Kontrak Privat: Obsesi Sang CEO

Bab 4: Bab 4 - Melakukan instruksi Adrian di rumah (menc**ur a...

Pengaturan Membaca

Lampu kamar mandi yang berwarna putih terang terasa menyilaukan, memantul pada ubin keramik yang dingin di bawah telapak kaki te*******ku. Aku menatap pantulan diriku di cermin besar di atas wastafel. Wajahku tampak pucat, mataku sedikit sembab karena kurang tidur, tapi ada rona merah yang tidak bisa kusembunyikan di kedua pipiku.

Di atas meja wastafel, sebuah kantong belanja kecil dari butik kecantikan ternama tergeletak dengan angkuh. Isinya adalah perlengkapan yang diminta Adrianβ€”bukan, yang *diperintahkan* Adrianβ€”untuk kupersiapkan sebelum perjalanan kami ke Maldives esok hari. Ada krim c**ur beraroma vanilla yang lembut, minyak penenang kulit berbahan dasar botanika, dan satu set pisau c**ur premium dengan bilah yang tampak sangat tajam.

"Bersihkan semuanya, Sela. Saya tidak suka ketidakteraturan, bahkan di balik pakaianmu."

Suara bariton Adrian yang berat dan tanpa ekspresi itu kembali bergema di kepalaku, membuat bulu kudukku meremang. Bagaimana mungkin seorang pria bisa memberikan instruksi seintim itu dengan nada yang sama saat dia mendiktekan laporan kuartalan perusahaan?

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantung yang mengg***. Tanganku gemetar saat meraih botol krim c**ur itu. Teksturnya dingin dan lembut saat kusapukan ke area yang selama ini hampir tidak pernah kusentuh dengan perhatian sebesar ini. Rasa malu menyerangku bertubi-tubi. Aku merasa seolah-olah Adrian sedang berdiri di sudut kamar mandi ini, mengawasiku dengan mata elangnya yang tajam dan menghakimi, memastikan setiap gerakanku presisi sesuai standarnya.

Saat aku mulai menggerakkan pisau c**ur itu dengan sangat hati-hati, aku meringis. Cermin ini seolah menjadi saksi bisu betapa rendahnya harga diriku telah jatuh demi sebuah kontrak kerja dan pelunasan hutang keluarga. Namun, di saat yang sama, ada sensasi aneh yang menggelitik di perut bawahku. Sebuah perasaan terlarang yang tidak berani kunamai.

Setiap tarikan pisau itu membuat kulitku terasa sangat sensitif. Aku harus membungkuk, mencari posisi yang paling nyaman sekaligus efektif, yang justru membuatku merasa sangat terekspos dan rentan. Aku sempat kehilangan keseimbangan, tumitku tergelincir di lant** yang sedikit basah, membuat jantungku hampir mencelat keluar.

"Sial," bisikku pelan, menyeka butiran keringat di dahi dengan punggung tangan.

Pikiranku mulai berkelana liar. Mengapa Adrian menginginkan ini? Apakah ini hanya bentuk obsesinya terhadap kontrol dan kebersihan, atau ada sesuatu yang lebih gelap di balik permintaannya? Aku membayangkan tangan Adrian yang besar dan hangat, dengan urat-urat yang menonjol di punggung tangannya, menyentuh hasil kerjaku malam ini. Bayangan itu membuat napas Kasarku tertahan. Aku bisa membayangkan jemarinya yang panjang menelusuri permukaan kulitku yang kini menjadi halus, memeriksa kepatuhanku dengan ketelitian yang menyakitkan.

Sensasi panas menjalar dari wajah hingga ke seluruh tubuhku. Aku memejamkan mata sejenak, membiarkan uap air yang hangat menyelimutiku, sementara fantasiku tentang bosku itu semakin liar. Aku membayangkan dia menatapku bukan sebagai sekretaris yang cekatan, melainkan sebagai sesuatu yang dia miliki sepenuhnya. Milik Adrian.

Setelah hampir satu jam bergelut dengan kecanggungan fisik dan gejolak batin, akhirnya aku selesai. Aku memba**h area itu dengan air hangat, lalu mengaplikasikan minyak penenang yang harumnya sangat mewahβ€”campuran antara cendana dan mawar yang halus. Kulitku terasa sangat berbeda. Begitu ringan, begitu sensitif terhadap gesekan kain handuk yang kugunakan untuk mengeringkan diri.

Aku keluar dari kamar mandi dengan kaki yang terasa lemas. Di atas tempat tidur, koper kecilku sudah terbuka, berisi pakaian-pakaian yang juga telah dikurasiβ€”pakaian yang jauh lebih berani daripada yang biasa kukenakan di kantor. Adrian ingin aku tampil sempurna di Maldives, dan aku telah memenuhi bagian pertama dari instruksinya.

Aku merebahkan diri di ranjang, menatap langit-langit kamar yang gelap. Jantungku masih berdetak dengan ritme yang tidak beraturan. Besok pagi, aku tidak akan berangkat ke bandara sebagai Sela sang sekretaris yang membosankan. Aku akan berangkat sebagai wanita yang telah dipersiapkan secara khusus untuk memuaskan obsesi seorang Adrian.

Tiba-tiba, ponselku di atas nakas bergetar. Sebuah notifikasi pesan ma**k muncul di layar yang terang.

*Adrian: Apakah instruksi saya sudah dilaksanakan dengan benar? Jangan membuat saya kecewa besok pagi, Sela.*

Tanganku mencengkeram sprei dengan erat. Pesan itu bukan sekadar pertanyaan, itu adalah peringatan. Besok, di atas jet pribadinya menuju Maldives, aku tahu dia tidak akan hanya menerima jawaban lisan dariku. "Inspeksi kualitas" yang dia katakan tadi sore bukan sekadar gertakan. Aku menelan ludah, membayangkan ruang sempit dan privat di dalam jet itu, di mana tidak akan ada tempat bagiku untuk bersembunyi dari tatapannya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca