Getaran halus mesin jet pribadi Gulfstream G650 ini seharusnya terasa menenangkan, sebuah dengung konstan yang menandakan kemewahan dan keamanan. Namun, bagi aku, suara itu terdengar seperti detak jam menuju eksekusi. Di depanku, meja kayu walnut yang dipoles mengkilap menampilkan layar laptop yang masih menyala, menunjukkan draf jadwal pertemuan di MalΓ© yang sama sekali tidak bisa kupahami maknanya saat ini. Mataku terpaku pada deretan angka, tetapi pikiranku tertinggal di apartemenku dua malam lalu, saat aku menahan rintih perih karena mengikuti instruksi tertulis yang dikirim Adrian melalui amplop cokelat tanpa nama.
"Sela."
Suara bariton itu rendah, hampir tenggelam oleh deru mesin, namun c**up tajam untuk membuat bahuku tersentak. Aku mendongak, menemukan Adrian sedang menyandarkan punggung di kursi kulitnya yang lebar. Ia baru saja menutup dokumen fisik di pangkuannya. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, menonjolkan otot lengan bawah yang kokoh dan jam tangan mewah yang melingkar dingin di pergelangan tangannya.
"Ya, Pak Adrian?" suaraku sedikit bergetar. Aku berusaha menjaga nada suaraku tetap profesional, seolah-olah jantungku tidak sedang menghantam rongga dada.
"Berhenti berpura-pura membaca laporan itu," ucapnya tenang, namun matanya yang setajam elang mengunci mataku. "Kau sudah menatap halaman yang sama selama lima belas menit."
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. "Maaf, Pak. Saya hanya sedang memastikan tidak ada det**l yang terlewat."
Adrian bangkit dari kursinya. Gerakannya elegan namun predatoris, mengingatkanku pada macan tutul yang sedang mengamati mangsa di ruang sempit. Ia berjalan perlahan mendekatiku. Ruang kabin yang luas ini tiba-tiba terasa menyusut. Bau parfumnyaβcampuran antara kayu cendana, kulit, dan sesuatu yang dingin seperti esβmulai memenuhi inderaku.
Ia berhenti tepat di samping kursiku, meletakkan satu tangannya di sandaran tangan kursiku, mengurungku. "Berbicara soal det**l," ia merendahkan suaranya, "bagaimana dengan persiapan yang aku instruksikan? Semuanya sudah selesai?"
Wajahku terasa panas membara. Aku menunduk, tidak berani menatapnya. Bayangan saat aku menghabiskan waktu berjam-jam di klinik kecantikan kelas atas yang ia tunjuk, rasa dingin gel ultrasonik, hingga rasa sensitif yang baru pada kulitku setelah prosedur *waxing* dan perawatan intim yang ekstrim itu, kembali memba****i ingatan.
"Sudah, Pak," bisikku hampir tak terdengar.
"Semuanya?" desaknya. Aku bisa merasakan tatapannya menyusuri leherku, berhenti pada denyut nadiku yang berpacu cepat di bawah kulit. "Terma**k perawatan kulit yang aku minta? Kelembutan yang aku syaratkan?"
"Iya, Pak. Semuanya sudah dilakukan sesuai... sesuai daftar."
Adrian tidak langsung menyahut. Keheningan yang mengikuti terasa lebih mengintimidasi daripada bentakan mana pun. Aku bisa mendengar deru napasnya yang teratur di dekat telingaku.
"Kau tahu, Sela," Adrian memulai, suaranya kini terdengar tepat di samping pelipis nuku, "dalam bisnis, aku tidak pernah menerima laporan tanpa bukti. Aku tidak pernah percaya pada kata-kata sebelum aku melakukan audit sendiri."
Aku mencengkeram rok span hitamku erat-erat. "Maksud... maksud Bapak?"
"Aku perlu memastikan bahwa investasi yang aku keluarkan untuk 'merapikan' sekretarisku membuahkan hasil yang sempurna," ia mengulurkan tangan, ujung jarinya yang dingin menyentuh daguku, memaksaku untuk menoleh dan menatap matanya yang gelap dan tanpa emosi. "Aku tidak suka kejutan di tengah jalan. Aku ingin memastikan kepatuhanmu sekarang juga."
