Jari-jariku gemetar saat merapikan ujung blazer berwarna krem yang kukenakan. Di cermin toilet kantor yang meng***t, aku melihat seorang wanita muda yang tampak profesional, namun di balik tatapan mata itu, ada badai yang sedang berkecamuk. Baru dua jam yang lalu aku melihat nama Ayah di urutan teratas daftar hitam di b**nkas Arlan. Sekarang, aku harus duduk di samping pria itu, berpura-pura seolah dunia baik-baik saja.
"Maya, mobil sudah siap."
Suara bariton Arlan terdengar dari balik pintu ruangannya. Aku menarik napas dalam-dalam, memaksa paru-paruku terisi oksigen yang terasa tipis. "Segera ke sana, Pak," jawabku selembut mungkin, menelan pahit yang mengganjal di tenggorokan.
Kami berjalan melewati lobi TechGenix yang megah. Arlan berjalan dengan langkah panjang dan berwibawa, punggungnya tegak, seolah beban masa lalu yang ia simpan tidak memberatinya sedikit pun. Aku mengekor di belakangnya, mengamati helai rambut hitamnya yang tertata rapi. Bagaimana mungkin pria yang terlihat begitu sempurna ini memiliki rencana sedingin es untuk menghancurkan orang-orang dari masa lalunya? Terma**k ayahku?
Di dalam mobil, keheningan menyelimuti kami. Arlan sibuk dengan tabletnya, sementara aku memilih menatap lampu-lampu kota Jakarta yang berpendar di balik jendela. Aroma parfum *sandalwood* miliknya yang maskulin memenuhi ruang kabin, biasanya aroma ini menenangkanku, tapi malam ini, ia terasa mencekik.
"Kamu tampak pucat," suara Arlan memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Aku tersentak, meremas jemariku di pangkuan. "Hanya sedikit kurang tidur, Pak. Persiapan untuk pertemuan malam ini c**up menyita waktu."
Arlan mematikan tabletnya, lalu menoleh ke arahku. Tatapannya intens, seolah ia bisa membaca setiap spasi di antara kebohonganku. "Pak Baskara adalah orang yang licin. Dia suka bermain kata-kata. Tugasmu hanya mencatat setiap det**l kecil yang ia ucapkan, bahkan yang menurutnya tidak penting."
Baskara. Aku ingat nama itu. Di berkas rahasia tadi, nama Baskara berada tepat di bawah nama Ayah. Dia adalah mantan rekan bisnis Ayah sepuluh tahun lalu. Arlan sedang menggiring mangsanya, dan aku dipaksa menjadi penonton di barisan terdepan.
"Baik, Pak," jawabku pendek. Aku bisa merasakan denyut nadiku melompat di leher.
Restoran yang dipilih Arlan terletak di lant** paling atas sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman. Suasananya intim, dengan pencahayaan temaram dan denting piano yang lembut. Meja kami terletak di sudut yang privat, menghadap pemandangan kota yang berkilauan.
Pak Baskara sudah menunggu di sana. Seorang pria paruh baya dengan perut sedikit buncit dan senyum yang kurasa terlalu lebar untuk menjadi tulus.
"Arlan! Senang sekali melihatmu sesukses ini," Baskara berdiri, menyambut Arlan dengan pelukan hangat yang tidak dibalas dengan semangat yang sama. "Andai ayahmu masih ada, dia pasti sangat bangga."
Aku melihat rahang Arlan mengeras sesaat, sebuah gerakan kecil yang mungkin luput dari mata orang lain, tapi tidak dariku yang sudah terbiasa memperhatikan setiap det**l emosinya.
"Mari duduk, Pak Baskara," ujar Arlan dingin, mengabaikan komentar tentang ayahnya. Ia menarikkan kursi untukku sebelum duduk di hadapan Baskara. Tindakan sederhana itu biasanya akan membuat jantungku berdesir, namun malam ini, rasanya seperti sebuah jebakan yang manis.
Makan malam dimulai dengan basa-basi bisnis yang membosankan, namun aku tahu Arlan sedang memasang jaring. Setiap pertanyaan yang ia ajukan, setiap senyum tipis yang ia berikan, semuanya terukur. Ia bertanya tentang investasi lama, tentang proyek-proyek mangkrak sepuluh tahun lalu, dan aku mencatat semuanya dengan tangan yang berusaha tetap stabil.
"Bicara soal masa lalu," Baskara menyesap *wine*-nya, wajahnya mulai memerah karena pengaruh alkohol. "Aku sering teringat pada almarhum Pradana. Dia itu... yah, bisa dibilang dia yang memulai semua kekacauan itu, bukan?"
