Layar di dasbor mobil Audi-ku berkedip-kedip, menampilkan titik merah yang berdenyut di tengah peta digital yang suram. Pinggiran kota, sebuah area pergudangan tua yang seharusnya sudah rata dengan tanah lima tahun lalu. Jantungku berdegup menghantam rongga dada, ritme yang jauh lebih kacau daripada saat aku memenangkan tender triliunan rupiah.
"Si****, Maya. Kenapa kau harus sekeras kepala itu?" gerutuku, jemariku mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
Aku sengaja memasang pelacak di ponsel kantor yang kuberikan padanya. Awalnya, itu adalah bentuk ketidakpercayaanku, sebuah alat untuk memastikan dia tidak mengkhianatiku seperti yang dilakukan ayahnya sepuluh tahun lalu. Namun malam ini, alat itu menjadi satu-satunya harapanku untuk menemukannya tetap bernapas.
Mobilku menderu pelan saat aku mematikan lampu depan, merayap ma**k ke area pabrik pengolahan kayu yang terbengkalai. Bau apak kayu basah dan karat menusuk hidung saat aku turun dari mobil. Suasana sunyi, hanya suara jangkrik yang bersahut-sahutan, namun naluriku meneriakkan bahaya.
Aku melangkah dengan sangat hati-hati, sepatu pantofelku sesekali menginjak ranting kering yang patah dengan suara *krak* yang m****akkan telinga di tengah kesunyian. Di ujung lorong gudang yang remang-remang, aku melihat cahaya lampu pijar yang bergoyang.
Langkahku terhenti saat mendengar suara tawa yang sangat kukenal. Suara serak, berat, dan penuh kepalsuan yang menghantui mimpi burukku selama satu dekade.
"Katakan padaku, Manis. Apa yang diceritakan Arlan padamu tentang ayahnya? Apakah dia bercerita betapa lemahnya pria itu saat aku mengambil alih asetnya?"
Itu suara Hendra Baskoro. Pria yang namanya menempati urutan paling bawah di daftar hitamku, namun seharusnya berada di posisi paling atas sebagai otak di balik kehancuran keluargaku.
Aku mengintip dari balik tumpukan palet kayu. Di sana, di tengah ruangan yang kotor, Maya terduduk di sebuah kursi kayu tua. Tangannya terikat ke belakang, mulutnya ditutup lakban hitam. Matanya yang biasanya penuh binar ambisi kini basah oleh air mata, memancarkan ketakutan yang membuat darahku mendidih. Di hadapannya, Hendra berdiri sambil memainkan sebuah pisau lipat kecil di tangannya.
"Arlan mengira ayahmu adalah pengkhianatnya," Hendra tertawa kecil, ujung pisaunya menyentuh dagu Maya. "Dia terlalu buta oleh dendam sampai tidak sadar bahwa aku menggunakan ayahmu sebagai kambing hitam yang sempurna. Ayahmu jujur, Maya. Terlalu jujur, sampai-sampai dia mudah sekali dibuang."
Pernyataan itu menghantamku seperti godam. Seluruh duniaku seakan terbalik. Sepuluh tahun aku membenci nama Pradana, sepuluh tahun aku menyusun rencana untuk menghancurkan reputasi mereka, dan sekarang... kebenaran itu terucap dari mulut ular yang sebenarnya.
Maya meronta, mengeluarkan suara erangan tertahan dari balik lakban.
"Jangan sentuh dia!" teriakku, tidak lagi peduli pada taktik atau keamanan diri. Aku melangkah keluar dari kegelapan, mataku menyala oleh amarah yang murni.
Hendra berbalik, keterkejutan sesaat melintasi wajah keriputnya sebelum berubah menjadi seringai penuh kemenangan. "Ah, sang pangeran TechGenix datang menyelamatkan asisten kesayangannya. Atau haruskah kusebut... putri dari musuh bebuyutanmu?"
"Lepaskan dia, Hendra. Urusanmu denganku, bukan dengan dia," suaraku rendah dan berbahaya. Aku perlahan mendekat, setiap otot di tubuhku menegang, siap untuk meledak.
"Kau masih saja sombong, Arlan. Persis seperti ayahmu sebelum dia melompat dari gedung itu," Hendra memberi isyarat pada dua pria berbadan besar yang muncul dari balik bayang-bayang di belakangnya. "Habisi dia. Pastikan dia tidak bisa berjalan keluar dari sini."
Tanpa peringatan, salah satu pria itu menerjang. Aku menghindar ke kiri, merasakan embusan angin dari tinjunya yang meleset. Aku bukan petarung profesional, tapi bertahun-tahun latihan muay thai untuk melampiaskan stres terbukti berguna malam ini. Aku menghantamkan siku ke rahangnya, mendengar bunyi berderak yang memuaskan saat pria itu terhuyung.
