Udara di lant** empat puluh lima gedung TechGenix terasa jauh lebih tipis malam ini. Di balik dinding kaca yang menampilkan kerlip lampu Jakarta yang tak pernah tidur, aku berdiri mematung di depan meja kerja Arlan Adiguna. Keheningan ruangan ini terasa mencekik, hanya diinterupsi oleh dengung halus sistem pendingin udara dan detak jantungku yang berpacu liar di balik rusuk.
Arlan sedang berada di lobi, mengantar tamu VVIP dari Singapura. Aku tahu aku hanya punya waktu kurang dari sepuluh menit. Jemariku yang dingin gemetar saat menyentuh permukaan meja m***gany yang halus itu. Di sana, laptop ultrathin milik Arlan tergeletak diam, seolah-olah sedang mengujiku.
*Lakukan sekarang, Maya. Untuk Ayah,* bisik batinku.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan saraf-sarafku yang menegang. Aku sudah memerhatikan Arlan mengetikkan kata sandinya selama berminggu-minggu. Pria itu perfeksionis, namun ia punya kebiasaan mengetik dengan ritme yang bisa kuhapal. Tanganku bergerak ragu ke atas papan ketik.
*A-D-I-G-U-N-A-1-0-1-0.*
Klik. Layar menyala, menampilkan latar belakang hitam pekat dengan logo perusahaan yang minimalis. Dadaku sesak. Ini adalah wilayah terlarang. Di dalam sini, tersimpan berkas-berkas yang bisa menghancurkan hidup seseorang—atau mungkin, membuktikan bahwa kehancuran hidup ayahku hanyalah sebuah kesalahan besar.
Dengan gerakan cepat yang didorong oleh kepanikan, aku menyolokkan *flashdisk* kecil yang kukeluarkan dari saku rok. Mataku menyapu deretan folder dengan rakus. *Investasi, Akuisisi, Proyek Alpha...* mataku berhenti pada sebuah folder terenkripsi yang diberi nama sederhana: *Lestari-10*.
Lestari. Nama perusahaan ayahku sebelum bangkrut sepuluh tahun lalu.
Tanganku semakin bergetar saat aku mencoba menyalin isi folder tersebut. Sebuah bar progres muncul di layar. *10%... 25%...*
"Ayo, cepatlah," bisikku lirih, nyaris seperti doa. Keringat dingin mulai merembes di pelipisku. Bayangan wajah Arlan yang dingin dan tajam terlintas di benakku. Pria itu mulai menunjukkan sisi manusianya padaku akhir-akhir ini—sebuah senyum tipis saat aku membawakannya kopi tepat waktu, atau nada suaranya yang melunak saat kami mendiskusikan riset pasar hingga larut malam.
Namun, semua kehangatan semu itu menguap saat aku teringat namanya: Bambang Pradana. Nama ayahku yang berada di urutan teratas daftar hitam Arlan. Ayahku dituduh sebagai pengkhianat, alasan mengapa keluarga Adiguna kehilangan segalanya. Aku harus membuktikan bahwa itu salah. Aku harus menemukan bukti bahwa ayahku hanya dijadikan kambing hitam.
*60%... 75%...*
Tiba-tiba, suara denting lift di ujung lorong terdengar. Jantungku seolah berhenti berdetak. Itu suara khas lift privat yang langsung menuju ruangan ini. Arlan kembali lebih cepat dari dugaanku.
"Sial," umpatku tertahan.
Bar progres itu merayap lambat. *85%... 90%...* Suara langkah kaki yang mantap dan berirama mulai menggema di lant** marmer di luar ruangan. Langkah kaki yang sangat kukenal. Tegas, penuh otoritas, dan tak kenal ampun.
Aku tidak punya waktu lagi untuk mencabut *flashdisk* secara aman. Mataku membelalak saat melihat angka *98%*.
Pintu depan ruangan terbuka dengan suara klik yang tajam.
"Maya? Kamu masih di sini?"
Suara bariton Arlan memecah keheningan. Aku tersentak, hampir menjatuhkan tasku. Dengan gerakan kilat yang didorong oleh insting bertahan hidup, aku mencabut *flashdisk* itu tepat saat layar menunjukkan angka *100%*. Aku menutup layar laptop dengan sekali sentakan pelan, c**up pelan agar tidak menimbulkan suara mencurigakan, dan segera berdiri tegak di samping meja, pura-pura merapikan tumpukan dokumen fisik yang memang sengaja kutinggalkan di sana.
