Aku menyesap wiski berumur dua puluh tahun itu dengan perlahan, membiarkan cairan hangatnya membakar tenggorokan saat aku menatap pemandangan kota Jakarta dari dinding kaca kantorku di lant** lima puluh. Namun, pikiranku tidak sedang berada pada laporan akuisisi yang berserakan di atas meja m***gani di belakangku. Pikiranku tertuju pada satu nama: Sela.
Gadis itu adalah definisi dari efisiensi yang membosankan. Selalu tepat waktu, selalu rapi, dan selalu patuh. Tapi kepatuhan itu jugalah yang memicu insting predator dalam diriku. Aku ingin tahu sejauh mana dia bisa ditarik sebelum dia akhirnya patah. Atau lebih baik lagi, sejauh mana dia bersedia menyerahkan dirinya demi loyalitas buta yang dia agung-agungkan itu.
Ketukan di pintu terdengar—tiga kali, ritme yang sangat kukenali. Tenang dan terukur.
"Ma**k," ucapku tanpa menoleh.
Suara gesekan sepatu hak tingginya di atas lant** marmer terdengar mendekat. Aku bisa mencium aroma parfumnya—sesuatu yang ringan, seperti bunga lili setelah hujan. Aroma yang terlalu polos untuk rencana yang sedang kusisipkan di balik perjalanan bisnis ke Maldives ini.
"Pak Adrian, ini berkas jadwal akhir untuk kunjungan ke resor Maafushivaru. Semua logistik sudah siap, dan jet pribadi akan lepas landas besok pagi pukul sembilan," suara Sela terdengar stabil, namun ada getaran halus di ujung kalimatnya yang tidak bisa ia sembunyikan dariku.
Aku berbalik perlahan, meletakkan gelas wiski ke atas meja. Sela berdiri di sana, memegang map dengan jemari yang sedikit memucat karena genggamannya yang terlalu erat. Tatapannya tertuju pada sepatuku, sebuah kebiasaan yang biasanya kuanggap sebagai rasa hormat, tapi malam ini, aku menginginkan lebih.
"Sudah kau baca instruksi tambahanku, Sela?" tanyaku datar, melangkah mendekat hingga jarak di antara kami hanya tersisa satu meter.
Sela menelan ludah. Jakunnya yang kecil bergerak naik turun—sebuah pemandangan yang entah bagaimana membuatku merasa haus lagi. "Sudah, Pak."
"Dan?"
"Saya... saya sedang mengerjakannya, Pak. Semua instruksi mengenai... persiapan pribadi saya," jawabnya pelan, suaranya nyaris berbisik. Wajahnya mulai merona merah, kontras sekali dengan kemeja putihnya yang dikancingkan hingga ke atas.
Aku mengamati penampilannya. Dia masih Sela yang sama—sekretaris yang terkunci rapat dalam seragam profesionalnya. Namun, bayangan tentang apa yang dia lakukan di balik pintu apartemennya untuk memenuhi permintaanku membuat darahku berdesir. Aku memintanya untuk melakukan prosedur perawatan tubuh yang sangat spesifik, sangat intim, dan sangat teliti. Alasan resmiku? Standar estetika perusahaan untuk tamu-tamu VIP di Maldives. Alasan sebenarnya? Aku ingin dia merasa bahwa setiap inci kulitnya adalah milikku sebelum aku benar-benar menyentuhnya.
"Kau keberatan?" tanyaku, memojokkannya dengan tatapan tajam. "Jika kau merasa itu melanggar kontrakmu, kau bisa berhenti sekarang juga. Tentu saja, konsekuensi penalti finansialnya tetap berlaku."
Sela mendongak, matanya yang besar dan jernih bertemu dengan mataku. Ada ketakutan di sana, tapi juga ada tekad yang nekat. "Tidak, Pak. Saya tidak keberatan. Saya akan memastikan semuanya sesuai dengan standar yang Bapak minta. Saya... saya loyal pada posisi saya."
Loyalitas. Kata itu terdengar seperti mantera baginya, tapi bagiku, itu adalah undangan.
Aku berjalan melingkarinya, seperti seekor serigala yang mengitari mangsa yang sudah menyerah. "Bagus. Karena aku tidak mentoleransi ketidakteraturan, Sela. Apalagi untuk sesuatu yang menyangkut presentasi fisik di hadapan klien-klienku. Kau adalah perpanjangan tanganku. Jika kau tidak sempurna, maka aku terlihat tidak sempurna."
Aku berhenti tepat di belakangnya. Aku bisa mencium aroma samponya lebih jelas sekarang. Tanganku gatal ingin menyentuh tengkuknya yang terbuka, tempat beberapa helai rambut kecil melarikan diri dari sanggulnya yang rapi.
"Apakah kau sudah mulai melakukan eksfoliasi yang kuminta? Dan... bagian lainnya?" bisikku tepat di dekat telinganya.
Aku melihat bulu kuduknya meremang. Sela memejamkan mata sesaat, bahunya sedikit gemetar. "Sudah, Pak. Malam ini... saya akan menyelesaikan sisanya."
"Pastikan kau melakukannya dengan teliti. Aku akan tahu jika kau melewatkan satu inci pun," ancamku lembut, sebuah janji yang lebih mirip peringatan.
Sela mengangguk patah-patah. "Baik, Pak. Jika tidak ada lagi, saya permisi untuk menyiapkan barang bawaan saya."
"Perg***h," kataku, kembali ke meja kerjaku. "Dan Sela?"
Dia berhenti di ambang pintu, menoleh ragu-ragu.
"Pakailah gaun sutra hitam yang kukirim ke apartemenmu untuk penerbangan besok. Aku tidak ingin melihatmu memakai setelan kantor yang kaku itu di dalam jet pribadiku."
"Tapi Pak, itu... gaunnya sedikit terlalu—"
"Itu adalah perintah, Sela. Bukan saran," potongku dingin.
Setelah dia menutup pintu, aku kembali menuangkan wiski. Tanganku sedikit bergetar, sesuatu yang jarang terjadi. Aku harus menjaga kendali ini. Aku harus tetap menjadi bos yang dingin dan tak tersentuh, meskipun di dalam kepala, aku sudah membayangkan bagaimana jemariku akan menelusuri hasil dari 'persiapan' yang kulakukan padanya.
Besok, di ketinggian tiga puluh ribu kaki, tidak akan ada lagi meja kantor yang memisahkan kami. Tidak akan ada staf lain yang menginterupsi. Hanya ada aku, dia, dan kontrak yang telah dia tanda tangani dengan darah dan air matanya sendiri.
Aku tersenyum tipis ke arah kegelapan malam. Besok, aku akan melakukan inspeksi kualitas secara langsung. Dan aku tidak berencana untuk bersikap baik jika dia melewatkan satu det**l kecil pun.
Telepon genggamku bergetar. Sebuah notifikasi dari tim keamanan jet pribadiku mengonfirmasi bahwa semua persiapan teknis telah selesai. Namun, satu-satunya persiapan yang benar-benar kupedulikan adalah persiapan yang sedang dilakukan Sela saat ini di kamar mandinya yang sepi.
Besok, Sela akan menyadari bahwa kontrak ini bukan hanya tentang pekerjaan. Ini tentang kepemilikan total. Dan aku tidak sabar untuk melihat ekspresi di wajah polosnya saat dia menyadari bahwa 'merapikan diri' hanyalah awal dari permainan yang jauh lebih gelap yang telah kusiapkan untuknya di pulau terpencil itu.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!