Namun, pria kedua jauh lebih cepat. Sebuah pukulan mendarat telak di perutku, membuat oksigen seolah terenggut paksa dari paru-paruku. Aku terjatuh berlutut, terbatuk-batuk sementara rasa asin darah mulai terasa di mulutku.
"Arlan!" Maya berteriak di balik lakban, tubuhnya berguncang hebat di kursi.
Aku menatapnya. Di tengah rasa sakit yang menjalar, aku melihat ketakutan yang luar biasa di matanyaβbukan untuk dirinya sendiri, tapi untukku. Dan saat itulah aku menyadarinya. Daftar hitam itu, dendam itu, perusahaan itu... semuanya tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan nyawa wanita yang ada di hadapanku ini.
Aku bangkit dengan susah payah, mengabaikan rasa perih di rusukku. Saat pria besar itu mengayunkan tinju lagi, aku menangkap lengannya, menggunakan momentumnya untuk membantingnya ke tumpukan peti kayu. Suara benturan keras bergema di seluruh gudang.
Hendra mulai panik. Dia melangkah mundur, mendekati Maya dan mengarahkan pisau lipatnya ke leher Maya. "Berhenti di sana, Arlan! Atau aku akan menyayatnya sekarang juga!"
Aku terpaku. Napasku memburu, keringat bercampur darah menetes dari pelipis. "Hendra, jangan..."
"Kau pikir kau sudah menang?" Hendra tertawa histeris, tangannya gemetar. "Aku sudah menghancurkan hidupmu sekali, aku tidak keberatan melakukannya lagi. Kau tahu apa yang paling lucu? Ayah Maya meninggal karena mencoba menyelamatkan dokumen yang bisa membuktikan aku bersalah. Dia mati demi keluargamu, dan kau membalasnya dengan memburu anaknya!"
Pernyataan itu bagaikan petir di siang bolong. Aku menatap Maya, dan di matanya, aku melihat kehancuran yang sama dalamnya dengan apa yang kurasakan. Kebenaran itu lebih menyakitkan daripada pukulan mana pun.
Tepat saat Hendra hendak menekan pisaunya lebih dalam ke kulit leher Maya, sebuah suara sirine polisi terdengar meraung dari kejauhan, semakin lama semakin keras. Cahaya biru dan merah mulai menembus celah-celah dinding gudang.
Hendra teralih sesaat oleh cahaya itu. Itulah celah yang kubutuhkan. Aku menerjang maju dengan seluruh sisa tenagaku, menab**k Hendra hingga kami berdua jatuh berguling di lant** yang kotor. Pisau itu terlempar ke sudut ruangan. Kami bergulat liar, aku menghujani wajahnya dengan pukulan, meluapkan sepuluh tahun penderitaan, kemarahan, dan rasa bersalah yang membusuk di dalam hatiku.
"Tuan Adiguna! Angkat tangan!"
Lampu sorot yang menyilaukan memenuhi ruangan. Beberapa petugas polisi merangsek ma**k dengan senjata tertuju pada kami. Aku melepaskan cengkeramanku pada kerah baju Hendra yang sudah tak berdaya. Napasku tersengal-sengal.
Aku tidak memedulikan polisi yang memborgol Hendra. Aku merangkak menuju Maya, jemariku yang gemetar menarik lakban dari mulutnya dengan perlahan, lalu memutuskan tali yang mengikat tangannya.
Begitu terbebas, Maya tidak langsung lari. Dia menatapku dengan tatapan yang menghancurkan hatiku. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang lebam.
"Arlan..." suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Apa yang dia katakan tadi... apa itu benar? Ayahku bukan pengkhianat?"
Aku ingin merengkuhnya, ingin memohon maaf atas segala prasangka buruk dan rencana jahat yang telah kususun di balik kontrak kerja itu. Namun, sebelum aku sempat mengucapkan sepatah kata pun, seorang petugas polisi mendekat dan menyerahkan sebuah amplop cokelat tua yang terjatuh dari saku jaket Hendra saat kami bergulat tadi.
"Tuan, kami menemukan ini. Sepertinya ini dokumen asli yang hilang sepuluh tahun lalu," ujar petugas itu.
Aku membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat lembaran kertas yang menguning, surat pernyataan yang ditandatangani oleh ayah Maya sebelum kematiannya, lengkap dengan bukti transfer yang menunjukkan bahwa Hendra-lah yang merekayasa semuanya. Namun, di lembar paling belakang, ada sebuah catatan kecil tulisan tangan yang ditujukan untuk ibuku, yang membuat duniaku benar-benar runtuh.
Aku membaca kalimat terakhir di catatan itu, lalu menatap Maya dengan kengerian yang baru. Rahasia yang kusimpan selama ini tentang daftar hitamku ternyata hanyalah puncak dari gunung es yang jauh lebih gelap.
"Maya," bisikku, suaraku tercekat. "Ada sesuatu yang tidak pernah diketahui siapa pun tentang malam kecelakaan itu. Sesuatu yang akan membuatmu membenciku selamanya."
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!