Deru mesin Audi A8 yang halus nyaris tak terdengar, tenggelam oleh kesunyian yang membeku di dalam kabin. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Mayaβasisten pribadiku yang biasanya vokal dan tangkasβduduk kaku di kursi penumpang. Jemarinya terus memainkan ujung blus kremnya, sebuah gestur kegelisahan yang berusaha ia sembunyikan di balik tatapan kosong ke arah jendela.
"Kau sudah membaca berkas tentang proyek pelabuhan baru di Cilegon itu?" suaraku memecah keheningan, dingin dan datar seperti biasanya.
Maya sedikit terlonjak, seolah baru saja ditarik paksa dari alam pikirannya. "Sudah, Pak. Baskoro Group memegang empat puluh persen saham di sana. Mereka baru saja melakukan *groundbreaking* minggu lalu."
Aku menyunggingkan senyum tipis yang tak sampai ke mata. Baskoro. Nama itu adalah entri kedua dalam daftar hitamku. Pria itu adalah kurator yang dengan licin memanipulasi valuasi aset perusahaan ayahku sepuluh tahun lalu, membiarkan para burung bangkai berpesta di atas bangkai Adiguna Corp. Hari ini, aku membawanya ke sana bukan sekadar untuk inspeksi lapangan, tapi untuk memetakan titik lemah pria yang kini merasa di atas angin itu.
Mobil meluncur keluar dari gerbang tol. Cuaca di luar sedang cerah, langit biru bersih tanpa awan, sangat kontras dengan badai yang kusimpan di balik setelan jas mahal ini. Saat kami melewati area pesisir yang c**up asri, aku memutuskan untuk menepi sejenak di sebuah bahu jalan yang menghadap ke laut lepas.
"Kita berhenti sepuluh menit. Aku butuh udara segar sebelum menghadapi kemunafikan Baskoro," ucapku tanpa menunggu persetujuannya.
Aku turun dari mobil, menghirup aroma garam dan kelembapan yang menyengat. Maya menyusul, berdiri beberapa langkah di belakangku. Aku memperhatikannya melalui pantulan kaca mobil. Dia melepaskan kuncir rambutnya, membiarkan rambut hitamnya yang legam tertiup angin laut yang kencang. Untuk sesaat, topeng profesionalnya luruh. Matanya terpejam, dan ia menarik napas panjang, sebuah senyum tulus yang sangat tipis terukir di bibirnya.
Pemandangan itu menghantamku dengan cara yang tidak kusukai. Dia terlihat... damai.
"Kenapa kau tersenyum?" tanyaku, membalikkan badan sepenuhnya.
Maya tersentak, wajahnya memerah seketika. "Maaf, Pak. Hanya saja... bau laut ini mengingatkan saya pada masa kecil. Ayah dulu sering mengajak saya ke pant** setiap hari Minggu. Katanya, laut bisa menghapus semua lelah."
Mendengar kata 'Ayah' dari mulutnya membuat rahangku mengeras secara insting. Ayahnya, Pradana, adalah alasan utama mengapa aku tidak lagi memiliki hari Minggu yang damai. Namun, saat aku menatap matanya, aku tidak menemukan kelicikan yang biasanya dimiliki oleh para pengkhianat. Yang kulihat hanyalah binar kerinduan yang jujur.
Maya tiba-tiba melangkah mendekati pagar pembatas jalan, perhatiannya teralih pada seorang penjual jajanan pinggir jalan yang sedang kesulitan dengan payung dagangannya yang hampir terbang ditiup angin. Tanpa ragu, dia berlari kecil ke sana, memegangi tiang payung itu agar si bapak tua bisa mengikatnya kembali. Dia tertawa kecil saat si bapak mengucapkan terima kasih, lalu dia merogoh sakunya dan membeli dua bungkus kerupuk ikan.
Dia kembali ke arahku dengan langkah ringan, wajahnya cerah seolah baru saja memenangkan lotre, bukan sekadar membantu tukang jajanan.
"Bapak mau?" tanyanya lugu, menyodorkan satu bungkus kerupuk ikan itu padaku.
