Udara malam di balkon apartemen Arlan terasa lebih dingin dari biasanya, namun entah mengapa, sesak yang selama ini menghimpit dadaku perlahan mulai menguap. Di depanku, berdiri sosok pria yang selama berbulan-bulan ini menjadi pusat gravitasi sekaligus badai dalam hidupku. Arlan Adiguna tidak lagi mengenakan setelan jas tiga lapisnya yang kaku. Ia hanya memakai kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku, kancing teratasnya terbuka, menampilkan gurat kelelahan yang nyata di wajah tampannya.
Di atas meja kaca di antara kami, tergeletak map berwarna cokelat tua. Isinya bukan lagi laporan keuangan atau draf ekspansi TechGenix, melainkan surat kontrak kerja asisten pribadiku—dokumen yang dulu kunilai sebagai tiket menuju masa depan, namun ternyata hanyalah rant** yang mengikatku pada rencana balas dendamnya.
"Aku sudah meminta tim legal untuk membatalkan seluruh klausul penalti," suara Arlan memecah keheningan. Suaranya rendah, serak, tanpa nada otoriter yang biasanya membuatku gemetar. "Kamu bebas, Maya. Tidak ada lagi utang budi, tidak ada lagi ancaman hukum jika kamu memilih untuk pergi."
Aku menatap dokumen itu, lalu beralih pada jemariku yang saling bertautan di pangkuan. "Kebebasan bukan hal yang aku cari saat aku memutuskan untuk tetap tinggal malam itu, Arlan."
Arlan menghela napas panjang, bersandar pada pagar balkon. Matanya menatap lampu-lampu kota Jakarta yang berpendar seperti butiran berlian yang berserakan di atas kain beludru hitam. "Lalu apa? Setelah semua yang kamu temukan di b**nkas itu? Setelah kamu tahu bahwa aku mendekatimu hanya untuk menghancurkan apa yang tersisa dari nama ayahmu?"
Aku bangkit dari kursi, melangkah mendekatinya hingga aku bisa mencium aroma kayu cendana dan sisa kopi yang melekat pada tubuhnya. Ada dorongan kuat untuk menyentuh lengannya, untuk meyakinkannya bahwa aku melihat lebih dari sekadar dendam di matanya.
"Aku ingin kejujuran," ucapku tegas, meski suaraku sedikit bergetar. "Aku lelah menjadi pion dalam papan catur yang tidak pernah aku minta untuk mainkan. Jika kita ingin melangkah lebih jauh, kontrak ini harus mati. Hubungan asisten dan bos ini harus berakhir."
Arlan menoleh, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara keraguan, keinginan, dan ketakutan yang mendalam. "Kamu ingin kita menjadi... setara?"
"Ya. Tanpa rahasia. Tanpa daftar hitam yang disembunyikan di balik b**nkas kode ganda," aku menantang tatapannya. "Aku ingin tahu segalanya tentang ayahku dari sudut pandangmu, dan aku ingin kamu mendengarkan ceritaku tentangnya. Kita tidak bisa membangun apa pun di atas puing-puing kebohongan."
Arlan terdiam c**up lama. Angin malam memainkan helai rambutnya yang sedikit berantakan. Perlahan, ia meraih dokumen di atas meja, lalu dengan gerakan perlahan namun pasti, ia merobek kertas-kertas itu menjadi dua, lalu empat, hingga menjadi serpihan kecil yang tak lagi bermakna.
"Aku tidak pernah belajar bagaimana caranya mempercayai orang lain, Maya," akunya, suaranya nyaris berbisik. "Sepuluh tahun terakhir, hidupku hanya tentang angka, algoritma, dan cara untuk membalas rasa sakit yang dirasakan ibuku saat perusahaan ayahku bangkrut. Bagiku, orang hanyalah variabel."
