Luka di Balik Kontrak: Daftar Hitam Sang CEO

Bab 3: Bab 3 - Membersihkan ruang kerja pribadi Arlan saat Arl...

Pengaturan Membaca

Aroma kopi arabika yang kuat dan wangi pembersih kayu m***ni masih tertinggal di udara, beradu dengan hawa dingin yang dipancarkan oleh pendingin ruangan sentral di lant** paling atas gedung TechGenix. Aku menghela napas panjang, membiarkan dadaku naik-turun dalam ritme yang tidak teratur. Ini adalah hari kesepuluhku bekerja sebagai asisten pribadi Arlan Adiguna, dan untuk pertama kalinya, sang CEO 'Gunung Es' itu memberiku akses penuh untuk merapikan ruang kerja pribadinya tanpa pengawasan.

Arlan sedang berada di ruang rapat utama, menghadapi dewan komisaris yang kabarnya sedang menekan target pertumbuhan kuartal depan. Aku tahu ini adalah kesempatan emas untuk membuktikan bahwa ketelitian yang aku banggakan di resume bukan sekadar bualan.

Aku mulai dengan menyusun dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja kaca besarnya. Ujung jemariku gemetar pelan saat menyentuh pulpen montblanc miliknya yang berat. Semuanya harus simetris. Sudut map harus sejajar dengan tepi meja, dan layar monitor harus bebas dari satu butir debu pun. Arlan tidak mentoleransi kekacauan, sekecil apa pun itu.

"Det**l adalah pembeda antara pemenang dan pecundang," bisikku menirukan suara baritonnya yang tajam. Aku tersenyum tipis, membayangkan wajah datarnya yang jarang sekali menunjukkan emosi.

Setelah meja bersih, perhatianku beralih pada rak buku di belakang kursinya. Ada sebuah kompartemen kecil di bawah rak ensiklopedia ekonomi yang tampak sedikit tidak presisiβ€”sebuah dosa besar bagi seorang perfeksionis seperti Arlan. Rasa ingin tahuku terusik. Apakah ini hasil kerja kontraktor yang ceroboh, atau Arlan memang sengaja membiarkannya?

Saat aku mencoba merapatkan panel kayu itu, jemariku justru menekan sebuah tuas kecil yang tersembunyi. *Klik.*

Panel itu bergeser, mengungkap sebuah b**nkas kecil dengan sistem pemindai sidik jari dan kode angka. Namun, yang membuat jantungku mencelos bukanlah b**nkasnya, melainkan sebuah map kulit berwarna hitam legam yang terselip di celah sempit di samping b**nkas itu. Seolah-olah map itu baru saja dikeluarkan dan belum sempat dikembalikan ke tempat persembunyiannya yang paling aman.

Di sampulnya, tertulis dengan huruf emas yang mulai memudar: **PROYEK PHOENIX.**

Napas tertahan di kerongkonganku. "Phoenix..." gumamku lirih. Nama itu terdengar seperti sebuah kebangkitan, namun aura yang terpancar dari map ini terasa begitu menyesakkan.

Logika di kepalaku berteriak agar aku berhenti. *Ini bukan tugasmu, Maya. Letakkan kembali. Keluar dari sini.* Namun, tanganku seolah memiliki kehendaknya sendiri. Aku menarik map itu. Dinginnya kulit map itu merambat ke telapak tanganku, mengirimkan sensasi ganjil yang membuat bulu kudukku berdiri.

Aku membukanya dengan gerakan perlahan, seolah takut suara gesekan kertas akan memicu alarm di seluruh gedung.

Halaman pertama berisi profil perusahaan lama bernama 'Adiguna Nusantara'. Foto-foto hitam putih bangunan pabrik yang terbakar, potongan berita koran sepuluh tahun lalu tentang kebangkrutan masal, dan foto seorang pria paruh baya yang memiliki kemiripan struktur wajah dengan Arlan, namun dengan sorot mata yang lebih hangat. Itu pasti ayahnya.

Aku membalik halaman berikutnya. Di sana, tertempel sebuah daftar. Tidak, ini bukan sekadar daftar. Ini adalah sebuah hierarki penghancuran.

Ada sepuluh nama di sana. Di samping setiap nama, terdapat catatan kaki yang ditulis dengan tinta merahβ€”det**l mengenai kelemahan mereka, aset yang mereka miliki, dan cara paling efektif untuk meruntuhkan reputasi mereka. Beberapa nama sudah dicoret dengan garis hitam tebal, menandakan bahwa mereka telah 'diselesaikan'.

Jantungku berdegup kencang, menghantam rongga dada seperti genderang perang. Aku terus membaca hingga mataku terpaku pada nama di urutan pertama. Nama yang paling dilingkari dengan tinta merah yang sangat pekat, seolah sang penulis menekan pulpennya dengan dendam yang meluap-luap.

*Hadi Pradana.*

Duniaku serasa berhenti berputar. Oksigen di ruangan itu mendadak hilang. Aku mengerjap berkali-kali, berharap penglihatanku salah, berharap itu hanya nama orang lain yang kebetulan sama. Namun, di bawah nama itu, tertempel sebuah foto kecil. Itu adalah foto ayahku. Foto yang sama dengan yang tersimpan di dalam liontin kalung yang selalu kupakai.

Di bawah foto ayah, terdapat catatan singkat dengan tulisan tangan Arlan yang tajam dan miring: *Target Utama. Pengkhianat yang membuka pintu kehancuran. Jangan sisakan apa pun, terma**k kehormatannya.*

"Ayah..." Suaraku pecah, nyaris tak terdengar.

Lututku lemas. Aku terpaksa berpegangan pada pinggiran meja agar tidak jatuh terjerembap. Ayahku, pria yang kukenal sebagai sosok paling jujur dan penuh kasih, pria yang meninggal dalam depresi setelah dituduh melakukan penggelapan dana yang tidak pernah ia jelaskan padaku, kini berada di daftar hitam pria yang mulai aku kagumi.

Arlan tidak hanya bekerja denganku. Dia sedang memburuku. Dia sedang mencari sisa-sisa dari hidup ayahku untuk dihancurkan berkeping-keping.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan berirama terdengar dari lorong luar. Suara sepatu pantofel yang menghantam lant** marmer itu begitu khas. Itu Arlan. Dia sudah kembali dari rapat, lebih cepat dari jadwal seharusnya.

*Gub**k!*

Karena panik, tanganku menyenggol gelas kristal di atas meja hingga jatuh ke atas karpet tebal. Gelas itu tidak pecah, tapi airnya tumpah membasahi sudut map Proyek Phoenix.

Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu kayu jati yang tertutup. Aku bisa mendengar suara gagang pintu yang mulai diputar. Dengan gerakan secepat kilat, aku menyelipkan map itu kembali ke celah rahasia dan mendorong panel kayunya hingga menutup, meskipun tidak sempurna.

Pintu terbuka. Arlan berdiri di sana, sosoknya yang jangkung membayangi cahaya dari luar. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Tatapan matanya yang tajam langsung tertuju padaku, lalu turun ke arah tanganku yang masih gemetar di atas meja.

"Maya?" suaranya rendah, penuh selidik. "Kenapa wajahmu pucat sekali?"

Aku berusaha mengatur napas, menyembunyikan tangan di balik punggung, sementara di dalam kepalaku, nama ayahku terus berteriak minta tolong. Aku berdiri di hadapan pria yang mungkin menjadi alasan kehancuran terakhir keluargaku, dan aku harus tersenyum seolah-olah duniaku tidak baru saja runtuh.

Arlan melangkah mendekat, matanya menyipit saat menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada posisi rak bukunya. "Apa yang baru saja kamu lakukan pada rak itu?"

Aku membeku. Rahasia itu hanya berjarak beberapa inci dari jemarinya yang panjang, dan aku baru saja menyadari bahwa satu sudut foto ayahku terjepit di celah panel yang tidak tertutup rapat. Jika dia melihatnya, penyamaranku sebagai asisten yang polos akan berakhir detik ini juga.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca