Lampu blitz kamera yang menyilaukan biasanya adalah sesuatu yang aku nikmatiβsimbol kesuksesan, kekuasaan, dan dominasi TechGenix di pasar. Namun malam ini, di bawah sorot lampu kristal ballroom hotel mewah ini, setiap kilatan cahaya terasa seperti tusukan jarum ke mataku. Kerongkonganku terasa kering, meski aku baru saja meneguk segelas air.
Aku menyesuaikan simpul dasiku yang tiba-tiba terasa mencekik. Dari podium, aku bisa melihat ratusan jurnalis menunggu pengumuman besar yang telah aku janjikan. Namun, mataku hanya mencari satu titik di sudut ruangan. Maya. Ia berdiri di sana, di dekat pilar besar, mengenakan gaun hitam sederhana yang membuatnya tampak begitu rapuh sekaligus tangguh. Wajahnya pucat, matanya yang biasa bersinar penuh kecerdasan kini hanya menyisakan kekosongan yang dingin.
Aku telah menghancurkan dunianya. Dan malam ini, aku harus mencoba menyatukan kepingan itu kembali, meski tanganku mungkin akan berdarah karenanya.
"Selamat malam, rekan-rekan media," suaraku bergema melalui pengeras suara, lebih rendah dari biasanya. Aku berdeham, mencoba mengusir getaran emosi yang tak diinginkan. "Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ketidakadilan terjadi. Keluarga Adiguna kehilangan segalanya karena pengkhianatan yang sistematis. Selama sepuluh tahun itu pula, saya hidup dengan satu tujuan: membalas dendam."
Gumam riuh rendah mulai terdengar di penjuru ruangan. Aku melihat Maya sedikit menegakkan punggungnya. Jemarinya mencengkeram tas kecilnya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Saya memiliki daftar hitam," lanjutku, membiarkan pengakuan itu menggantung di udara. "Dan di urutan pertama adalah Bapak Pradana. Selama ini, saya percaya dialah arsitek di balik kebangkrutan ayah saya. Namun, saya salah."
Aku memberi isyarat pada asisten di samping panggung. Sebuah layar raksasa di belakangku menyala, menampilkan dokumen-dokumen yang telah aku kumpulkan dengan susah payah selama beberapa minggu terakhirβhasil audit forensik, testimoni rahasia, dan rekaman percakapan yang selama ini terkubur.
"Bukti-bukti baru menunjukkan bahwa Bapak Pradana justru adalah orang yang mencoba menghentikan penyelewengan dana tersebut. Dia dijebak oleh pihak ketiga yang sebenarnya ingin menghancurkan Adiguna dan Pradana sekaligus. Malam ini, saya, Arlan Adiguna, secara resmi menyatakan bahwa almarhum Bapak Pradana bersih dari segala tuduhan. Dia adalah pria terhormat, dan saya telah melakukan kesalahan besar dengan mencemarkan namanya."
Suasana ballroom pecah. Pertanyaan-pertanyaan dilontarkan bagai peluru, namun aku tidak memedulikannya. Mataku terkunci pada Maya. Aku melihat air mata jatuh di pipinya, namun tak ada senyum di sana. Ia justru berbalik dan melangkah cepat keluar dari ruangan.
"C**up untuk malam ini. Det**l lengkap akan dikirimkan melalui siaran pers," ucapku singkat sebelum bergegas turun dari podium, mengabaikan teriakan para wartawan.
Aku mengejarnya hingga ke lorong sepi menuju area parkir VIP. Langkah kakinya yang cepat bergema di atas lant** marmer.
"Maya! Tunggu!" teriakku.
Ia berhenti, namun tidak langsung berbalik. Bahunya naik turun seiring dengan napasnya yang memburu. Saat ia akhirnya berputar menghadapku, hatiku mencelos. Matanya merah, bukan hanya karena air mata, tapi karena kemarahan yang membara.
"Kau sudah melakukannya," ucapnya lirih, suaranya bergetar. "Kau membersihkan namanya di depan semua orang. Puas, Arlan?"