Ia melangkah maju, memperpendek jarak di antara kami hingga aku bisa merasakan kehangatan dari tubuhnya. Tangannya yang besar dan hangat ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh pipiku. Ibu jarinya mengusap kulitku dengan sangat lembut, seolah-olah aku adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja.
"Tapi saat melihatmu menangis di depan b**nkas itu, variabel itu tidak lagi ma**k akal," lanjutnya, matanya mengunci mataku. "Aku benci kenyataan bahwa aku menyakitimu. Aku benci fakta bahwa namamu mulai lebih penting daripada daftar itu."
Jantungku berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dada. Aku bisa merasakan kejujuran yang mentah dalam kata-katanya. Ini bukan Arlan sang CEO jenius; ini adalah Arlan, seorang pria yang terluka dan baru saja meruntuhkan benteng pertahanannya.
"Kalau begitu, mari kita mulai dari awal," bisikku. Aku memberanikan diri meletakkan tanganku di atas tangannya yang masih berada di pipiku. "Bukan sebagai Arlan Adiguna dan asistennya. Tapi hanya Arlan dan Maya."
Arlan menundukkan kepalanya, menyatukan kening kami. Napasnya terasa hangat di wajahku. "Tanpa kontrak?"
"Tanpa kontrak. Hanya komitmen untuk mencari kebenaran, seberapa pun menyakitkannya itu nanti."
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat senyum tipis yang tulus di sudut bibirnya—bukan seringai penuh kemenangan yang biasa ia tunjukkan di ruang rapat. Ia menarikku ke dalam pelukannya, sebuah dekapan yang erat dan protektif, seolah-olah ia sedang memegang satu-satunya hal yang berharga di dunia ini. Di dalam pelukannya, aku merasa aman, namun di balik rasa aman itu, ada kecemasan yang masih mengint**.
Kami telah sepakat untuk jujur, namun aku tahu di dalam laci meja kerjanya yang terkunci, masih ada satu berkas yang belum sempat kubaca secara utuh. Berkas yang mungkin mengandung bukti final apakah ayahku benar-benar pengkhianat atau hanya kambing hitam.
Saat aku memejamkan mata dan menikmati detak jantung Arlan yang berirama sama dengan detak jantungku, sebuah getaran dari ponsel Arlan di atas meja memecah suasana. Sebuah notifikasi muncul di layar yang menyala terang di kegelapan malam.
Aku sempat melirik layar itu sebelum Arlan menjauh. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal yang singkat namun sanggup membuat darahku membeku: *“Arlan, jangan terlalu dekat dengan gadis itu. Dia membawa rahasia ayahnya yang bahkan tidak kamu ketahui. Periksa kembali folder 'Project Phoenix'.”*
Arlan meraih ponselnya, raut wajahnya seketika berubah menjadi kaku dan dingin kembali. Kehangatan yang baru saja tercipta seakan menguap dalam hitungan detik, meninggalkan kami dalam kecanggungan yang lebih tajam dari sebelumnya.
"Ada apa?" tanyaku, meski aku sudah merasa tahu bahwa ketenangan ini hanyalah ilusi singkat sebelum badai yang lebih besar datang menerjang.
Arlan tidak menjawab. Ia hanya menatapku dengan pandangan yang sulit dibaca—pandangan yang penuh keraguan, seolah-olah ia baru saja melihat musuh di dalam diri orang yang baru saja ia peluk.
"Aku harus pergi sebentar, Maya," ucapnya dingin, lalu berbalik meninggalkanku di balkon tanpa penjelasan lebih lanjut.
Aku berdiri mematung, menatap serpihan kontrak yang berserakan di lant**. Kami baru saja berjanji untuk tidak ada rahasia, namun bayang-bayang masa lalu ternyata memiliki cara tersendiri untuk memastikan bahwa luka lama tidak akan pernah benar-benar mengering. Dan kali ini, aku takut rahasia itu bukan lagi milik Arlan, melainkan sesuatu yang terkubur jauh di dalam sejarah keluargaku sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 22 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!