Ujung sepatu hak tingginya yang setinggi tujuh sentimeter seolah merayap tanpa suara di atas lant** marmer hitam yang meng***p. Sela menarik napas dalam-dalam, membetulkan letak kacamata berbingkai tipisnya, lalu merapikan rok span hitam yang membungkus pinggulnya dengan sempurna. Di tangannya, sebuah tablet berisi jadwal harian tergenggam erat, seerat ia memegang kendali atas emosinya setiap kali harus berhadapan dengan pria di balik pintu jati besar itu.
Adrian Hardianto. Nama itu bukan sekadar nama atasan bagi Sela, melainkan sinonim dari kesempurnaan yang mencekik.
Sela mengetuk pintu tiga kali. Ketukan yang presisi, tidak terlalu keras namun c**up tegas.
"Ma**k."
Suara bariton itu terdengar dingin, seperti denting es dalam gelas wiski. Sela mendorong pintu dan disambut oleh aroma kayu cendana dan parfum maskulin yang mahal. Di balik meja kerja minimalis yang luas, Adrian duduk dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, menampakkan urat-urat menonjol di punggung tangannya yang sedang membolak-balik dokumen.
"Jadwal untuk perjalanan bisnis ke Maldives sudah siap, Pak. Penerbangan dengan jet pribadi pukul sembilan pagi, dan pertemuan dengan investor dilakukan pukul tujuh malam di resor," lapor Sela dengan suara yang diusahakan tetap stabil.
Adrian tidak mendongak. Ia masih sibuk menandatangani berkas. "Bagaimana dengan akomodasi?"
"Satu *presidential suite* untuk Bapak, dan satu kamar *deluxe* untuk saya di sayap bangunan yang berbeda, sesuai instruksi sebelumnya," jawab Sela cepat.
Tiba-tiba, pena Adrian berhenti bergerak. Suasana ruangan yang tadinya hanya diisi desau pendingin ruangan mendadak terasa pekat. Adrian meletakkan penanya, lalu perlahan mengangkat wajah. Mata tajam sehitam obsidian itu menatap Sela, menguliti setiap inci penampilan sekretarisnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sela merasa seolah-olah ia sedang diperiksa di bawah mikroskop.
"Batalkan kamar untukmu," ucap Adrian datar.
Sela mengerutkan kening, jemarinya sedikit gemetar di atas layar tablet. "Maaf, Pak? Jika kamar saya dibatalkan, saya harus menginap di mana?"
Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menyatukan ujung-ujung jarinya di depan dada. "Kau akan berada di unit yang sama denganku. Ada aspek dari kontrak kerjamu yang perlu diperbarui untuk perjalanan ini, Sela. Ini bukan sekadar perjalanan bisnis biasa."
Sela menelan ludah. Rasa cemas mulai merayap di tengkuknya. "Saya tidak mengerti maksud Bapak."
Adrian mengambil sebuah amplop cokelat kecil dari laci mejanya dan mendorongnya ke arah Sela. "Buka."
Dengan tangan yang kini terang-terangan gemetar, Sela mengambil amplop itu. Isinya bukan dokumen kontrak hukum yang membosankan, melainkan selembar kertas memo dengan logo pribadi Adrian dan sebuah kartu akses untuk butik serta salon kecantikan paling eksklusif di Jakarta.
Mata Sela membelalak saat membaca poin-poin yang tertulis di memo tersebut.
*1. Pembersihan seluruh tubuh (Waxing total).*
*2. Perawatan kulit dengan aroma vanilla-musk.*
*3. Pakaian dalam sutra (Daftar terlampir).*
*4. Rambut harus dibiarkan tergerai tanpa aksesoris.*
Darah Sela seolah berhenti mengalir. Wajahnya yang biasanya pucat kini memerah padam, antara malu dan terhina. Ia menatap Adrian dengan pandangan tidak percaya. "Pak Adrian... ini... ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya sebagai sekretaris. Ini sangat pribadi. Saya tidak bisaβ"
"Kau bisa, Sela," potong Adrian dengan suara rendah yang mengintimidasi. Ia berdiri, sosoknya yang jangkung mendominasi ruangan. Ia melangkah perlahan mengitari meja, mendekat ke arah Sela yang refleks mundur satu langkah hingga punggungnya menyentuh pintu yang tertutup.