Pena di tanganku terhenti. Napas seakan tersangkut di kerongkongan saat mendengar nama Ayah disebut. Aku menunduk dalam-dalam pada buku catatanku, takut mataku yang mulai berkaca-kaca akan mengkhianatiku.
Arlan meletakkan garpunya dengan denting yang c**up keras di atas piring porselen. "Pradana?" ia mengulang nama itu dengan nada datar, namun ada kebencian yang murni di balik suaranya. "Dia orang yang paling bertanggung jawab, bukan begitu, Pak Baskara?"
Baskara tertawa kecil, suara parau yang membuat bulu kudukku berdiri. "Tentu saja. Kalau saja dia tidak serakah saat itu, perusahaan ayahmu mungkin tidak akan jatuh. Tapi ya, itulah bisnis. Siapa yang paling lemah, dia yang tersingkir."
Aku mengepalkan tangan di bawah meja. Kebohongan. Ayahku bukan orang serakah. Dia adalah pria yang bahkan rela membagi bekal makan siangnya dengan tukang kebun kami. Namun, melihat ekspresi Arlanβtatapan matanya yang menggelap seperti badaiβaku sadar bahwa ia telah menelan mentah-mentah versi cerita itu selama bertahun-tahun.
"Tapi saya dengar," Arlan melanjutkan, suaranya kini merendah, hampir seperti bisikan predator. "Pradana tidak bekerja sendirian. Ada orang-orang yang membantunya 'menghilangkan' aset-aset utama. Orang-orang yang sekarang justru hidup mewah dengan hasil curian itu."
Senyum Baskara memudar. Ia berdeham, mencoba memperbaiki posisi duduknya yang tiba-tiba gelisah. "Yah, itu hanya rumor, Arlan. Tidak ada bukti."
"Bukti bisa dicari, Pak Baskara. Terkadang, bukti itu tersembunyi di tempat yang paling tidak terduga," Arlan melirik ke arahku sejenak. Tatapannya dingin, tak terbaca, namun sanggup membuat jantungku berhenti berdetak sesaat. Apakah dia tahu? Apakah dia tahu aku telah membuka b**nkasnya?
Suasana di meja itu mendadak menjadi sangat menyesakkan. Aku merasa seperti terjepit di antara dua sisi yang sama-sama berbahaya. Arlan dengan dendamnya yang membara, dan kenyataan tentang Ayah yang mungkin jauh lebih kelam dari yang aku tahu.
Tiba-tiba, ponsel Arlan bergetar di atas meja. Ia melihat layarnya, lalu kembali menatap Baskara.
"Maaf, saya harus mengangkat telepon sebentar. Maya, tolong tunjukkan dokumen kontrak awal pada Pak Baskara. Pastikan dia membaca poin mengenai 'tanggung jawab masa lalu' di pasal terakhir."
Arlan berdiri dan melangkah menjauh, meninggalkanku berdua dengan pria yang mungkin saja ikut menghancurkan hidup ayahku, atau justru rekan kejahatannya.
Aku membuka map yang dibawa. Saat jemariku membalik halaman demi halaman, selembar foto kecil terjatuh dari selipan dokumen. Aku memungutnya dengan cepat. Itu adalah foto lama, foto Ayah bersama Baskara dan seorang pria lain yang wajahnya dicoret dengan tinta merah.
"Itu..." Baskara berbisik, wajahnya kini pucat pasi saat melihat foto di tanganku.
"Siapa pria yang dicoret ini, Pak?" tanyaku, suaraku hampir tidak keluar.
Baskara menatapku dengan mata membelalak, seolah baru menyadari sesuatu. Ia menunjuk ke arahku dengan jari yang gemetar. "Kamu... wajahmu... kamu anaknya Pradana, kan?"
Jantungku serasa dihantam palu godam. Sebelum aku sempat menjawab, Arlan kembali ke meja. Ia tidak langsung duduk, melainkan berdiri tepat di belakangku, tangannya mendarat di bahukuβsebuah gestur yang terlihat protektif namun terasa seperti cengkeraman peringatan.
"Ada apa, Pak Baskara? Anda terlihat seperti baru saja melihat hantu," ucap Arlan dengan nada yang sangat tenang, terlalu tenang hingga terasa mengerikan.
Aku mendongak, menatap mata Arlan yang kini menatapku balik dengan intensitas yang mematikan. Di detik itu, aku sadar; acara makan malam ini bukan hanya untuk menjebak Baskara. Arlan sedang mengujiku. Dia tahu siapa aku.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!