Udara dingin dari pendingin ruangan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta biasanya memberikan rasa nyaman yang menenangkan bagi Sela. Namun pagi ini, hembusan angin artifisial itu justru membuat bulu kuduknya meremang. Setiap kali ia melangkah, gesekan halus antara kain sutra pakaian dalamnya dengan kulitnya yang kini terasa jauh lebih sensitif mengirimkan sinyal aneh ke otaknya.
Sela mengeratkan pegangannya pada gagang koper kabinnya. Ia mengenakan setelan blazer dan rok pensil berwarna abu-abu arang yang sangat profesional, potongan yang selalu membuatnya merasa berdaya. Tapi hari ini, pakaian itu terasa seperti kedok. Di balik kain mahal tersebut, Sela tahu tubuhnya telah berubah. Perintah Adrianβinstruksi det**l tentang bagaimana ia harus 'merapikan diri' hingga ke bagian paling privatβmasih terngiang jelas di kepalanya seperti mantra yang menghantui.
"Fokus, Sela. Kamu di sini untuk bekerja," bisiknya pada diri sendiri, suaranya nyaris tenggelam oleh kebisingan bandara yang mulai ramai.
Ia memeriksa jam tangannya untuk yang kesepuluh kalinya dalam lima menit. Adrian benci ketidakteraturan, dan keterlambatan adalah dosa besar baginya. Sela berdiri di dekat pilar besar di area keberangkatan internasional, mencoba mengatur napasnya yang pendek-pendek.
Tiba-tiba, aroma kayu cendana dan *citrus* yang tajam namun elegan menyeruak ma**k ke indra penciumannya sebelum sosok pemilik aroma itu terlihat. Jantung Sela mencelus. Ia menoleh dan mendapati Adrian melangkah ke arahnya. Pria itu tampak luar biasa dalam balutan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kokohnya. Kacamata hitam menutupi matanya, tapi Sela bisa merasakan intensitas tatapan itu bahkan dari balik lensa gelap.
"Kau datang lebih awal," suara berat Adrian memecah keheningan di antara mereka.
"P-pagi, Pak Adrian. Ya, saya tidak ingin mengambil risiko dengan kemacetan," jawab Sela, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil, meskipun lututnya terasa sedikit lemas.
Adrian tidak langsung membalas. Ia berdiri c**up dekat, membiarkan auranya yang mendominasi menyelimuti Sela. Pria itu kemudian menurunkan kacamata hitamnya sedikit, membiarkan mata elangnya menelusuri penampilan Sela dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sela merasa seolah-olah pakaiannya tembus pandang di bawah tatapan itu. Ia teringat betapa telitinya ia mengikuti instruksi Adrian semalam; rasa perih yang samar dan kehalusan yang tak biasa pada kulitnya membuat wajahnya memanas seketika.
"Kau terlihat... rapi, Sela," ucap Adrian pelan, ada nada rendah dalam suaranya yang membuat perut Sela bergejolak. "Apakah kau melakukan semua yang aku instruksikan tanpa melewatkan satu poin pun?"
Sela menelan ludah dengan susah payah. Di sekeliling mereka, orang-orang berlalu-lalang, sibuk dengan urusan masing-masing, tak menyadari percakapan intim yang sedang berlangsung. "Sudah, Pak. Semuanya sesuai dengan dokumen yang Bapak berikan."
Adrian maju satu langkah lebih dekat. Sela bisa merasakan kehangatan yang terpancar dari tubuh pria itu. "Bagus. Karena aku tidak menyukai ketidakteraturan, terutama dalam hal-hal yang sudah aku tentukan standarnya."
"Saya mengerti," bisik Sela, matanya terpaku pada simpul dasi Adrian yang sempurna karena ia tak berani menatap mata pria itu.
"Kita akan langsung menuju terminal jet pribadi. Prosedur *check-in* sudah diurus," ujar Adrian sambil berbalik, memberi isyarat agar Sela mengikutinya.
Saat mereka berjalan menyusuri koridor bandara yang eksklusif, Sela terus-menerus merasa sadar akan dirinya sendiri. Setiap gerakan pahanya, setiap ayunan lengannya, mengingatkannya pada persiapan intim yang telah ia lakukan. Ia merasa seperti sebuah mahakarya yang sedang dipamerkan, namun hanya sang penciptanya yang tahu det**l tersembunyi di dalamnya.
Pikirannya melayang pada apa yang akan terjadi di Maldives nanti. Perjalanan bisnis ini seharusnya tentang akuisisi lahan dan kontrak kerja sama, tapi kontrak 'privat' yang ia tandatangani seolah menelan semua agenda profesionalnya.
Mereka sampai di depan pintu ma**k menuju *lounge* jet pribadi. Petugas menyapa Adrian dengan hormat yang luar biasa, sementara Sela hanya bisa berdiri kaku di sampingnya. Sela mencoba menyibukkan diri dengan memeriksa tabletnya, memeriksa jadwal pertemuan, tapi huruf-huruf di layar itu tampak kabur.
"Kau tampak gelisah, Sela," Adrian berkomentar tanpa menoleh, sambil menerima segelas kopi hitam dari pramugari yang menyambut mereka di pintu ma**k jet.
"Hanya... sedikit gugup karena ini perjalanan bisnis pertama saya ke luar negeri bersama Bapak," dusta Sela, meskipun sebagian darinya memang benar.
Adrian berhenti tepat di depan tangga pesawat. Ia berbalik, menatap Sela dengan tatapan yang kini lebih dingin namun penuh selidik. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan bersih menyentuh dagu Sela, memaksa gadis itu untuk menatapnya.
"Jangan berbohong padaku. Kau gelisah karena kau tahu apa yang menantimu di atas sana," ucap Adrian dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Sela. "Kau sudah menyiapkan tubuhmu sesuai standarku, bukan? Sekarang, aku ingin tahu apakah hasilnya sepadan dengan ekspektasiku."
Darah Sela terasa berdesir hebat ke wajahnya. Jantungnya berdegup kencang hingga ia takut Adrian bisa mendengarnya. Adrian melepaskan dagunya dan memberikan senyum tipis yang penuh teka-tekiβsenyum yang tidak menjanjikan kelembutan, melainkan tuntutan.
"Naiklah. Begitu kita berada di ketinggian tiga puluh ribu kaki, aku akan melakukan inspeksi pertamaku."
Sela terpaku di tempatnya. Kata 'inspeksi' itu menggantung di udara, lebih berat daripada ancaman apa pun yang pernah ia terima. Ia melihat punggung tegak Adrian yang menaiki tangga pesawat dengan penuh wibawa, dan dengan tangan gemetar, Sela melangkah maju, menyadari bahwa begitu pintu jet itu tertutup, ia bukan lagi sekadar sekretaris, melainkan subjek dari obsesi sang CEO.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!