Aku menatap bungkusan plastik murah itu, lalu menatapnya. "Itu tidak higienis, Maya."
Dia tertawa, suara yang terdengar seperti denting lonceng yang sudah lama tak kudengar di hidupku yang sunyi. "Kadang-kadang, kebahagiaan itu tidak perlu higienis, Pak Arlan. Coba saja."
Aku seharusnya menolak. Aku seharusnya mengingatkannya tentang etika kerja dan tujuan kami datang ke sini. Namun, ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat pertahananku goyah. Aku mengambil bungkusan itu. Rasanya renyah, gurih, dan sederhana.
Sesaat, bayangan masa laluku melintas. Sebelum Adiguna Corp hancur, sebelum ayahku melompat dari lant** dua puluh, aku pernah menjadi pemuda yang bisa tertawa karena hal-hal sepele seperti ini. Maya, dengan segala kenaifannya, menarikku kembali ke permukaan, ke sebuah dunia di mana dendam bukan satu-satunya oksigen yang kuhirup.
Tapi kemudian, kenyataan pahit itu kembali menghantamku seperti godam. Aku menatap Maya yang sedang mengunyah kerupuknya dengan nikmat. Gadis ini adalah putri dari pria yang menghancurkan keluargaku. Setiap tawa yang ia keluarkan adalah penghinaan bagi air mata ibuku. Setiap kebaikan yang ia tunjukkan hanyalah lapisan gula di atas racun yang ditinggalkan ayahnya.
Bagaimana bisa seseorang yang membawa darah seorang pengkhianat memiliki jiwa semurni ini? Atau apakah ini semua hanyalah akting yang sangat rapi?
"Ayo berangkat," kataku tiba-tiba, suaraku kembali menjadi dingin dan tajam. Aku melempar bungkusan kerupuk yang baru kumakan separuh ke tempat sampah di dekat sana.
Maya tertegun, keceriaannya lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi bingung dan rasa bersalah yang akrab. "Apa saya salah bicara, Pak?"
"Kau di sini untuk bekerja, bukan untuk tamasya atau bernostalgia tentang ayahmu," desisku sambil ma**k ke dalam mobil dan membanting pintu.
Aku mencengkeram kemudi hingga buku jariku memutih. Aku tidak boleh goyah. Maya adalah alat, atau mungkin sandera, dalam rencanaku. Aku tidak boleh membiarkan kilau di matanya membutakanku dari kegelapan yang sedang kusiapkan untuk membalaskan dendam keluargaku.
Saat mobil mulai melaju menuju kediaman Baskoro, aku melirik kaca spion tengah. Maya menunduk dalam, tangannya gemetar kecil di atas pangkuannya. Aku merasakan denyut aneh di dadakuβsesuatu yang menyerupai rasa sakit, namun segera kutepis.
Kami tiba di depan gerbang megah milik Baskoro beberapa saat kemudian. Aku mematikan mesin, namun tidak segera turun. Aku menoleh ke arah Maya, menatapnya dengan intensitas yang membuatnya menahan napas.
"Maya," panggilku rendah.
"Iya, Pak?"
"Apapun yang kau lihat atau kau dengar di dalam sana nanti... ingatlah satu hal. Di dunia bisnis ini, tidak ada orang yang benar-benar bersih. Terma**k orang-orang yang paling kau percayai sekalipun."
Aku melihat keraguan melintas di matanya, dan untuk sesaat, aku bertanya-tanya: apa yang akan ia lakukan jika ia tahu bahwa hari ini, aku tidak hanya akan menjatuhkan Baskoro, tapi aku juga sedang menggali kuburan bagi reputasi ayahnya sendiri melalui tangannya?
Ponselku bergetar. Sebuah pesan ma**k dari orang suruhanku: *'Dokumen asli likuidasi sepuluh tahun lalu sudah di tangan. Nama Pradana tercatat jelas di sana sebagai penerima suap pertama.'*
Aku menyimpan ponselku kembali ke saku, lalu menatap pintu gerbang yang terbuka lebar di depan kami. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan Maya adalah pion yang akan membawaku pada kemenangan mutlak, atau kehancuranku sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!