Aku melangkah mendekat, mencoba meraih tangannya, namun ia langsung mundur selangkah seolah sentuhanku adalah racun. "Maya, aku sungguh-sungguh meminta maaf. Aku tahu kata-kata tidak akan c**up untuk menebus semua ancaman dan rasa takut yang kubuat padamu selama ini."
"Ancamannya nyata, Arlan," potong Maya tajam. "Kau mengancam akan menghancurkan apa yang tersisa dari martabat ayahku. Kau menjadikanku asistenmu hanya untuk menyiksaku perlahan, untuk melihat putri 'musuhmu' berlutut di bawah kakimu. Dan sekarang, setelah kau tahu kau salah, kau berharap aku akan tersenyum dan berterima kasih padamu?"
"Tidak, bukan itu maksudku," aku membela diri, merasakan kepedihan yang asing di dadaku. "Aku melakukan ini karena aku tidak bisa hidup dengan kenyataan bahwa aku telah menyakiti orang yang..." Aku menggantung kalimat itu. *Orang yang kucint**.* Kata itu terasa terlalu berat untuk diucapkan sekarang.
Maya tertawa pahit, sebuah suara yang mencekat hatiku. "Orang yang apa? Orang yang kau jadikan pion dalam permainan balas dendammu? Kau memberikan kompensasi publik, Arlan. Itu bagus untuk citra TechGenix. Tapi bagaimana dengan semua malam saat aku tidak bisa tidur karena takut kau akan memecatku atau menuntut keluargaku? Bagaimana dengan daftar hitam itu?"
"Daftar itu sudah kuhancurkan, Maya. Tidak ada lagi dendam," aku meyakinkannya, suaraku kini hampir memohon.
Maya menatapku lama, mencari kejujuran di mataku. Untuk sesaat, aku melihat keraguan di wajahnya, sebuah celah kecil yang mungkin bisa kuma**ki. Namun kemudian, ia menggeleng pelan.
"Kau menghancurkan berkasnya, tapi kau belum menghancurkan pria dingin yang menulis daftar itu," bisiknya. "Aku melihat sisi lain darimu, Arlan. Sisi yang rapuh, yang kikirima bisa kucint**. Tapi setiap kali aku mulai percaya, kau mengingatkanku bahwa kau adalah predator. Bagaimana aku bisa tahu kalau pengakuan publik ini bukan sekadar strategi pemasaran untuk membersihkan nama TechGenix juga?"
"Maya, demi Tuhan, ini bukan soal bisnis!"
"Bagiku, segalanya tentangmu selalu soal bisnis atau balas dendam," Maya menyeka air matanya dengan kasar. "Terima kasih telah membersihkan nama ayahku. Itu utang yang memang harus kau bayar. Tapi untuk kita... kurasa kontrak kita benar-benar sudah selesai."
Ia berbalik dan berjalan pergi. Aku berdiri mematung, dikelilingi oleh kemewahan hotel yang tiba-tiba terasa seperti penjara yang sangat dingin. Aku telah memenangkan kembali nama baik keluargaku, aku telah memenangkan kebenaran, tapi aku sadar aku sedang kehilangan satu-satunya hal yang membuat semua kesuksesan ini berarti.
Saat aku hendak mengejarnya lagi, ponsel di saku jasku bergetar hebat. Sebuah pesan singkat ma**k dari nomor yang tidak kukenal, mengirimkan sebuah gambar yang membuat darahku membeku.
Itu adalah foto Maya dari kejauhan, yang diambil beberapa detik lalu di parkiran, dengan sebuah titik laser merah tepat di punggungnya.
*Pembersihan nama itu punya harga, Arlan. Kau pikir musuh ayahmu akan diam saja saat kau membuka borok mereka?*
Langkahku terhenti. Jantungku berpacu g***. Musuh yang sebenarnya baru saja menampakkan diri, dan Maya tetap menjadi targetnyaβbukan karena dendamku, tapi karena kebenaran yang baru saja kubongkar.
Lanjutkan Membaca Bab 21 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!