Arlan melangkah ma**k. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya tampak lelah, namun matanya yang tajam tetap terlihat waspada. Ia berhenti beberapa langkah dariku, alisnya bertaut.
"Aku pikir kamu sudah pulang sepuluh menit yang lalu," ucapnya sembari mendekat. Aroma parfum kayu cendana dan *citrus* yang maskulin mulai memenuhi indra penciumanku, membuatku semakin gugup.
"Saya... saya baru teringat ada jadwal rapat besok pagi yang belum saya ma**kkan ke kalender fisik Anda, Pak," jawabku, mencoba menjaga suaraku agar tidak bergetar. Aku meremas *flashdisk* di dalam kepalan tanganku yang tersembunyi di balik saku rok. Logam kecil itu terasa panas, seolah-olah bisa membakar kulitku.
Arlan menatapku lurus-lurus. Matanya menyapu meja kerja, lalu beralih ke wajahku. Ada keheningan panjang yang menyiksa. Aku bisa melihat pantulan diriku di matanya yang gelap—seorang asisten yang tampak ketakutan, namun berusaha keras terlihat profesional.
"Kenapa wajahmu pucat sekali?" Arlan melangkah selangkah lebih dekat. Jarak kami kini hanya tersisa satu meter. "Dan tanganmu... kamu gemetar."
Aku menelan ludah dengan susah payah. "Hanya... sedikit pusing, Pak. Mungkin karena AC di sini terlalu dingin."
Arlan terdiam sejenak, tatapannya beralih ke laptopnya yang tertutup. Jantungku rasanya ingin melompat keluar. Apakah dia menyadari posisi laptopnya bergeser beberapa milimeter? Atau apakah lampu indikator di sisinya masih berkedip?
Ia mengulurkan tangan, bukan ke arah laptop, melainkan ke arah wajahku. Aku menahan napas saat jari-jarinya yang hangat menyentuh dahiku dengan lembut, hanya sekilas.
"Kamu tidak demam, tapi keringatmu dingin," gumamnya, suaranya kini terdengar lebih rendah, hampir seperti perhatian yang tulus. "Pulanglah, Maya. Aku tidak mau asisten pribadiku pingsan di kantor karena kelelahan. Biar aku yang merapikan sisanya."
"Tapi, Pak—"
"Ini perintah," potongnya tegas, namun tanpa nada kasar.
Aku mengangguk patuh, tak berani mendebat. Aku segera menyambar tas selempangku dan berjalan menuju pintu secepat yang aku bisa tanpa terlihat seperti sedang melarikan diri. Namun, saat tanganku menyentuh gagang pintu, suara Arlan kembali menghentikanku.
"Maya."
Aku membeku. Perlahan, aku menoleh. Arlan masih berdiri di samping mejanya, tangannya kini menyentuh permukaan laptopnya yang tertutup. Cahaya lampu ruangan yang temaram membuat bayangannya jatuh memanjang di lant**, tampak dominan dan mengintimidasi.
"Ada yang tertinggal?" tanyanya sambil mengangkat sebuah benda kecil dari atas meja.
Napas kaku di tenggorokanku. Itu adalah tutup *flashdisk*-ku. Plastik hitam kecil yang terjatuh di sela-sela berkas saat aku mencabutnya tadi dengan terburu-buru.
Dunia seolah berhenti berputar. Arlan menatap benda kecil itu, lalu menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kecurigaan dan sesuatu yang jauh lebih gelap.
"Ini milikmu?" tanyanya pelan, langkah kakinya mulai bergerak mendekatiku lagi, kali ini dengan aura yang jauh berbeda.
Aku tahu, jika aku salah menjawab satu kata saja, aku tidak hanya akan kehilangan pekerjaanku, tapi juga satu-satunya kesempatan untuk membersihkan nama ayahku. Dan yang lebih menakutkan adalah kenyataan bahwa di bawah tatapan tajam itu, aku mulai meragukan apakah aku sanggup mengkhianati pria yang baru saja menyentuh dahiku dengan begitu lembut.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!