Darahku seolah berhenti mengalir. "Di sini, Pak? Di atas pesawat?"
"Kita berada di ketinggian empat puluh ribu kaki, Sela. Tidak ada siapa pun selain kita di kabin utama ini," Adrian melepaskan daguku, namun tangannya kini beralih menyentuh bahuku, merayap turun ke lengan atas dengan gerakan yang sangat lambat, seolah sedang menilai tekstur kain kemejaku sebelum menyentuh kulit di baliknya. "Pindah ke sofa di belakang. Aku ingin memeriksa hasil pekerjaan klinik itu secara langsung."
Aku berdiri dengan kaki lemas. Setiap langkah menuju area *lounge* di bagian belakang jet terasa seperti berjalan menuju tepi jurang. Adrian mengikuti di belakangku, langkah kakinya berat dan berwibawa. Di area itu, lampu kabin sedikit lebih redup, menciptakan suasana privat yang menyesakkan.
Saat aku berbalik, Adrian sudah berdiri di depanku, jarak kami hanya beberapa sentimeter. Ia melepaskan kancing teratas kemejanya, memberikan kesan sant** yang justru jauh lebih mengancam.
"Buka kancing kemejamu, Sela," perintahnya datar. Tidak ada nada gairah dalam suaranya, hanya tuntutan otoritas yang mutlak. "Tunjukkan padaku seberapa patuh kau terhadap perintahku."
Tanganku terangkat ke leher, menyentuh kancing pertama kemeja kerjaku. Jemariku gemetar hebat, sampai-sampai aku kesulitan mengaitkan kancing kecil itu. Aku bisa melihat Adrian memperhatikan setiap gerak-gerikku dengan mata menyipit, seolah ia sedang menikmati setiap detik ketakutan dan keraguanku.
"Perlu bantuan?" tanyanya, melangkah maju satu tahap lagi hingga dadanya hampir bersentuhan dengan dadaku.
"Ti-tidak, Pak. Saya bisa sendiri," bisikku, akhirnya berhasil membuka satu kancing.
Saat kancing kedua dan ketiga terbuka, hawa dingin dari AC pesawat menerpa kulit dadaku yang kini jauh lebih halus dan sensitif dari biasanya. Aku merasa te******* di bawah tatapannya yang menguliti, meskipun aku masih mengenakan pakaian dalam. Adrian mengulurkan tangannya, bukan untuk membantu, melainkan untuk menyelipkan jemarinya ke celah kemejaku yang terbuka, menyentuh permukaan kulit di atas tulang selangkanganku.
Sentuhannya membuatku terlonjak kecil. Kulitnya terasa seperti api di atas salju.
"Kulitmu lebih lembut dari yang aku bayangkan," gumamnya, suaranya kini sedikit lebih berat. Jarinya bergerak turun, menelusuri garis b**-ku dengan presisi yang menyiksa. "Tapi itu hanya bagian atas. Aku ingin melihat apakah kau juga memperhatikan det**l pada bagian yang lebih... tersembunyi."
Ia menarik pinggangku mendekat, membuat tubuhku menempel sepenuhnya pada tubuh tegapnya. Aku bisa merasakan kekerasan ototnya dan panas yang terpancar dari tubuhnya. Kepalaku mendongak, mataku berkaca-kaca menatapnya, memohon belas kasihan sekaligus terhipnotis oleh dominasi yang ia pancarkan.
"Sela," bisiknya di depan bibirku, "jangan buat aku kecewa setelah semua biaya yang kukeluarkan untukmu. Tunjukkan sisanya."
Tangannya beralih ke pinggang rokku, mencari ritsleting di sana. Dunia di luar jendela pesawat hanyalah kegelapan dan awan, tetapi di dalam sini, sebuah kontrak yang jauh lebih intim dari sekadar pekerjaan baru saja dimulai secara paksa. Aku tahu, setelah ritsleting ini turun, tidak akan ada lagi jalan pulang bagi Sela yang polos.
Jantungku berdegup kencang saat aku merasakan tarikan pelan pada pengait rokku, dan Adrian menatapku seolah menantangku untuk menghentikannyaβatau justru memintanya untuk melanjutkan lebih jauh.
"Sekarang, Sela. Buktikan padaku."
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!