Pena fount**n berlapis emas di tanganku terasa lebih berat dari biasanya. Aku sudah menandatangani ribuan kontrak bernilai triliunan rupiah tanpa berkedip, namun malam ini, lembaran kertas putih di hadapanku membuat telapak tanganku sedikit lembap. Di ruangan kerja pribadiku yang hanya diterangi lampu meja temaram, aku bisa mendengar detak jantungku sendiri—sesuatu yang jarang terjadi pada seorang Adrian yang dikenal berdarah dingin.
Aku melirik ke arah pintu yang tertutup rapat. Di balik sana, Sela mungkin sedang membereskan catatan perjalanannya atau menyiapkan kopi terakhirnya untukku sebelum ia beristirahat. Gadis itu. Sekretaris yang awalnya hanya kuanggap sebagai aset yang bisa dibentuk, kini telah menjadi anomali yang mengacaukan sistem logikaku.
Kejadian di jet pribadi dan malam-malam di Maldives masih membekas jelas di benakku seperti tato permanen. Aku menginginkannya, itu sudah pasti. Tapi obsesi ini mulai bermutasi menjadi sesuatu yang lebih berbahaya: rasa memiliki yang absolut. Aku tidak lagi ingin Sela hanya karena dia patuh. Aku ingin Sela karena dia adalah Sela.
Aku mulai menulis. Bukan bahasa hukum yang kaku, meski formatnya menyerupai dokumen resmi yang biasa ia kerjakan.
*Pasal 1: Identitas dan Kedudukan.*
Aku berhenti sejenak, menyesap wiski di sampingku. Cairan amber itu membakar tenggorokan, memberiku keberanian ekstra. Aku tidak bisa membiarkannya pergi setelah hutang keluarganya lunas. Aku tidak bisa membiarkannya kembali menjadi orang asing yang hanya menyapa "Selamat pagi, Pak Adrian" dengan formalitas yang menyiksa.
Pintu terbuka pelan. Sela ma**k dengan langkah ragu, membawa nampan berisi teh chamomile. Ia masih mengenakan kemeja kerjanya yang rapi, namun kancing teratasnya terbuka—sebuah det**l kecil yang ia lakukan sejak aku memintanya untuk tidak terlalu tertutup di depanku.
"Pak Adrian, ini tehnya. Apa ada lagi yang perlu saya siapkan sebelum saya kembali ke kamar?" suaranya lembut, namun aku menangkap getaran di sana. Ia selalu terlihat seperti rusa kecil yang waspada di hadapan singa.
"Duduklah, Sela," perintahku pelan, sambil menggerakkan dagu ke arah kursi kulit di depan mejaku.
Ia meletakkan nampan dan duduk dengan lutut yang rapat, tangannya bertautan di atas pangkuan. Ia menatap kertas di depanku dengan kening berkerut halus. "Apakah itu revisi jadwal untuk pertemuan besok?"
"Bukan," aku memutar kertas itu ke arahnya. "Ini adalah kontrak baru. Kontrak yang akan menggantikan semua kesepakatan rahasia yang pernah kita buat sebelumnya."
Sela tampak menahan napas. Wajahnya yang pucat tersiram cahaya lampu meja, menonjolkan sepasang mata bulat yang selalu tampak jujur. Ia mulai membaca, dan aku memperhatikan setiap perubahan ekspresinya.
"Poin kedua..." Sela membisikkan kata-kata itu, suaranya hampir tak terdengar. "Pihak Kedua tidak lagi diwajibkan melakukan instruksi fisik sebagai bentuk kepatuhan profesional, melainkan sebagai bentuk keinginan pribadi yang setara?"
Ia mendongak, matanya mencari jawaban di mataku. "Maksud Anda... saya tidak perlu lagi melakukan 'persiapan' itu?"
Aku berdiri, berjalan memutar meja, lalu bersandar di tepiannya tepat di depan tempatnya duduk. Aku mencondongkan tubuh, menjebaknya dengan aroma maskulin yang kulihat selalu membuatnya sedikit pening.
"Aku menghapus semua batasan profesional itu, Sela," bisikku, tanganku terangkat untuk menyelipkan sehelai rambut di belakang telinganya. Jariku sengaja berlama-lama di kulit lehernya yang halus, membuat napasnya tersentak. "Aku tidak ingin kau melakukannya karena takut padaku, atau karena kau merasa berhutang budi. Aku ingin kau melakukannya karena kau menginginkanku sama besarnya dengan aku menginginkanmu."
Sela menelan ludah, jakunnya bergerak naik turun dengan cantik. "Tapi, Pak... saya hanyalah sekretaris Anda. Dunia kita—"
"Dunia kita adalah apa pun yang aku katakan," potongku tegas. "Lihat poin terakhir."
Sela menunduk lagi, jarinya gemetar saat menunjuk baris terakhir di kertas itu. *Pihak Pertama berkomitmen untuk memberikan perlindungan, loyalitas, dan status yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun.*
"Ini bukan kontrak kerja, Sela," kataku lagi, suaraku kini lebih rendah dan penuh penekanan. "Ini adalah deklarasi kepemilikan. Aku ingin kau menjadi milikku, bukan sebagai bawahan, tapi sebagai pasanganku. Tanpa sandiwara, tanpa intimidasi hutang."
Hening menyelimuti ruangan itu selama beberapa saat. Aku bisa melihat pergulatan batin di matanya. Antara rasa takut yang sudah mengakar dan ketertarikan yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng profesionalitasnya.
Sela perlahan mengambil pena yang tadi kugunakan. Ia menatapku sekali lagi, seolah mencari kepastian apakah ini hanyalah jebakan lain atau sebuah kejujuran yang langka.
"Jika saya menandatangani ini," suaranya mulai stabil, meski matanya berkaca-kaca, "apakah itu berarti saya punya hak untuk melarang Anda dekat dengan wanita lain? Seperti yang Anda lakukan pada saya?"
Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang kuberikan pada siapa pun. "Kau bukan hanya punya hak, Sela. Kau punya kendali penuh atas diriku mulai detik ini."
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Sela membubuhkan tanda tangannya di samping tanda tanganku. Kontrak itu resmi. Ia bukan lagi sekadar alat untuk memuaskan obsesiku; ia adalah kelemahanku yang paling berharga.
Aku menarik kursinya mendekat, membuat lutut kami bersentuhan. Aku meraih dagunya, memaksanya menatap langsung ke dalam kegelapan mataku. "Sekarang, karena kau sudah menandatanganinya, ada satu aturan tidak tertulis yang harus kau pelajari."
"Apa itu?" bisiknya.
"Jangan pernah mengira bahwa menjadi kekasihku akan membuatku melepaskanmu dengan mudah," aku mendekatkan bibirku ke telinganya, membiarkan napas panas ini membuatnya merinding. "Justru sekarang, aku punya alasan legal untuk memastikan kau tidak akan pernah bisa lari dariku."
Tepat saat aku hendak menciumnya untuk merayakan 'kesepakatan' baru ini, ponsel di atas meja bergetar hebat. Sebuah pesan muncul di layar, berasal dari nomor yang tidak kukenal.
*“Adrian, kau pikir kontrak kertas bisa melindunginya dari apa yang akan kulakukan pada keluarganya? Permainan ini baru saja dimulai.”*
Sela melihat pesan itu. Wajahnya yang tadi mulai merona seketika berubah menjadi sepucat kertas di hadapan kami. Cengkeramanku pada pinggangnya mengerat. Seseorang baru saja menabuh genderang perang di saat aku baru saja menemukan sesuatu yang layak untuk diperjuangkan.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!