Lampu neon di langit-langit apartemen studio Maya berkedip sekali sebelum akhirnya menyala stabil, menerangi tumpukan berkas yang berserakan di atas meja makan kecilnya. Maya duduk mematung, jemarinya yang dingin meremat pinggiran meja kayu yang sudah mulai mengelupas. Di kepalanya, bayangan kertas kusam dari b**nkas Arlan Adiguna terus berputar seperti kaset rusak.
*B**masta Pradana. Target Utama.*
Dua kata itu terasa seperti vonis mati. Maya memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memanggil kembali memori tentang ayahnya. Ia ingat aroma tembakau tipis dan parfum kayu cendana yang selalu menempel pada kemeja kerja ayahnya. Ia ingat tawa renyah pria itu saat mereka bermain catur di teras rumah lama mereka. Ayahnya adalah sosok pahlawan yang mengajarkannya bahwa integritas adalah mata uang paling berharga dalam hidup.
"Ayah tidak mungkin melakukannya," bisik Maya pada kesunyian ruangan. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.
Namun, Arlan Adiguna bukan orang bodoh. Pria itu adalah predator di dunia bisnis yang bergerak berdasarkan data dan fakta. Jika Arlan menempatkan nama ayahnya di urutan pertama dalam daftar balas dendamnya, pasti ada sesuatu yang sangat konkret di balik itu.
Dengan napas yang masih memburu, Maya berdiri dan melangkah menuju lemari pakaian di sudut ruangan. Ia berlutut, menggeser beberapa tumpukan baju, hingga tangannya menyentuh sebuah kotak plastik transparan yang sudah lama tidak ia buka. Kotak itu berisi sisa-sisa peninggalan ayahnyaβbeberapa buku catatan lama, sebuah jam tangan yang sudah mati, dan map kulit berwarna cokelat tua.
Maya menarik map itu keluar. Debu tipis terbang ke udara, membuatnya terbatuk kecil. Dengan tangan gemetar, ia mulai membolak-balik isinya. Sebagian besar adalah laporan keuangan lama dari perusahaan konsultan kecil milik ayahnya yang bangkrut sepuluh tahun lalu, tepat saat krisis besar melanda industri teknologi dan menyeret nama keluarga Adiguna ke dasar jurang.
Matanya menyisir baris demi baris angka. Ia mencari kaitan, sebuah benang merah yang mungkin luput dari perhatiannya selama ini.
"Apa yang kau sembunyikan, Yah?" gumamnya saat menemukan selembar surat perjanjian kerja sama yang sudah menguning.
Di sana, tertera nama *Adiguna Group*. Ayahnya ternyata pernah menjadi konsultan audit internal untuk perusahaan ayah Arlan tepat setahun sebelum kebangkrutan tragis itu terjadi. Maya menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih kencang saat melihat paraf ayahnya di bawah sebuah memo yang menyetujui pengalihan dana ke sebuah akun lepas pant** yang namanya tidak asing: *Blackwood Holdings*.
Tiba-tiba, ponselnya di atas meja bergetar hebat, mengejutkan Maya hingga map di tangannya hampir terjatuh. Ia melirik layar. Nama 'Arlan Adiguna' berkedip di sana.
Maya ragu sejenak sebelum menggeser ikon hijau. "Halo, Pak?"
"Kau belum tidur, Maya?" Suara bariton Arlan terdengar sangat dekat di telinganya, dingin namun memiliki getaran yang membuat bulu kuduk Maya meremang.
"Belum, Pak. Ada pekerjaan tambahan?" Maya mencoba menormalkan suaranya, meski ia yakin Arlan bisa mendengar gemuruh di dadanya.
"Besok jam tujuh pagi. Pakai pakaian yang formal dan nyaman. Kita akan pergi ke luar kota, meninjau salah satu aset yang akan segera kita likuidasi," kata Arlan tanpa basa-basi. "Dan jangan lupa bawa berkas riset tentang vendor-vendor lama yang aku minta sore tadi."
