Langkah kakiku terasa berat saat menaiki tangga metal jet pribadi yang berkilau di bawah lampu remang-remang hanggar pribadi itu. Angin malam bertiup kencang, menyapu helai rambutku yang terlepas dari gelungan rapi, tapi rasa dingin itu tidak sebanding dengan gemuruh yang berdebam di dalam dadaku. Aku meremas tali tas tanganku erat-erat, seolah benda itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang siap menelanku.
Begitu melangkah ma**k ke dalam kabin, aroma yang sangat kukenal langsung menyergap indra penciumanku: perpaduan antara kayu cendana yang mahal, aroma kulit kursi yang baru, dan sesuatu yang dingin namun memikatβaroma khas Adrian.
Pintu jet tertutup di belakangku dengan suara klik yang final, memutus koneksiku dengan dunia luar yang normal. Di sini, di dalam ruang kedap suara yang melaju ribuan kaki di atas bumi, hanya ada aku dan dia.
"Duduklah, Sela. Kita akan segera lepas landas."
Suara bariton itu datang dari arah kursi *capt**nβs chair* di sisi kanan. Adrian tidak mendongak dari tablet di tangannya, tapi aku bisa merasakan kehadirannya yang mendominasi seluruh ruangan. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan otot lengannya yang kokoh dan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya yang kuat.
Aku berjalan dengan kaku, mencoba mengabaikan bagaimana tumit sepatuku tenggelam ke dalam karpet tebal yang empuk. Aku memilih kursi yang berseberangan dengannya, berharap jarak dua meter ini bisa memberikan ruang untukku bernapas. Namun, kabin jet yang mewah ini terasa mengecil. Interior berwarna krem dan aksen emas yang biasanya melambangkan kemewahan, kini justru terasa seperti dinding penjara yang sangat indah.
"Kau tampak gelisah," ucapnya tiba-tiba, matanya yang tajam sekarang tertuju padaku. Tatapannya bukan sekadar melihat, tapi seolah sedang membedah setiap lapisan pakaian yang kukenakan.
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. "Hanya... pertama kalinya saya naik jet pribadi sepertinya ini, Pak."
Adrian meletakkan tabletnya di meja kecil di sampingnya. Ia menyandarkan punggungnya, satu kaki disilangkan dengan sant**, namun matanya tetap terkunci padaku. "Benarkah? Atau kau sedang memikirkan instruksi yang kuberikan sebelumnya?"
Wajahku seketika memanas. Ingatan tentang apa yang kulakukan di kamar mandi apartemenku beberapa jam yang laluβmematuhi setiap instruksi det**l yang ia kirimkan melalui pesan singkatβmembuat jemariku gemetar di pangkuan. Kulitku masih terasa sensitif, bersih, dan... siap. Persis seperti yang ia minta.
"Saya sudah melakukan semuanya, Pak," bisikku hampir tak terdengar, menundukkan kepala karena tak sanggup menatap matanya yang mengintimidasi.
"Semuanya?" ia mengulang, suaranya kini lebih rendah, lebih serak.
Jet mulai bergerak perlahan di landasan pacu. Getaran mesin yang halus merambat melalui lant**, naik ke kursiku, dan seolah beresonansi dengan getaran di dalam tubuhku sendiri. Aku hanya bisa mengangguk pelan.
"Bagus," ucapnya pendek. "Karena aku tidak suka ketidakteraturan, Sela. Kau tahu itu. Keberhasilan perjalanan bisnis ini bergantung pada seberapa presisi kau mengikuti setiap arahanku."
Saat pesawat mulai melaju kencang untuk lepas landas, tekanan gravitasi mendorong punggungku ke sandaran kursi yang empuk. Jantungku berpacu seiring dengan kecepatan mesin yang meningkat. Saat hidung pesawat mendongak ke langit, aku menutup mata rapat-rapat, mencengkeram lengan kursi. Perasaan melayang yang aneh ini membuatku pusing, atau mungkin itu adalah antisipasi terhadap apa yang akan terjadi setelah lampu tanda sabuk pengaman dipadamkan.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyesakkan, hanya ada suara dengung mesin yang konstan. Begitu jet sudah stabil di ketinggian jelajah, suara denting halus menandakan lampu sabuk pengaman telah mati.
Adrian berdiri.
Gerakannya begitu luwes dan tenang, kontras dengan hatiku yang sedang berperang. Ia melangkah mendekat ke arah bar kecil yang ada di tengah kabin, menuangkan cairan amber ke dalam dua gelas kristal. Ia tidak kembali ke kursinya. Alih-alih, ia berjalan perlahan ke arahku, berdiri tepat di depanku sehingga aku terpaksa mendongak untuk melihatnya.
Ia memberikan satu gelas kepadaku. Ujung jari kami bersentuhan saat aku menerimanya, dan sensasi listrik itu membuatku hampir menjatuhkan gelas tersebut.
"Minumlah. Kau butuh sesuatu untuk menenangkan sarafmu," perintahnya.
Aku menyesap minuman keras itu. Rasa terbakar yang hangat menjalar di tenggorokan, sedikit meredakan keteganganku, namun tidak banyak membantu saat Adrian tiba-tiba berlutut di depanku, satu tangan bertumpu pada lengan kursiku, mengurungku dalam ruang pribadinya.
"Pak Adrian..." napasku tertahan.
"Tadi kau bilang sudah melakukan semuanya, Sela," bisiknya, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari wajahku. Aku bisa mencium aroma alkohol ringan dari napasnya yang hangat. "Tapi dalam bisnis, aku tidak pernah hanya menerima laporan tertulis. Aku selalu melakukan verifikasi lapangan."
Tangan kirinya bergerak lambat, menyusuri lututku yang tertutup rok span hitam yang ketat, lalu naik sedikit demi sedikit ke atas pahaku. Sentuhannya terasa seperti api di atas kain tipis yang kukenakan.
"Aku perlu memastikan sendiri seberapa patuh sekretarisku ini sebelum kita mendarat di Maldives," gumamnya dengan suara yang penuh ancaman sekaligus gairah yang tertahan.
Tangannya berhenti di pinggiran rokku, jarinya mulai menyelinap ke bawah kain tersebut. Matanya menatapku lurus, menantangku untuk menolak, namun sekaligus tahu bahwa aku tak akan sanggup melakukannya.
"Sekarang," ucapnya pelan namun mutlak. "Tunjukkan padaku hasil kerjamu, Sela."
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!