Suara deburan ombak Maldives yang menghantam tiang-tiang kayu villa terapung itu biasanya terdengar menenangkan, tetapi malam ini, bunyi itu seperti detak jantung yang berpacu liar di telinga Sela. Ia berdiri di balkon luas, membiarkan angin laut yang lembap menerpa gaun tidur sutranya yang tipisβsatu lagi barang mewah yang dipilihkan Adrian untuknya.
Di dalam kamar, Adrian duduk di sofa kulit, segelas wiski di tangannya. Cahaya lampu temaram menonjolkan garis rahangnya yang tajam dan sorot mata yang selalu tampak menghakimi. Sela membalikkan badan, meremas jemarinya sendiri. Rasa tidak nyaman yang mengendap sejak "inspeksi" di jet pribadi tadi sore akhirnya mencapai puncaknya.
"Pak Adrian," suara Sela bergetar, hampir tertelan deru angin.
Adrian tidak menoleh, hanya menggerakkan gelasnya hingga es di dalamnya berdenting. "Ya, Sela?"
"Kenapa?"
Satu kata itu menggantung di udara. Adrian akhirnya mengangkat pandangan. Alisnya bertaut tipis. "Kenapa apa?"
"Semua ini. Instruksi itu... perawatan itu... cara Anda memeriksa saya seolah saya hanyalah sebuah aset yang baru keluar dari pabrik." Sela melangkah maju, keberanian yang biasanya ia simpan rapat kini meluap. "Saya sekretaris Anda. Tugas saya adalah mengatur jadwal, menyiapkan dokumen, dan memastikan rapat berjalan lancar. Tapi apa yang Anda minta... itu bukan bagian dari kontrak kerja mana pun di dunia ini."
Adrian meletakkan gelasnya di meja dengan dentuman pelan namun tegas. Ia berdiri, sosoknya yang jangkung seolah menelan seluruh ruang di kamar itu. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat Sela ingin mundur, namun Sela memaksa kakinya tetap terpaku di lant**.
"Kau ingin tahu alasannya?" Adrian berhenti tepat di depan Sela. Aroma kayu cendana dan alkohol maskulin menguar dari tubuh pria itu, memenuhi indra penciuman Sela.
"Saya berhak tahu," tantang Sela, meski dadanya bergemuruh. "Anda menuntut kesempurnaan fisik yang sangat spesifik. Anda ingin mengontrol bahkan hingga hal yang paling intim dari diri saya. Kenapa saya harus 'dirapikan' sesuai standar Anda hanya untuk perjalanan bisnis ini?"
Adrian terdiam c**up lama, matanya menelusuri wajah Sela, mencari keraguan atau ketakutan. Saat ia berbicara, suaranya lebih rendah, hampir seperti bisikan yang menyakitkan. "Karena ketidakteraturan adalah celah, Sela. Dan celah adalah tempat di mana pengkhianatan bermula."
Sela mengerutkan kening. "Saya tidak mengerti."
Adrian membuang muka, menatap ke arah kegelapan laut di luar jendela besar. "Sepuluh tahun lalu, aku melihat bagaimana sebuah kerajaan bisnis yang dibangun kakekku runtuh dalam semalam. Bukan karena fluktuasi pasar, tapi karena seorang wanita yang dianggap paling tepercaya oleh ayahku. Dia cantik, tampak polos, dan dia diberikan akses penuh ke segala halβterma**k hal-hal privat."
Adrian menjeda, otot rahangnya mengeras. "Dia tidak hanya mencuri rahasia dagang. Dia merusak ayahku dari dalam. Dia mempelajari setiap kelemahan, setiap inci dari kehidupan ayahku, lalu menggunakannya untuk menghancurkan kami. Sejak saat itu, aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan ada satu pun variabel dalam hidupku yang berada di luar kendaliku."
Sela tertegun. Ia melihat kerapuhan yang tersembunyi di balik topeng arogansi itu. "Jadi... ini semua tentang kendali? Anda memperlakukan saya seperti ini karena Anda takut saya akan mengkhianati Anda?"
