Lant** kayu dermaga pribadi itu terasa bergoyang di bawah pijakan sepatuku, atau mungkin itu hanya ilusi yang diciptakan oleh kakiku yang masih terasa lemas. Aroma garam laut yang tajam dan semilir angin tropis yang hangat menyambut kami begitu turun dari jet pribadi, namun aku nyaris tidak bisa menikmatinya. Pikiranku masih tertinggal di kabin pesawat yang kedap suara itu—di atas kursi kulit tempat Adrian baru saja meruntuhkan seluruh pertahanan duniaku.
Aku mengeratkan pegangan pada tas kerjaku, mencoba mencari sisa-sisa profesionalitas yang mungkin masih tersisa di balik seragam sekretarisku yang kini terasa seperti kulit kedua yang menyesakkan.
"Sela."
Suara bariton itu memanggil namaku tanpa embel-embel, rendah dan bergetar, mengirimkan gelombang panas yang tidak ada hubungannya dengan suhu Maldives yang menyengat. Aku menoleh perlahan, menemukan Adrian berdiri beberapa langkah di belakangku. Pria itu tampak sangat tenang, seolah-olah apa yang terjadi di atas sana—inspeksi intim yang ia lakukan terhadap tubuhku—hanyalah bagian dari rutinitas administrasi kantor. Kacamata hitam menutupi matanya, namun aku bisa merasakan tatapannya menyapu sosokku dari atas ke bawah.
"Ya, Pak Adrian?" suaraku keluar sedikit lebih tinggi dari biasanya. Aku berdeham, mencoba mengembalikan nada birokratisku. "Mobil penjemputan sudah menunggu untuk membawa kita ke villa."
Adrian tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju, melewati aku begitu saja menuju buggy yang sudah siap di ujung dermaga. Aroma maskulinnya—campuran antara *sandalwood* dan sesuatu yang gelap—tertinggal di udara, mencekik paru-paruku. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang berdentum liar di balik tulang rusukku, lalu bergegas menyusulnya.
Villa mewah yang menjadi tempat kami menginap berdiri megah di atas air kristal yang berkilauan. Dinding-dinding kaca setinggi langit-langit menawarkan pemandangan Samudra Hindia yang tak berujung, namun yang bisa kulihat hanyalah pantulan diriku sendiri di permukaan kaca: seorang wanita yang tampak berantakan secara mental meski pakaiannya terlihat rapi.
Begitu pintu villa tertutup di belakang kami, keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan. Staf villa telah pergi setelah meletakkan koper-koper kami di masing-masing kamar.
"Keluarkan jadwalnya," perintah Adrian singkat. Ia melepaskan jasnya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka. Ia duduk di sofa ruang tengah, menyandarkan punggungnya dengan pose predator yang sedang beristirahat.
Tanganku gemetar saat merogoh tablet dari dalam tas. Aku berdiri sekitar dua meter darinya, jarak aman yang aku tetapkan secara sepihak. "Tentu, Pak. Sore ini pukul empat, perwakilan dari *Blue Marine Resort* akan datang untuk presentasi awal. Kemudian pukul tujuh malam, ada jamuan makan malam formal dengan dewan direksi..."
Kata-kataku mendadak hilang saat Adrian berdiri. Ia berjalan mendekat ke arahku. Aku terpaku, punggungku menab**k pinggiran meja makan kayu yang dingin. Pandanganku tertuju pada layar tablet, pura-pura fokus pada deretan angka dan huruf yang kini mulai tampak kabur.
"Kenapa suaramu bergetar, Sela?" bisiknya. Ia sudah berada di depanku sekarang. Sangat dekat hingga aku bisa merasakan radiasi panas dari tubuhnya.
"Saya... saya hanya sedikit lelah karena perjalanan, Pak," bohongku. Fokusku terpecah total. Pikiranku malah memutar kembali memori saat jemari panjangnya menyentuh pangkal pahaku di pesawat tadi, memastikan instruksinya telah kujalankan dengan sempurna. Rasa panas menjalar ke wajahku.
Adrian mengulurkan tangan. Aku berjengit kecil, mengira ia akan menyentuhku lagi, namun ia hanya mengambil tablet dari tanganku. Jarinya sengaja bersentuhan dengan kulit tanganku saat mengambil perangkat itu, dan aku bersumpah ada percikan listrik yang meledak di sana.
"Kau tidak bisa berkonsentrasi," ucapnya datar, matanya menatap tajam ke arahku sementara tangannya meletakkan tablet itu ke meja tanpa melihatnya. "Sekretarisku yang teladan biasanya tidak melewatkan poin penting. Kau lupa menyebutkan pertemuan internal kita sebelum tamu-tamu itu datang."
Aku menelan ludah dengan susah payah. "Pertemuan... internal?"
"Ya." Adrian melangkah satu tahap lebih dekat, mengurungku di antara tubuhnya dan meja kayu di belakangku. "Pertemuan untuk mengevaluasi kepatuhanmu lebih lanjut. Kau pikir 'inspeksi' di pesawat tadi sudah c**up?"
Aku meremas pinggiran meja hingga buku-buku jariku memutih. "Pak Adrian, kita di sini untuk bisnis. Saya harus menyiapkan berkas-berkas untuk..."
"Ini juga bisnis, Sela," potongnya dengan suara yang kini lebih lembut namun penuh penekanan yang berbahaya. "Bisnis antara aku dan investasiku. Kau adalah investasiku untuk perjalanan ini. Dan aku adalah pria yang sangat teliti terhadap setiap det**l yang kumiliki."
Ia menunduk, bibirnya berada tepat di samping telingaku, membuat bulu kudukku berdiri. "Mandilah. Segarkan dirimu. Aku ingin kau memakai gaun sutra hitam yang sudah disiapkan di kamarmu saat pertemuan jam empat nanti. Tanpa apa pun di baliknya. Aku ingin memastikan instruksi 'kerapian' yang aku berikan di Jakarta benar-benar ditaati sampai ke det**l yang paling privasi."
Napas utamanya terasa panas di leherku, membuat lututku seolah mencair.
"Tapi Pak... presentasi dari Blue Marine..." suaraku nyaris berupa bisikan yang tidak berdaya.
"Biarkan mereka menunggu," sahut Adrian dingin sambil menjauhkan wajahnya, menatapku dengan sorot mata yang menggelap oleh obsesi yang sulit disembunyikan. "Saat ini, satu-satunya agenda yang penting adalah memastikan sekretarisku mengerti siapa pemiliknya yang sebenarnya di tempat terpencil ini."
Adrian berbalik dan berjalan menuju balkon luas yang menghadap laut, meninggalkanku yang berdiri mematung dengan napas tersengal. Aku menatap koperku di sudut ruangan, mengetahui bahwa di dalamnya ada sebuah gaun yang akan meruntuhkan martabatku sepenuhnya, atau justru menyerahkanku sepenuhnya pada pria yang kini sedang menyesap kopi sambil menatap ombak dengan penuh kemenangan.
Telepon di atas meja berdering, menandakan ada tamu di lobi depan, namun tanganku tak mampu menjangkaunya. Aku tahu, profesionalitas yang selama ini kubanggakan baru saja mati, digantikan oleh ketakutan dan gairah yang mulai membakar akal sehatku.
"Cepatlah, Sela," suara Adrian terdengar dari balkon tanpa ia menoleh sedikit pun. "Waktu adalah uang, dan aku tidak suka menunggu."
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!