasanya aku masih bergulung di bawah selimut. Namun, Arlan Adiguna bukan bos biasa, dan TechGenix bukan sekadar tempat mencari nafkah.
Suara langkah kaki yang ritmis dan tegas menggema di lorong marmer. Aku menahan napas. Arlan muncul dengan setelan jas abu-abu arang yang terpotong sempurna, tanpa satu kerutan pun. Ia tidak menoleh ke arahku, seolah-olah keberadaanku hanyalah bagian dari furnitur kantor.
"Kopi hitam, tanpa gula, suhu tujuh puluh derajat. Letakkan di meja saya dalam tiga menit. Setelah itu, saya mau ringkasan laporan valuasi seri C dari tiga kompetitor utama kita. Jangan pakai data publik, saya mau analisis mendalam tentang arus kas mereka yang bocor bulan lalu."
Suaranya datar, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. Sebelum aku sempat menjawab "baik, Pak," ia sudah menghilang di balik pintu kayu ek besar ruangannya.
Aku bergerak cepat. Tanganku sedikit gemetar saat mengoperasikan mesin kopi canggih di pantry khusus pimpinan. Panas uap kopi menerpa wajahku, memberikan sedikit dorongan adrenalin. Tepat menit kedua lewat empat puluh detik, aku mengetuk pintunya.
"Ma**k."
Aku meletakkan cangkir porselen itu di sisi kanan mejanya yang bersih dari debu. Arlan sedang menatap tiga layar monitor sekaligus, jemarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang mengerikan.
"Laporannya?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan.
"Sedang saya finalisasi, Pak. Saya butuh sepuluh menit lagi untuk memverifikasi data dari informan di Singapura," jawabku, berusaha menjaga nada suaraku tetap profesional meski jantungku berdegup kencang.
Arlan berhenti mengetik. Ia perlahan mengangkat kepalanya, menatapku dengan mata tajam yang seolah bisa membedah isi kepalaku. "Sepuluh menit di industri ini bisa berarti kehilangan sepuluh juta dolar, Maya. Kamu bilang di sesi wawancara bahwa ketelitian adalah senjata utamamu. Buktikan, atau silakan kemas barangmu sebelum makan siang."
Aku menelan ludah. "Sepuluh menit, Pak. Saya tidak akan mengecewakan Anda."
Aku praktis berlari kembali ke mejaku. Baru saja bokongku menyentuh kursi, seorang wanita dengan rambut disanggul rapi dan kacamata berbingkai emas berdiri di depanku. Sandra, asisten senior Arlan yang telah bekerja di sana selama lima tahun dan dikenal sebagai 'penjaga gerbang' sang CEO.
"Jangan pikir karena kamu lulusan terbaik, kamu bisa sant** di sini," sindir Sandra sembari meletakkan tumpukan map fisik yang c**up tebal di atas mejaku. "Pak Arlan minta ini diinput ke sistem enkripsi sore ini. Semuanya harus diketik manual, jangan gunakan OCR karena dokumen-dokumen ini sangat rahasia."
Aku menatap tumpukan itu dengan nanar. "Tapi saya harus menyelesaikan analisis kompetitor untuk Pak Arlan sekarang, Bu."
Sandra tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata. "Selamat datang di TechGenix, Maya. Di sini, 'mustahil' hanyalah kata yang digunakan oleh orang-orang yang tidak kompeten. Atur waktumu, atau waktu yang akan mengatur kepergianmu."
Selama empat jam berikutnya, aku tenggelam dalam lautan angka dan grafik. Mataku mulai terasa pedas karena terlalu lama menatap layar biru, sementara jemariku mulai kaku karena mengetik tanpa henti. Aku melewatkan makan siang, hanya mengganjal perut dengan sebatang cokelat yang kutemukan di tas.
Sekitar pukul dua siang, Arlan keluar dari ruangannya. Ia berhenti tepat di depan mejaku. Aku segera berdiri, merapikan rok pensilku yang sedikit kusut.
"Ikut saya ke ruang arsip bawah tanah," perintahnya singkat.
Aku mengerutkan kening. "Ruang arsip, Pak? Bukankah semuanya sudah didigitalisasi?"
Arlan berhenti melangkah, menoleh sedikit sehingga aku bisa melihat rahangnya yang mengeras. "Ada beberapa hal di dunia ini yang terlalu berbahaya jika dibiarkan dalam bentuk bit dan byte. Kadang, kertas adalah tempat persembunyian terbaik bagi kebenaran yang busuk."
Kami turun menggunakan lift privat. Suasana di dalam lift yang sempit itu terasa menyesakkan. Aroma parfum *woody* maskulin milik Arlan memenuhi ruang terbatas tersebut, menciptakan ketegangan yang aneh di perutku. Ia berdiri tegak, tangannya tersimpan di saku celana, matanya menatap angka lant** yang terus menurun.
Sesampainya di basement, Arlan membawaku ke sebuah ruangan dengan pintu baja berlapis sandi ganda. Di dalamnya, barisan lemari besi berdiri angkuh di bawah lampu neon yang berkedip redup. Udara di sini terasa dingin dan berbau kertas tua.
"Cari berkas likuidasi Adiguna Holdings tahun 2014," katanya, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu. "Saya mau semua nama yang terlibat dalam audit eksternal saat itu. Jangan ada yang terlewat, sekecil apa pun perannya."
Aku mulai mencari di antara deretan folder berdebu. Jemariku lincah memilah-milah, berterima kasih pada ketelitian yang sudah mendarah daging dalam diriku. Namun, saat aku menarik sebuah map cokelat yang sudah mulai rapuh di bagian pojok, sebuah lembaran lepas terjatuh ke lant**.
Aku membungkuk untuk mengambilnya. Niatku hanya ingin menyelipkannya kembali, namun mataku tak sengaja menangkap sebuah daftar nama yang diketik dengan mesin tik tua. Di bagian paling atas, ada coretan tinta merah berbentuk silang besar yang menutupi sebuah nama.
Jantungku seolah berhenti berdetak saat aku berhasil mengeja nama di balik coretan merah itu.
*Hendrawan Pradana.*
Ayahku.
Tanganku gemetar hebat hingga kertas itu nyaris jatuh lagi. Itu bukan sekadar daftar audit. Di samping nama ayahku, tertulis sebuah catatan kaki kecil dengan tulisan tangan yang tajam dan miring: *Target Utama β Penghancuran Reputasi Total.*
"Sudah ketemu?" Suara Arlan tepat di belakang telingaku, dingin dan mengintimidasi.
Aku tersentak, segera meremas kertas itu di balik telapak tanganku yang berkeringat, berusaha sekuat tenaga agar ekspresi wajahku tidak runtuh saat aku berbalik menatap pria yang kini menjadi atasankuβpria yang rupanya sedang merencanakan kehancuran bagi kenangan tentang ayahku yang sudah tiada.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!