Adrian kembali menatap Sela, kali ini dengan intensitas yang membuat lutut Sela lemas. "Jika aku tahu setiap det**l tentangmu, jika aku yang menentukan bagaimana kau berpenampilan, bagaimana kau merawat dirimu, bahkan bagaimana kau merasa... maka tidak ada kejutan yang bisa kau berikan padaku. Kau menjadi sesuatu yang bisa kuprediksi. Kau menjadi 'miliku' secara absolut, sehingga tidak ada ruang bagi orang lain untuk ma**k dan menggunakanmu melawanku."
"Tapi saya bukan benda, Pak," bisik Sela, matanya mulai berkaca-kaca. "Saya manusia. Anda tidak bisa memprogram kesetiaan dengan cara memaksa saya tunduk pada obsesi aneh ini."
"Mungkin," Adrian melangkah selangkah lebih dekat, mengikis jarak hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Ia mengangkat tangannya, jemarinya yang dingin menyentuh leher Sela, mengusap bekas kemerahan yang mungkin masih tersisa dari kegelisahan Sela sendiri. "Tapi dengan cara ini, aku merasa aman. Dan di duniaku, keamanan jauh lebih berharga daripada etika."
Sentuhan itu membuat bulu kuduk Sela meremang. Ada pertentangan hebat di dalam dirinya; ia membenci cara Adrian memperlakukannya sebagai objek, namun ada bagian dari dirinya yang terseret oleh luka yang baru saja pria itu tunjukkan. Sela melihat seorang pria yang sangat kesepian di balik kekuasaan yang luar biasa.
"Anda tidak perlu mengontrol setiap inci tubuh saya untuk mendapatkan kesetiaan saya, Adrian," ucap Sela, tanpa sadar menggunakan nama depan pria itu.
Adrian membeku saat mendengar namanya disebut. Matanya menggelap, bukan karena marah, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih berbahaya: hasrat yang selama ini ia bungkus dengan alasan 'kendali'.
"Kau bicara seolah kau punya pilihan, Sela," suara Adrian menjadi parau. Ia menarik tengkuk Sela perlahan, memaksa gadis itu mendongak. "Tapi kau sudah menandatangani kontrak itu. Kau sudah menerima semua kemewahan ini. Dan sekarang, kau sudah tahu rahasiaku."
Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti. Sela bisa merasakan napas hangat Adrian di bibirnya. Keheningan malam itu terasa mencekam, hanya diisi oleh suara napas mereka yang saling memburu.
"Sekarang katakan padaku," bisik Adrian di depan bibir Sela, "apakah kau tetap akan setia karena kau ingin, atau karena kau memang sudah tidak punya tempat untuk lari lagi?"
Sebelum Sela sempat menjawab, pintu villa mereka diketuk dengan keras dari luar. Suara asisten senior Adrian, memecah ketegangan yang hampir meledak itu.
"Pak Adrian? Maaf mengganggu, tapi ada masalah darurat terkait pertemuan besok dengan investor Rusia. Mereka meminta perubahan lokasi... sekarang."
Adrian tidak melepaskan tatapannya dari mata Sela. Ia tetap memegang leher Sela selama beberapa detik tambahan, seolah enggan melepaskan kendali yang baru saja ia jelaskan. Saat ia akhirnya menjauh, Sela merasa seolah oksigen baru saja kembali ma**k ke paru-parunya.
"Tunggu di sini," perintah Adrian dingin, kembali menjadi bos yang tanpa emosi. "Jangan berani-berani mengganti pakaianmu atau menghapus apa pun yang sudah kuperintahkan untuk kau kenakan. Kita belum selesai."
Saat Adrian melangkah keluar, Sela terduduk di tepi ranjang yang luas. Ia menyentuh lehernya yang masih terasa panas bekas sentuhan Adrian. Ia baru saja mendapatkan kejujuran yang ia inginkan, namun kejujuran itu justru menjeratnya ke dalam labirin yang lebih gelap. Adrian tidak hanya menginginkan tubuhnya; dia menginginkan jiwanya agar dia bisa merasa aman.
Dan yang paling menakutkan bagi Sela adalah, sebagian kecil dari dirinya mulai merasa bahwa ia bersedia memberikan keduanya. Namun, jika investor Rusia itu mengubah rencana, apa lagi yang akan diminta Adrian darinya untuk memastikan 'keamanan' posisinya besok?
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!