"Baik, Pak. Saya akan menyiapkannya."
"Maya," Arlan menjeda kalimatnya. Suaranya merendah, terdengar lebih intim namun sekaligus mengancam. "Kau terdengar lelah. Jangan terlalu banyak berpikir. Beberapa rahasia memang lebih baik tetap terkunci, demi ketenangan pikiranmu sendiri."
Sambungan terputus. Maya menatap layar ponselnya yang kini gelap dengan pandangan ngeri. *Apakah Arlan tahu? Apakah dia tahu aku sudah membuka b**nkas itu?*
Ketakutan itu kini bercampur dengan keraguan yang mulai menggerogoti jiwanya. Ia kembali menatap memo yang ditandatangani ayahnya. Jika benar ayahnya terlibat dalam penggelapan dana yang menghancurkan keluarga Adiguna, maka dedikasi yang selama ini ia miliki untuk membersihkan nama ayahnya adalah sebuah kesia-siaan yang memuakkan.
Maya kembali membongkar tumpukan kertas di dalam map cokelat itu. Ia butuh lebih dari sekadar memo. Ia butuh bukti bahwa ayahnya dijebak. Namun, semakin dalam ia mencari, semakin banyak ia menemukan transaksi-transaksi mencurigakan yang mengalir melalui tangan ayahnya.
Tiba-tiba, jari Maya menyentuh selembar foto kecil yang terselip di kantong rahasia map tersebut. Itu adalah foto ayahnya yang sedang berjabat tangan dengan seorang pria paruh baya yang wajahnya sangat mirip dengan Arlanβayah Arlan, sang pendiri TechGenix yang dikabarkan mengakhiri hidupnya setelah kebangkrutan itu.
Di balik foto itu, ada tulisan tangan ayahnya yang rapi: *"Maafkan aku, Aris. Aku terpaksa melakukan ini demi melindungi putriku. Beban ini akan kubawa sampai mati."*
Napas Maya tersengal. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, membasahi permukaan foto yang sudah buram itu. Kalimat itu bukan kalimat orang yang tidak bersalah. Itu adalah pengakuan.
Dunia Maya serasa runtuh. Ayahnya, pria yang selalu memeluknya setiap kali ia menangis karena nilai ujian yang buruk, ternyata adalah sosok yang menghancurkan hidup keluarga Arlan. Dan sekarang, ia bekerja untuk pria yang bersumpah akan menghancurkan siapapun yang terkait dengan nama B**masta Pradana.
Maya meremas foto itu di dadanya, terisak pelan di tengah kesunyian malam. Ia terjepit di antara cinta pada sosok ayah yang kini ia ragukan, dan ketertarikan aneh yang mulai ia rasakan pada pria yang ingin membalaskan dendam padanya.
Besok, ia harus duduk satu mobil dengan Arlan selama berjam-jam. Ia harus menatap mata pria yang ayahnya khianati, sambil membawa rahasia bahwa ia adalah putri dari musuh besarnya.
Tiba-tiba, sebuah pikiran mengerikan melintas di benaknya. Jika Arlan tahu siapa dia sebenarnya, apakah perjalanan besok pagi benar-benar untuk meninjau aset, ataukah itu adalah awal dari eksekusi yang sudah Arlan siapkan untuk nama terakhir di daftar hitamnya?
Maya mematikan lampu apartemennya, namun matanya tetap terbuka lebar dalam kegelapan, menatap langit-langit seolah mencari jawaban yang tak akan pernah turun dari sana. Ia tahu satu hal pasti: perjalanan besok tidak akan pernah sama lagi. Dan ia tidak tahu apakah ia akan kembali ke apartemen ini dengan nama baik ayahnya, atau justru dengan kenyataan yang lebih mematikan dari sekadar kebangkrutan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!