Lant** kayu di kedai teh tua ini berderit setiap kali ada langkah kaki melintas, seolah-olah ikut memprotes kehadiranku yang membawa kegelisahan. Aku meremas tali tas selempangku, merasakan ujung-ujung jariku mendingin meskipun udara sore ini c**up gerah. Di hadapanku, duduk seorang pria paruh baya dengan kemeja batik yang warnanya sudah memudar. Pak Baskoroβnama itu tertulis jelas di urutan kelima dalam daftar hitam milik Arlan.
Dulu, pria ini adalah tangan kanan ayahku di Pradana Logistik. Kini, dia hanyalah seorang pria dengan mata lelah yang terus menghindari tatapanku.
"Maya, kamu sudah besar," suaranya serak, setipis kertas lama. Dia menyesap teh melatinya, tangannya sedikit gemetar hingga cangkir porselen itu berdenting pelan saat bersentuhan dengan tatakannya. "Terakhir kali aku melihatmu, kamu masih memakai seragam SMP."
"Saya ingin bertanya tentang apa yang terjadi sepuluh tahun lalu, Pak," aku memotong basa-basi itu. Suaraku terdengar lebih tenang dari yang kurasakan. Di dalam kepalaku, bayangan Arlan yang berdiri dingin di depan jendela kantornya terus membayangi. "Tentang kebangkrutan itu. Tentang alasan mengapa nama Bapak ada di catatan keuangan yang dialihkan ke TechGenix."
Baskoro tersedak kecil. Dia meletakkan cangkirnya dengan tergesa-gesa. Matanya yang semula redup mendadak membelalak waspada. "Kenapa kamu menanyakan itu sekarang? Itu sudah lewat, Maya. Semuanya sudah hancur."
"Bagi Bapak mungkin sudah lewat, tapi bagi orang lain, ini adalah misi balas dendam," kataku, sedikit condong ke depan. Aku bisa melihat keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. "Arlan Adiguna. Bapak tahu siapa dia, kan?"
Mendengar nama itu, Baskoro seolah kehilangan seluruh warna di wajahnya. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras, napasnya menjadi pendek-pendek. "Anak itu... dia kembali?"
"Dia tidak hanya kembali, Pak. Dia sedang menghancurkan semua orang yang dia anggap bertanggung jawab atas kematian ayahnya dan jatuhnya perusahaan mereka. Dan nama Ayah saya... nama Ayah saya ada di urutan pertama." Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa seperti disumbat kerikil. "Dia menganggap Ayah adalah pengkhianat utama."
Baskoro tertawa, namun suaranya lebih mirip rintihan kesakitan. Dia menatap ke luar jendela, ke arah jalanan yang mulai padat oleh kendaraan. "Pengkhianat? Ayahmu itu terlalu jujur untuk menjadi pengkhianat, Maya. Itulah masalahnya. Dia terlalu percaya pada orang-orang yang dia anggap saudara."
Jantungku berdegup kencang. "Apa maksud Bapak?"
Baskoro meraih sebuah tas jinjing kusam dari bawah meja, merogoh isinya, dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah berjamur di sudut-sudutnya. Dia meletakkannya di atas meja, namun tangannya tetap menekan amplop itu, seolah ragu untuk melepaskannya.
"Semua orang menyalahkan ayahmu karena dialah yang menandatangani berkas pengalihan aset itu. Tapi tidak ada yang bertanya siapa yang memalsukan laporan audit sebelumnya sehingga ayahmu percaya bahwa perusahaan sedang berada di ambang kehancuran yang tak bisa diperbaiki," bisik Baskoro. Dia mendorong amplop itu ke arahku.
Dengan tangan gemetar, aku membuka amplop tersebut. Di dalamnya terdapat salinan korespondensi email dan beberapa lembar laporan keuangan internal yang tidak pernah dipublikasikan. Mataku memindai baris demi baris. Ada satu nama yang terus muncul di sana, memberikan instruksi di balik layar, mengarahkan aliran dana keluar sebelum ayahku sempat menyadarinya.
Bukan ayahku. Bukan Pak Baskoro.
"Herman Sanjaya," aku membaca nama itu dengan suara tercekat. "Dia adalah rekan dewan komisaris Arlan sendiri sekarang, kan?"
Baskoro mengangguk pelan. "Herman yang menjebak ayahmu. Dia memberikan dokumen palsu untuk ditandatangani, menjanjikan bahwa itu adalah dana talangan, padahal itu adalah surat pengakuan hutang yang melilit leher Pradana Logistik. Ayahmu baru sadar saat semuanya sudah terlambat. Dia ingin bicara pada ayah Arlan, tapi sebelum pertemuan itu terjadi... kecelakaan itu merenggut semuanya."
Duniaku seolah berputar. Selama ini aku hidup dalam ketakutan bahwa ayahku adalah orang jahat yang menghancurkan keluarga orang lain. Dan Arlan... Arlan menghabiskan sepuluh tahun hidupnya untuk membenci pria yang sebenarnya hanyalah pion dalam permainan yang lebih besar.
"Kenapa Bapak tidak bicara dulu?" tanyaku, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.
"Siapa yang mau mendengarku, Maya? Aku diancam. Keluargaku dipertaruhkan. Herman punya kekuasaan untuk melenyapkanku dalam semalam," Baskoro bangkit dari kursinya, wajahnya tampak sangat tua dan letih. "Berhati-hatilah. Jika Arlan tahu kamu memegang ini, atau jika Herman tahu kamu mulai menggali... kamu bukan hanya berurusan dengan masa lalu, tapi dengan orang-orang yang masih bisa membunuh untuk menutupi jejak mereka."
Aku terpaku di tempat dudukku saat Baskoro melangkah pergi, meninggalkanku sendirian dengan amplop yang terasa seberat bongkahan batu di tanganku. Pikiranku kalut. Aku melihat ponselku di atas meja. Ada pesan ma**k dari Arlan.
*βMaya, di mana kamu? Ada dokumen kontrak proyek Neo-Tech yang harus kamu verifikasi sekarang. Kembali ke kantor dalam tiga puluh menit.β*
Aku menatap layar ponsel itu dengan perasaan mual. Arlan sedang menungguku. Pria yang setiap malam dihantui dendam pada ayahku, pria yang mungkin saat ini sedang merencanakan langkah selanjutnya untuk menghancurkan sisa-sisa nama baik keluargaku, ternyata sedang mengejar hantu yang salah.
Aku mema**kkan amplop itu ke dalam tas, menyembunyikannya di balik tumpukan berkas kantor. Saat aku berdiri, aku menyadari satu hal yang mengerikan. Jika aku memberitahu Arlan yang sebenarnya, aku mungkin akan menyelamatkan nama ayahku. Namun, aku juga akan menghancurkan satu-satunya hal yang membuat Arlan bertahan hidup selama ini: keyakinannya pada siapa musuhnya yang sebenarnya.
Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika Arlan sudah tahu, dan dia sengaja menjadikanku umpan untuk memancing Herman keluar?
Saat aku melangkah keluar dari kedai teh, sebuah mobil hitam dengan kaca gelap terparkir tepat di seberang jalan. Mesinnya menyala, namun tidak bergerak. Perasaan diawasi itu kembali muncul, lebih tajam dari sebelumnya. Aku mempercepat langkah, menyadari bahwa setiap detik yang kuhabiskan di dekat Arlan sekarang bukan lagi sekadar pekerjaan, melainkan berjalan di atas benang tipis di atas jurang yang penuh dengan duri rahasia.
Dan benang itu mulai putus.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!