Adrian berhenti tepat di depan Sela, c**up dekat hingga Sela bisa merasakan panas dari tubuh pria itu. Adrian mengulurkan tangan, jemarinya yang dingin menyentuh dagu Sela, memaksanya untuk mendongak.
"Ingat cicilan hutang keluargamu yang kupindahkan ke rekening pribadiku bulan lalu? Dan biaya pengobatan ibumu yang aku tanggung tanpa bunga?" bisik Adrian, suaranya terdengar seperti beludru namun mematikan. "Aku tidak meminta ini sebagai atasan, Sela. Aku menuntut ini sebagai pemilikmu."
Sela merasa dunianya berputar. Harga dirinya menjerit, namun bayangan wajah ibunya dan tumpukan tagihan yang selama ini menghimpitnya mendadak muncul di depan mata. Ia terjepit di antara martabat dan kebutuhan hidup yang kejam.
"Kenapa saya, Pak?" bisik Sela lirih, suaranya nyaris hilang. "Bapak bisa mendapatkan model mana pun yang Bapak inginkan."
Adrian mendekatkan wajahnya ke telinga Sela, napasnya terasa hangat dan memburu. "Karena model-model itu tidak memiliki kepolosan yang membuatku ingin menghancurkannya, Sela. Dan karena kau... kau adalah milikku yang paling penurut."
Adrian melepaskan dagu Sela dan kembali ke mejanya seolah-olah percakapan barusan hanyalah diskusi tentang laporan keuangan. "Perg***h ke alamat salon itu sore ini. Pastikan tidak ada satu helai rambut pun yang tertinggal di tempat yang tidak seharusnya. Aku ingin semuanya... halus."
Sela mencengkeram memo itu hingga kertasnya kusut. Jantungnya berdegup kencang, sebuah campuran antara ketakutan yang murni dan getaran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa hina, namun sebagian kecil dari dirinyaβbagian yang selama ini diam-diam mengagumi ketegasan dan ketampanan pria itu dari jauhβmulai membayangkan apa yang akan terjadi jika ia benar-benar melakukan perintah g*** itu.
"Satu hal lagi," ujar Adrian tanpa menatapnya. "Di atas jet besok, aku akan memeriksa sendiri apakah kau mengikuti instruksiku dengan benar atau tidak. Jangan membuatku kecewa, Sela."
Sela tidak menjawab. Ia berbalik dan segera keluar dari ruangan itu dengan langkah seribu. Di koridor yang sepi, ia bersandar pada dinding, mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Pikirannya kacau. Ia tahu, jika ia melangkah ke salon itu sore ini, tidak akan ada jalan kembali. Hidupnya sebagai sekretaris yang profesional akan berakhir, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya.
Namun, saat ia melihat notifikasi pesan singkat dari bank tentang pembayaran cicilan rumahnya yang sudah lunas, jemari Sela perlahan merobek memo itu menjadi bagian-bagian kecil, sementara hatinya mulai menerima takdir yang baru saja dimulai. Ia akan melakukannya. Ia akan menyerahkan dirinya pada obsesi sang CEO.
Sela menatap kartu akses butik di tangannya, menyadari bahwa perjalanan ke Maldives besok bukan sekadar perjalanan bisnis, melainkan awal dari penyerahan dirinya yang total. Dan ancaman Adrian tentang 'inspeksi kualitas' di atas jet pribadi terus terngiang, membuat bulu kuduknya berdiri sekaligus memicu desiran panas yang tidak seharusnya ada di sana.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!