Kontrak Privat: Obsesi Sang CEO

Bab 5: Bab 5 - Memastikan Sela siap untuk keberangkatan besok ...

Pengaturan Membaca

Gelas kristal berisi cairan amber di tangan Adrian terasa dingin, sangat kontras dengan hawa panas yang perlahan-lahan merayap di balik kemeja mahalnya. Ia menyandarkan punggung pada kursi kerja ergonomis di ruang kerjanya yang luas, menatap pemandangan malam Jakarta dari lant** lima puluh. Lampu-lampu kota yang berkelap-kelip biasanya memberikan ketenangan, sebuah pengingat akan kekuasaan yang ia genggam di ujung jemarinya. Namun malam ini, fokusnya terpecah.

Di layar monitor di depannya, sebuah draf kontrak merger bernilai triliunan rupiah terbuka lebar. Adrian adalah pria yang memuja presisi. Satu koma yang salah letak bisa membuatnya murka. Namun, sudah sepuluh menit berlalu dan ia masih terjebak pada paragraf yang sama. Matanya membaca kata-kata itu, tetapi otaknya memvisualisasikan hal lain.

Ia membayangkan Sela.

Lebih spesifik lagi, ia membayangkan Sela yang sedang menjalankan instruksi-instruksi "tambahan" yang ia berikan dua hari lalu. Adrian tahu ia telah melampaui batas profesionalisme, tetapi melihat Sela—yang selalu rapi, kaku, dan penurut—menerima daftar instruksi intim itu dengan wajah memucat namun tetap mengangguk patuh, memberinya kepuasan yang tidak bisa dibeli dengan saham mana pun.

Adrian meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja jati. Ia membuka aplikasi pesan singkat. Nama "Sela – Sekretaris" ada di barisan paling atas. Ia memperhatikan status *last seen* gadis itu. Lima menit yang lalu.

Jempol Adrian bergerak di atas layar, ragu sejenak sebelum egonya mengambil alih. Ia ingin tahu sejauh mana gadis itu tunduk padanya. Ia ingin tahu apakah Sela benar-benar menyiapkan tubuhnya sesuai dengan standar yang ia tetapkan untuk perjalanan ke Maldives besok pagi.

*“Sudah selesai dengan persiapanmu?”* tulis Adrian.

Pesan itu terkirim. Satu centang berubah menjadi dua biru hampir seketika. Adrian bisa membayangkan Sela di apartemen kecilnya, mungkin sedang melompat kaget saat mendengar notifikasi dari bosnya di jam sebelas malam.

*“Sudah, Pak. Semua dokumen keberangkatan dan reservasi hotel sudah saya pastikan kembali,”* balas Sela dalam waktu singkat.

Adrian mendengus kecil. Jawaban yang sangat profesional. Sangat membosankan. Ia memutar-mutar gelas wiskinya, memperhatikan bagaimana cairan itu membasahi dinding kaca.

*“Bukan itu yang saya tanyakan, Sela. Kamu tahu persis bagian mana yang saya maksud.”*

Butuh waktu lebih lama bagi Sela untuk membalas kali ini. Adrian membayangkan jemari lentur gadis itu gemetar di atas layar ponsel. Keheningan di ruangan itu seolah menebal, hanya detak jam dinding yang mengisi kekosongan. Obsesi ini mulai mengganggunya. Seharusnya ia memikirkan presentasi besok, bukan membayangkan tekstur kulit sekretarisnya setelah menjalani perawatan yang ia perintahkan.

*“Saya... saya sudah melakukannya, Pak. Sesuai instruksi tertulis yang Bapak berikan,”* balas Sela akhirnya.

Adrian menegakkan duduknya. Pupil matanya melebar. *“Semuanya? Terma**k pembersihan di area yang paling sensitif? Tanpa sisa?”*

Pertanyaan itu vulgar, ia tahu. Namun, ada dorongan gelap dalam dirinya yang ingin meruntuhkan pertahanan Sela, ingin mengoyak topeng profesionalitas yang selalu gadis itu pakai. Adrian ingin memastikan bahwa di bawah blus kerjanya yang kancingnya selalu tertutup rapat, Sela telah bertransformasi menjadi mahakarya yang siap ia nikmati.

Menit demi menit berlalu tanpa balasan. Adrian merasa dadanya sesak oleh antisipasi yang tidak ma**k akal. Ia meletakkan gelas wiskinya dengan kasar ke meja hingga terdengar bunyi denting yang tajam. Ia terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan secara instan. Keheningan Sela adalah sebuah pembangkangan kecil yang justru menyulut api di dalam dirinya.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar.

*“Sudah, Pak. Semuanya bersih... sesuai permintaan Bapak.”*

Adrian memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang yang terasa panas. Imajinasi liar mulai bermain di kepalanya. Sela yang polos, Sela yang selama ini hanya ia lihat dari balik tumpukan dokumen, kini telah "dirapikan" sesuai seleranya. Ia bisa membayangkan rasa malu yang menyelimuti gadis itu saat mengetik pesan tersebut.

Ia kembali mengetik, jarinya bergerak cepat seolah didorong oleh impuls yang tak terbendung.

*“Bagus. Besok pagi jam enam, jet pribadi saya akan berangkat. Jangan ada keterlambatan sesenti pun. Saya tidak suka menunggu.”*

Ia menjeda sejenak, lalu menambahkan satu kalimat lagi yang ia tahu akan membuat Sela tidak bisa tidur malam ini.

*“Dan pastikan kamu mengenakan pakaian yang memudahkan saya untuk melakukan inspeksi kualitas segera setelah kita lepas landas. Saya harus memastikan kamu tidak berbohong soal 'kepatuhan' ini.”*

Adrian melempar ponselnya ke atas meja. Jantungnya berdegup kencang, sebuah sensasi yang jarang ia rasakan bahkan saat memenangkan negosiasi bisnis tersulit sekalipun. Ia tahu ia telah melangkah terlalu jauh ke dalam kegelapan, tetapi ia tidak berniat untuk kembali.

Besok, di ketinggian tiga puluh ribu kaki, Sela tidak akan punya tempat untuk bersembunyi. Dan Adrian akan memastikan bahwa setiap inci dari kepatuhan gadis itu akan ia buktikan sendiri.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca