Lampu-lampu kota Jakarta dari balik jendela kaca lant** empat puluh lima kantor TechGenix tampak seperti butiran berlian yang tumpah di atas beludru hitam. Namun, bagi Arlan, pemandangan itu tidak lebih dari sekadar pengingat betapa tingginya ia telah memanjat, dan betapa jauhnya ia bisa jatuh jika ia melakukan satu kesalahan saja.
Ia memutar kursi kerjanya, matanya tertuju pada pintu kaca buram yang menghubungkan ruangannya dengan area asisten pribadi. Di sana, bayangan Maya masih terlihat. Gadis itu belum pulang, padahal jarum jam sudah melewati angka sembilan.
Arlan menyesap espresso dinginnya yang sudah sepahit suasana hatinya. Maya Pradana. Nama itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ada sesuatu yang mengganggu dari cara gadis itu bekerjaβketelitiannya yang nyaris tidak manusiawi, caranya mengantisipasi kebutuhan Arlan sebelum ia mengucapkannya, dan yang paling mengusik: binar kejujuran di matanya yang seolah menantang daftar hitam di b**nkas Arlan.
"Ma**k, Maya," ucap Arlan melalui interkom, suaranya rendah dan serak.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Maya melangkah ma**k dengan setumpuk map di pelukannya. Wajahnya tampak lelah, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, namun ia tetap berdiri tegak. Rambutnya yang biasanya terikat rapi kini sedikit berantakan, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang oval.
Arlan merasakan denyut aneh di dadanya. *Berhenti menatapnya seperti itu,* perintahnya pada diri sendiri. *Dia adalah putri dari pria yang menghancurkan keluargamu.*
"Ada yang bisa saya bantu, Pak Arlan? Saya baru saja menyelesaikan laporan audit internal untuk kuartal ini," suara Maya lembut namun mantap.
Arlan meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang tajam. Ia mengambil sebuah amplop cokelat tebal dari laci mejanyaβberkas yang sebenarnya tidak seharusnya ia tunjukkan kepada siapa pun dalam tahap ini.
"Duduk," perintah Arlan.
Maya menurut, duduk di kursi di hadapan meja m***ni besar itu. Arlan sengaja mencondongkan tubuh, mema**ki ruang personal Maya hingga ia bisa mencium aroma samar vanila dan kertas dari tubuh gadis itu.
"Aku punya tugas khusus untukmu. Ini bersifat rahasia tingkat tinggi. Jika satu kata saja dari berkas ini bocor ke luar, bukan hanya kariermu yang berakhir, tapi aku akan memastikan kau tidak akan pernah menemukan pekerjaan di negara ini lagi," ancam Arlan dengan nada dingin yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi lawan bisnisnya.
Maya tidak berkedip. Ia menelan ludah, jakunnya bergerak halus, namun tatapannya tetap terkunci pada mata Arlan. "Saya mengerti privasi dan konsekuensinya, Pak."
Arlan menyodorkan berkas itu. "Ini rencana akuisisi PT Tirta Kencana. Aku ingin kau melakukan *due diligence* pribadi. Jangan gunakan tim riset biasa. Aku ingin kau menggali setiap sen yang ma**k dan keluar dari perusahaan itu dalam lima tahun terakhir. Cari tahu siapa pemilik sebenarnya di balik perusahaan cangkang yang menyokong mereka."
Maya menerima berkas itu, jemarinya sempat bersentuhan dengan tangan Arlan. Arlan merasakan sengatan listrik yang membuatnya ingin menarik tangan, namun ia memaksakan diri untuk tetap tenang. Ia memperhatikan bagaimana jemari Maya yang lentur memegang map tersebut dengan erat, seolah menyadari beban yang ada di dalamnya.
PT Tirta Kencana adalah salah satu perusahaan yang ada di dalam "daftar hitam" Arlan. Perusahaan itu adalah jaring laba-laba yang pernah digunakan oleh ayah Maya dan rekan-rekannya untuk mengalirkan dana ilegal dari perusahaan keluarga Arlan sepuluh tahun lalu. Ini bukan sekadar akuisisi; ini adalah langkah pertama untuk menarik tali jerat di leher mereka yang masih hidup.
"Kenapa saya, Pak?" tanya Maya tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat Arlan tertegun sejenak. "Tim analis Anda jauh lebih berpengalaman untuk hal sensitif seperti ini."
Arlan menyandarkan punggungnya, menyipitkan mata. "Karena kau teliti. Dan karena kau belum punya 'kaki' di industri ini. Kau tidak punya kepentingan untuk memihak siapa pun kecuali aku." *Dan karena aku ingin melihat apakah kau akan mengkhianatiku seperti ayahmu,* tambah Arlan dalam hati.
Maya membuka halaman pertama berkas itu. Saat matanya menyisir barisan angka dan nama-nama dewan komisaris, Arlan melihat perubahan ekspresi yang sangat cepat di wajah Mayaβsekejap keterkejutan yang segera disembunyikan di balik topeng profesionalisme. Apakah dia mengenali nama-nama itu? Apakah dia tahu apa yang sedang ia hadapi?
"Saya akan mengerjakannya malam ini juga," ujar Maya, suaranya sedikit bergetar, meski ia berusaha menutupinya dengan nada tegas.
"Jangan dibawa pulang. Kerjakan di sini. Di ruangan ini, di hadapanku," kata Arlan dingin. Ia ingin mengawasi setiap gerak-gerik Maya. Ia ingin melihat bagaimana nurani gadis itu bertarung dengan kesetiaan pada keluarganya.
Maya mengangguk, lalu mulai membuka laptopnya di ujung meja panjang Arlan. Keheningan segera menyelimuti ruangan itu, hanya menyisakan suara ketikan keyboard yang ritmis dan detak jam dinding yang berat.
Arlan berpura-pura kembali ke dokumennya sendiri, namun fokusnya terpecah. Sesekali, ia mencuri pandang ke arah Maya. Gadis itu tampak begitu serius, keningnya berkerut saat ia menemukan sesuatu di layar. Sinar lampu meja menonjolkan lekuk rahangnya dan lehernya yang jenjang. Ada keinginan impulsif dalam diri Arlan untuk berjalan ke sana, menyentuh pundaknya, dan bertanya apa yang ia pikirkan.
Arlan segera menepis pikiran itu dengan rasa benci yang meluap. *Ingat tujuannya, Arlan. Dia adalah bidak. Jangan biarkan wajah cantiknya mengalihkanmu dari sepuluh tahun penderitaan ibu dan adikmu.*
Tiba-tiba, Maya berhenti mengetik. Ia menarik napas panjang, bahunya merosot sedikit. Ia menatap layar laptopnya dengan pandangan kosong, tangannya gemetar di atas *trackpad*.
"Ada masalah?" tanya Arlan, suaranya membelah kesunyian seperti pisau.
Maya menoleh, dan untuk pertama kalinya, Arlan melihat ketakutan yang nyata di mata itu. Bukan ketakutan karena ancaman Arlan, melainkan ketakutan seseorang yang baru saja melihat hantu dari masa lalu.
"Pak Arlan..." Maya menggantung kalimatnya. Ia tampak ragu, bibirnya bergetar. "Data transaksi di tahun kesembilan... ada nama yang terus muncul sebagai konsultan bayangan. Apakah Anda sudah tahu siapa dia?"
Arlan bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mengitari meja hingga ia berdiri tepat di belakang Maya. Ia membungkuk, menatap layar laptop yang menampilkan sebuah nama yang sangat ia kenal. Nama yang berada di urutan teratas daftar hitamnya.
*Pradana Wijaya.*
Arlan bisa merasakan kehangatan tubuh Maya, namun hatinya sedingin es. "Tentu saja aku tahu," bisik Arlan tepat di telinga Maya, membuat gadis itu bergidik. "Dia adalah alasan mengapa perusahaan ini harus hancur, Maya. Apakah kau punya keberatan untuk melanjutkan?"
Maya membeku. Arlan bisa merasakan detak jantung gadis itu yang berpacu liar dari gerak pundaknya. Di saat itu, Arlan menyadari bahwa permainan kucing dan tikus ini baru saja dimulai, dan ia tidak yakin siapa yang sebenarnya akan terjebak dalam lubang yang ia gali sendiri.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!